Dua minggu yang lalu…
“Pak, saya mau pinjam buku ini, dong,” kata Hira sambil menyodorkan buku tentang geografi di hadapan Pak Trisno, penjaga perpustakaan sekolah. Pak Trisno membaca sekilas judul buku di hadapannya lalu mengerutkan kening.
“Kok tumben bacanya beginian? Biasanya teenlit. Ada teenlit baru loh di rak yang biasa, ga mau pinjem itu aja?” tanyanya.
“Iya, mau ganti suasana. Bosen baca teenlit. Sekali-kali baca yang berat-berat, dong,” sahut Hira.
Pak Trisno terkekeh. “Alah, paling juga bukunya nanti di jadiin bantal tidur.”
Wajah Hira memerah. “Ssttt… ini rahasia di antara kita aja, Pak.”
Aldo yang saat itu berdiri di sebelah Hira untuk meminjam buku juga, menoleh sekilas. Percakapan antara Pak Trisno dan gadis di sebelahnya itu terdengar lucu, dia juga merasa takjub bahwa gadis itu terlihat akrab dan tidak canggung sama sekali bicara dengan Pak Trisno yang terkenal pendiam.
Di lain hari…
Aldo yang biasa menghabiskan bekal makan siangnya di taman belakang sekolah yang selalu sepi, hari itu di kejutkan dengan kemunculan seorang gadis aneh yang membawa-bawa kaleng kornet, sambil berjalan menunduk, gadis itu memanggil-manggil kucing liar yang memang sering terlihat di taman belakang sekolah. Aldo mengenalinya, gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis di perpustakaan tempo hari. Aldo pikir, mungkin hari itu adalah kebetulan saja gadis itu ke taman belakang sekolah, namun, ternyata tidak cuma hari itu saja, pada hari-hari berikutnya gadis itu kembali muncul dengan beberapa macam kaleng makanan kucing. Apa gadis itu sebegitunya menyukai kucing? Pikirnya saat itu.
Setelah itu, kemanapun Aldo pergi, dia selalu dapat melihat sosok gadis itu berada di tempat yang sama dengannya. Dari gestur dan cara bicaranya, Aldo bisa tahu kalau gadis itu adalah gadis yang sangat ceria. Sejak itu juga, Aldo mulai tertarik dan memperhatikannya. Aldo yang biasanya tidak tertarik pada apapun mulai tertarik pada sesuatu. Dia penasaran akan siapa gadis itu dan siapa namanya.
Kesempatan untuk mengetahui gadis itu akhirnya datang. Hari itu Pak Bambang, kepala sekolah memintanya untuk datang ke ruang kepala sekolah untuk bertemu dengan siswi yang nilainya membuat kepala sekolahnya itu khawatir. Pak Bambang sangat mencemaskan nilai siswi itu karena siswi itu istimewa. Siswi itu adalah putri satu-satunya donatur terbesar sekolah dan Papa siswi itu menitipkan tanggung jawab mendidik putrinya pada Pak Bambang. Bisa di bayangkan sebesar apa tekanan yang di alami oleh Pak Bambang.
Pada awalnya Aldo sangat tidak bersemangat saat Pak Bambang mendatanginya dan membuat permintaan tak masuk akal baginya. Mengajari seseorang, dan seseorang itu adalah gadis dengan nilai paling mengerikan satu sekolah. Aldo sudah bisa membayangkan kesulitan macam apa yang akan dia hadapi nanti. Tapi entah mengapa Aldo bisa mengerti bagaimana perasaan Pak Bambang dan dia memutuskan untuk membantu.
Sebagai penerima beasiswa siswa berprestasi, Aldo juga merasa harus memberikan sesuatu sebagai bentuk ucapan terima kasih karena bisa bersekolah di sekolah ini dengan gratis.
“Hira,” kata gadis itu dengan senyum ceria saat mereka pertama kali berkenalan. Aldo hanya bisa terdiam selama sepersekian detik sampai akhirnya dia bisa menyebutkan namanya sendiri. Aldo tidak percaya pada pandangan matanya, gadis yang belakangan ini membuatnya penasaran kini duduk di sebelahnya dan sedang bicara dengannya.
Aldo melihat sendiri bagaimana gadis itu langsung di depannya, bagaimana gadis itu tidak canggung dan tidak memandang rendah dirinya yang terlihat aneh di mata sebagian besar orang-orang. Selama dia bersekolah dan bersosialisasi dengan teman sekelasnya, dia belum pernah menemui orang seperti Hira. Sebagian besar anak-anak di kelasnya begitu kaku dan serius. Oleh karena itu, Hira terlihat berbeda jika dibandingkan dengan mereka. Aldo merasa keputusannya untuk membantu Hira tidak buruk juga.