The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #2

DUA

Setelah bel pulang berbunyi, Aldo sudah berada di parkiran motor untuk menunggu Hira, gadis itu mengirimkan pesan kalau dia akan segera menyusul. Sambil menunggu Hira datang, Aldo berdiri bersandar pada motornya, cowok itu termangu, memikirkan kembali awal mula rentetan kejadian beberapa minggu yang lalu.

Saat itu, ia sedang berdiri di samping Hira di meja administrasi perpustakaan.

“Pak, saya mau pinjam buku ini, dong,” kata Hira sambil menyodorkan buku tentang geografi di hadapan Pak Trisno, penjaga perpustakaan sekolah. Pak Trisno membaca sekilas judul buku di hadapannya lalu mengerutkan kening keheranan.

“Kok tumben bacanya beginian? Biasanya teenlit. Ada teenlit baru loh di rak yang biasa, gak mau pinjem itu aja?” tanyanya.

“Iya, mau ganti suasana. Bosen baca teenlit. Sekali-kali baca yang berat-berat, dong,” sahut Hira berseloroh.

Pak Trisno terkekeh. “Alah, paling juga bukunya nanti jadi bantal tidur.”

Wajah Hira seketika memerah menahan malu. “Ssttt… ini rahasia di antara kita aja, Pak.”

Aldo yang mendengarnya langsung menoleh sekilas. Percakapan antara penjaga perpus dan siswi di sebelahnya itu terdengar menggelikan. Aldo diam-diam takjub karena Hira bisa begitu akrab dan sama sekali tidak canggung mengobrol dengan Pak Trisno yang terkenal pendiam sekaligus galak di mata murid lain.

Ingatan Aldo kemudian bergeser ke area taman belakang sekolah yang selalu sepi.

Di hari yang lain, Aldo yang biasa menghabiskan bekal makan siangnya di taman belakang sekolah sendirian, mendadak dikejutkan dengan kemunculan seorang gadis aneh yang membawa-bawa kaleng kornet, sambil berjalan menunduk, gadis itu memanggil-manggil kucing liar yang memang sering terlihat di taman belakang sekolah.

Aldo langsung mengenalinya, Dia adalah orang yang sama dengan gadis di perpustakaan tempo hari.

Awalnya Aldo mengira itu hanya sebuah kebetulan. Namun, dugaannya keliru. Karena pada hari-hari berikutnya gadis itu kembali muncul dengan beberapa macam kaleng makanan kucing.

‘Apa gadis itu sebegitunya menyukai kucing?’ pikirnya saat itu.

Setelah itu pun, ke mana pun Aldo pergi, entah itu di koridor sekolah, di kantin, maupun di lapangan sekolah, dia selalu dapat menangkap sosok gadis itu berada di tempat yang sama dengannya.

Dari gestur dan cara bicaranya pada orang lain, Aldo juga bisa tahu kalau gadis itu adalah gadis yang sangat ceria.

Lambat laun, Aldo yang biasanya tak acuh pada sekitarnya mulai tertarik pada sesuatu di luar hal-hal berbau buku dan ilmu pengetahuan. Dia penasaran. Dia ingin siapa gadis itu, dan siapa namanya.

Seolah semesta mendukung rasa penasarannya, kesempatan untuk mengenal gadis itu akhirnya datang. Seminggu kemudian, Pak Bambang, memanggilnya ke ruang kepala sekolah untuk membicarakan seorang siswi di kelas IPS yang nilai-nilai ujiannya membuat kepala sekolahnya itu khawatir.

Pak Bambang sangat mencemaskan nilai siswi itu karena siswi itu istimewa. Selain karena nilainya paling mengerikan seantero sekolah, siswi itu juga merupakan putri satu-satunya donatur terbesar sekolah dan Papa siswi itu menitipkan tanggung jawab mendidik putrinya pada Pak Bambang.

Aldo sudah bisa membayangkan sebesar apa tekanan yang dialami oleh beliau.

Pada awalnya Aldo bertanya-tanya, kenapa Pak Bambang memanggilnya hanya untuk mengatakan semua hal itu padanya. Tidak pernah sedikit pun terbersit di pikirannya kalau ternyata Pak Bambang memanggilnya untuk membuat permintaan yang tak masuk akal.

Beliau memintanya untuk menjadi partner belajar siswi tersebut. Tanpa diberitahu pun, Aldo sudah bisa membayangkan kesulitan macam apa yang akan dia hadapi nanti.

Hal pertama yang ada di pikiran Aldo saat itu adalah dia harus menolaknya. Tanggung jawabnya terlalu besar—karena biar bagaimanapun dia harus memastikan nilai gadis itu melonjak naik.

Jika gagal, bagaimana ia harus mempertanggungjawabkannya pada Papa gadis itu yang notabenenya adalah donatur utama sekolah, sekaligus sosok yang membiayai seluruh pendidikannya di sini lewat jalur beasiswa penuh. Pak Bambang harus mencari orang lain yang lebih kompeten untuk jadi partner belajar bagi siswi itu karena sejujurnya Aldo pun sangat enggan untuk membantu.

Namun, Pak Bambang berkata kalau tidak ada orang lain yang lebih kompeten dari Aldo, beliau juga berusaha meyakinkannya kalau seandainya Aldo gagal, hal itu tidak akan berpengaruh terhadap status beasiswanya. Aldo hanya perlu mengajari semampunya dan setelah itu biarkan gadis itu yang berusaha.

Setelah meminta waktu untuk berpikir Aldo akhirnya luluh dan memutuskan untuk membantu. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan Pak Bambang dan sebagai penerima beasiswa prestasi, Aldo merasa ini adalah momen yang tepat untuk membalas budi dan memberikan kontribusi yang nyata pada sekolah.

Beberapa hari kemudian setelah itu, ia kembali dipanggil untuk bertemu langsung dengan siswi tersebut.

“Hira,” kata gadis itu dengan senyum ceria saat mereka pertama kali berkenalan.

Aldo hanya bisa terdiam selama sepersekian detik sampai akhirnya dia mampu menjabat tangan Hira dan menyebutkan namanya sendiri.

Lihat selengkapnya