The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #4

BAB 4 - Pencapaian Pertama Hira

"Hira," panggil Pak Yono, guru mata pelajaran geografi yang berdiri di depan kelas sambil mengembalikan nilai ulangan geografi minggu lalu.

Hira menghampiri Pak Yono dengan perasaan was-was. Pak Yono memiliki kebiasaan memukul tangan siswa dengan penggaris jika nilai mereka di bawah rata-rata yang ditetapkan oleh beliau.

Dan tangan Hira adalah salah satu langganan tetap yang selalu kena pukulan penggaris Pak Yono.

Pak Yono memandang Hira lalu mengangsurkan selembar kertas bertuliskan nilai 75. "Kerja bagus."

Hira melongo. Dia gak salah dengar kan? Barusan Pak Yono memuji dirinya kan? Guru yang terkenal pelit pujian itu memujinya?

Teman-teman sekelasnya mulai ribut saat mendengar pujian yang dilontarkan Pak Yono pada Hira.

Sebagus apa nilai gadis itu sampai Pak Yono bisa memberinya pujian?

"Ma, makasih pak," jawab Hira tersipu.

Hira kembali ke tempat duduknya di mana Farah yang duduk di sebelahnya, lalu Kesha dan Santi yang duduk di depannya menatapnya dengan wajah penasaran.

"Memang kamu dapat nilai berapa sih?" tanya Santi.

Hira tersenyum tipis. "Taraaa....".

Dia memamerkan nilai miliknya pada ketiga temannya itu dan berhasil membuat mereka terkejut.

“Yaelah, kirain nilainya berapa. Ternyata biasa aja. Kok bisa-bisanya dipuji sama Pak Yono?" kata Santi kemudian dengan nada pedas.

Dia memang yang paling judes dan yang paling jujur di antara ketiga teman-temannya, dia juga tidak pernah berusaha berpura-pura berkata manis dan walaupun kata-katanya kadang menyakiti telinga, Hira tidak merasa sakit hati.

"Pak Yono memuji usahaku. Kalian kan tahu sendiri kalau nilai aku hancur semua. Kayaknya dia bersyukur deh aku bisa dapet nilai segitu."

"Hahaha... Bisa jadi. Abis guru-guru yang laen juga banyak yang putus asa ngeliat nilaimu," kata Santi lagi.

Hira cuma bisa tersenyum. “Pedes banget omongannya. Karetnya dua ya?”

Santi mendengus. Dia hanya merasa sedikit iri dengan pujian yang diterima oleh Hira dari Pak Yono.

Sebagai juara kelas di kelasnya, Santi merasa nilai-nilai bagusnya tidak banyak diapresiasi oleh guru-guru seolah itu memang hal yang wajar jika dia mendapat nilai bagus.

Malah Hira yang nilainya jauh di bawah nilainya diberikan pujian. Walaupun Santi tahu bahwa kenaikan nilai Hira memang patut dirayakan.

"Tapi gila banget gak sih, tumben banget nilai kamu bagus. Ini pertama kalinya kan nilai kamu gak amburadul. Kesambet setan pinter dari mana, Hir?" tanya Kesha.

Hira tertawa. "Aku belajar loh, belajar."

Mereka bertiga mengerutkan keningnya, merasa sangsi dengan ucapan Hira barusan.

"Seorang Hira belajar? Apakah ini tanda-tanda matahari akan terbit di barat?" ejek Kesha.

Hira meringis.

***

"Do. Aldo!" Hira berlari-lari kecil menuju Aldo yang sudah berada di sebelah sepeda motornya.

"Coba liat ini. Nilai ulangan harian geografiku." Hira memamerkan kertas ulangan hariannya pada Aldo yang tersenyum tipis melihat nilai Hira.

Bagi Aldo yang terbiasa dengan nilai 90 dan 100, nilai 75 bukanlah nilai yang spesial, namun nilai itu menjadi luar biasa ketika Hira yang mendapatkannya mengingat bagaimana nilai-nilai gadis itu selama ini.

"Aku hebat kan? Puji aku dong."

Aldo tersenyum. "Kerja bagus, Ra."

Hira mendengus bangga.

"Karena nilai ulanganku bagus, hari ini aku akan traktir kamu makan," kata Hira.

“Gak usah, Ra. Sebaiknya kita belajar saja melanjutkan materi yang kemarin,” kata Aldo.

Hira cemberut. “Oh, ayolah. Aku sangat ingin mentraktirmu makan,” rengeknya.

"Kamu sudah sering mentraktirku, Ra."

"Ini beda. Ini adalah traktiran perayaan pertama kalinya nilaiku bagus."

Melihat Hira yang begitu ngotot, Aldo akhirnya menyerah. Sepertinya dia tidak akan bisa menang di hadapan Hira.

Lihat selengkapnya