The Matchmakers

Lifya Q. Raida
Chapter #4

Home Truths

Mereka bertiga sepakat pulang bersama lalu berkumpul di rumah Keizha. Audri berusaha menenangkan dan menghibur Keizha di meja makan yang masih tampak murung dan tak ingin makan apa pun.

“Dari sekolah tadi, kamu belum makan apa pun,” komentar Audri prihatin. “Coba makan sedikit saja biar tambah tenaga. Kalau perut terus dibiarkan kosong, nanti kamu bisa sakit.”

Keizha tersenyum tipis lalu makan sesendok nasi dengan pelan. Sejak tahu orang tuanya akan segera berpisah dan kemungkinan jadi anak broken home, ia sama sekali tak punya selera makan. Semua makanan terasa hambar.

“Ayo ditambah lagi makannya,” ucap Audri mulai kesal sambil menambahkan nasi dan lauk di piring Keizha. Kesabarannya kian menipis dengan sikap sahabatnya itu yang terus-terusan sedih sampai lupa dengan kesehatan. Bagi Audri, kesehatan harus lebih diutamakan dari apa pun, kalau tidak mau menyesal nantinya.

Sementara Farid senang dan antusias sekali bisa kembali berkunjung ke rumah Keizha yang besar dan megah. Kapan dan di mana lagi bisa merasakan suasana rumah yang paling nyaman, sejuk, dan semua kebutuhan sehari-hari tersedia dengan lengkap kalau bukan di rumah sahabatnya yang terkadang seperti kurang bersyukur.

 Udara dari mesin pendingin ruangan membuatnya semakin betah duduk berlama-lama di kursi sofa yang empuk. Tidak seperti keadaan rumahnya yang sempit dan selalu terasa panas. Jangankan punya AC di rumah, minta dibelikan kipas angin bekas saja orang tuanya tak pernah mau. Selalu saja alasannya harus lebih hemat untuk keperluan yang lebih penting. Makanan yang disajikan di rumah Keizha selalu enak dan banyak. Jadi tak perlu pusing harus berbagi sama rata dengan yang lainnya. Ada daging, ayam dan aneka seafood yang katanya mahal itu. Tak seperti menu makanan di rumahnya yang lebih sering dengan lauk tempe, tahu, sayuran atau mie instan. Berbagai macam jus buah dan aneka minuman lainnya juga selalu tersedia dengan air es yang dingin dari kulkas dua pintu.

Membayangkan bisa tinggal di rumah seperti istana, Farid merasa hidupnya akan jauh lebih baik jika bisa punya rumah besar dan senyaman rumah Keizha. Punya orang tua kaya pasti akan membuat semua permasalahan hidupnya segera teratasi. Tak ada yang perlu dikhawatirkan besok akan makan apa dan tak harus terus berhemat. Tak perlu repot bagi pekerjaan rumah karena ada ART yang siap melayani. Segala kebutuhan hidup akan terpenuhi dan kalau mau apa pun tinggal beli karena memiliki banyak uang.

Selesai makan dan kenyang. Farid mengamati beberapa foto Keizha bersama orang tuanya yang terpajang di dinding, ia merasa ada yang sedikit janggal. Kulit Keizha yang putih dengan rambut lurus panjang warna jagung tampak agak berbeda dengan tampilan orang tuanya. Mungkin karena Keizha anak orang kaya yang terbiasa ada semuanya, penampilannya jadi lebih terawat. Tapi dari bentuk wajah dan cara senyumnya Keizha juga kurang mirip dengan Papa atau Mamanya.

“Jadi, apa nih rencana awal kita? Ada ide atau saran?” tanya Audri setelah mereka bertiga selesai makan.

Farid berpikir sejenak sembari makan es krim sorbet di gelas keduanya. “Apa ya kira-kira? Sebagai anak kandung, pasti Keizha yang lebih tahu tentang orang tuanya.”

“Aku sebenarnya tak tahu apa-apa tentang Papa atau Mama. Tapi yang selalu aku ingat hanya keributan dan pertengkaran orang tuaku saja hampir setiap kali bertemu di rumah.”

“Masa sih?” Audri sama sekali tak percaya dengan pernyataan Keizha. “Masa ada anak kandung yang gak tahu sedikit pun hal tentang orang tuanya?”

Menghela napas panjang, Keizha mengangguk pelan. “ Papa dan Mama lebih sering sibuk kerja di luar dan kalau di rumah orang tuaku suka ribut. Entah karena apa? Aku juga nggak tahu karena lebih sering nutup telinga dengan earphone atau sembunyi lama di kamar.”

Lihat selengkapnya