The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #1

SATU

Bel masuk belum berbunyi, anak-anak kelas 2 IPS 4 sedang sibuk berkutat dengan obrolan dan candaan ringan di pagi hari. Di sudut ruangan yang ramai, duduk seorang gadis yang tampak sibuk bersolek, gadis itu memulas bedak tipis-tipis ke wajahnya yang cantik. Peralatan makeup-nya berserakan di atas meja dan tidak ada satupun teman-temannya yang mengusiknya. Mereka tampak sudah terbiasa dengan pemandangan itu.

“Hir, pinjam lipbalm kamu, dong,” kata seorang teman perempuan yang duduk di sebelah gadis itu.

Hira menurunkan cermin sakunya dan memandang Farah yang kini sedang asik memilih-milih lipbalm dari kotak makeup miliknya. Tak mempedulikan Farah yang kemudian memakai salah satu lipbalm berwarna peach miliknya, Hira memilih memfokuskan diri untuk membuat alis yang sempurna di Rabu pagi yang cerah nan indah ini. Sampai kemudian, teriakan seseorang yang memanggil namanya membuatnya terkejut.

“Hiraaaa!!!”

Deg…

Hira menatap garis hitam yang tidak presisi di alisnya. Ck… dia berdecak.

Dengan raut kesal, Hira menatap ke pintu depan tempat di mana empunya suara berada. Kesha.

“Ya ampun, bisa ga sih ga usah teriak-teriak? Liat nih, alis ku jadi berantakan’kan?!!” gerutu Hira.

Kesha setengah berlari menghampiri Hira yang kembali membetulkan garis alisnya dan setengah terengah berkata, “Aduh, gawat, Hir.”

“Apa sih yang lebih gawat dari alis aku yang berantakan begini?” tanya Hira acuh tak acuh.

“Aduh, masih aja mikirin alis. Kamu tuh di cariin Pak Bambang, di suruh ke ruangan kepala sekolah sekarang juga,” kata Kesha setelah mengatur napasnya. Kali ini kedua mata Hira melotot. Dia menatap Kesha dengan pandangan menyelidik tapi tampaknya Kesha berkata jujur.

“Sial.” Dengan setengah terburu-buru, Hira memasukkan semua peralatan makeup-nya dan keluar dari kelas.

***

Sementara itu di ruang kepala sekolah, Pak Bambang menyandarkan kepalanya yang pening ke sandaran kursi. Kepala sekolah yang galak namun baik hati itu sedang menunggu salah satu siswinya yang sejak kelas satu selalu membuatnya sakit kepala. Dan kini siswi tersebut muncul dengan setengah terengah-engah di hadapannya. Hira segera duduk di hadapan Pak Bambang tanpa di suruh. Melihat raut wajahnya yang garang nampaknya kepala sekolahnya itu sedang kesal sekali.

“Siapa yang suruh kamu duduk?” tanyanya menggelegar.

Deg. Hira buru-buru berdiri.

“Kenapa kamu berdiri?” Pak Bambang kembali bertanya dengan suara yang ketus.

“Ya ampun, Bapak ini maunya apa, sih?” gerutu Hira kesal. Pak Bambang mendelik. “Duduk kamu.”

Hira kembali duduk dengan wajah cemberut.

“Kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini?”

“Loh, mana saya tahu, Pak kalo Bapak ga ngomong.”

Pak Bambang menghela napas. Di antara sekian banyak muridnya di sekolah ini, Hira adalah satu-satunya murid yang berani membalas perkataannya. Mungkin karena gadis itu sudah terbiasa berhadapan dengannya sejak kelas satu, jadi gadis itu lebih berani padanya.

Pak Bambang kembali menghela napas. Di tatapnya Hira yang memasang raut wajah polos seakan tidak tahu apa-apa, tapi memang Hira sendiri tidak mengetahui apa kesalahan yang di perbuatnya kali ini sampai-sampai dia di panggil oleh Pak Bambang.

“Begini Hira.” Pak Bambang mengubah posisi duduknya lalu beliau mengeluarkan tumpukan kertas dari laci mejanya dan menyodorkannya ke hadapan Hira. “Coba kamu lihat ini.”

Hira menatap salah satu kertas di hadapannya dan melihat namanya tertulis di kertas itu. Hira Halim. Ternyata itu adalah tumpukan kertas ulangan harian miliknya.

“Kamu tahu ini apa?”

“Kertas ulangan harian punya saya, Pak.”

“Betul. Lalu ini apa?” Pak Bambang menggeser jarinya ke pojok kanan atas kertas tersebut. Tertulis angka 30 disana. Melihat itu Hira meringis.

Lihat selengkapnya