Ricky menatap ponselnya yang berdering panjang. Sangat menganggu. Dia baru saja hendak tidur saat ponselnya berbunyi. Ricky berdecak. Peneleponnya benar-benar tidak mengenal waktu untuk mengganggunya.
“Ya, ada apa lagi?” tanya Ricky bosan.
“Nak, hari minggu ini Mama sudah atur perjodohan untukmu. Kali ini kamu harus datang. Mama tidak bisa membiarkan kamu terus sendirian seperti ini selamanya.”
Ricky mengerutkan keningnya. “Ma, kita sudah pernah bicarakan ini. Aku tidak mau menikah. Kenapa kamu terus memaksaku?”
“Kamu sudah gila, ya? Kamu itu penerus keluarga kita, kalau kamu tidak menikah dan tidak memiliki keturunan, silsilah keluarga kita bisa hancur,” hardik Mama Ricky.
“Bukankah itu bagus? Biar saja keluarga ini hancur sekalian.”
“Ricky!”
Ricky menghela napas.
“Ma, aku sangat lelah. Bisakah kita sudahi pembicaraan ini? Aku mau istirahat.”
“Si Halim itu pasti menyuruhmu bekerja keras. Mama kan sudah bilang untuk pulang saja ke rumah dan bekerja di perusahaan kita. Jika kamu kembali dan mau bekerja di perusahaan kita, mama akan memberikan posisi direktur pada kamu. Jadi, kamu tidak perlu bekerja sekeras ini untuk perusahaan orang lain. Kenapa kamu keras kepala sekali, sih?”
Ricky terdiam.
“Bukannya Mama sudah tahu alasan aku pergi dari rumah? Itu semua karena Mama,” jawab Ricky pelan.
“Apa? Memangnya apa yang sudah Mama lakukan kepadamu?"
Ricky tertawa hambar. "Ternyata Mama melupakannya semudah ini. Baiklah aku akan mengingatkannya untuk Mama. Deina... Aku tahu Mama yang membuat Deina meninggalkanku. Jika saja Mama merestui hubungan kami, saat ini aku pasti sudah hidup bahagia!"
"Ya Tuhan. Jadi itu alasan kamu tidak mau menikah sampai sekarang? Hanya karena wanita rendahan itu? Ini sudah hampir 17 tahun berlalu, Ricky. Wanita itu-pun pasti sekarang sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Untuk apa kamu masih meratapinya? Lagipula apa yang Mama lakukan baik dulu maupun sekarang semua adalah demi kebaikan kamu. Mama hanya ingin kamu bahagia. Mama tidak mau kamu menikah dengan orang yang salah.”
Ricky memijit pelipisnya.
“Apa Mama bahkan tidak menyesal sudah melakukan itu padaku? Deina adalah wanita yang aku cintai, Ma.”
“Tidak, tentu saja. Untuk apa Mama menyesal. Mama menyelamatkanmu dari parasit yang hanya akan menggerogoti harta keluarga kita. Kamu harusnya berterima kasih.”
“Mama memang sudah gila. Mama menghilangkan satu-satunya alasanku bertahan hidup sampai sekarang. Karena sudah begini, anggap saja aku sudah mati. Jangan pernah hubungi aku lagi.”
Ricky lalu memutus teleponnya sebelum Mamanya sempat bicara. Mamanya sempat menghubungi dia beberapa kali sampai akhirnya dia memutuskan untuk memblokir nomor Mamanya. Ricky merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dadanya terasa sakit dan perasaannya sangat tidak karuan. Dalam pikirannya terbayang sesosok wanita yang hingga saat ini sangat dia rindukan.
“Deina, ada dimana kamu sekarang?”
***
Tepat pukul 6 pagi, Hira sudah duduk manis di teras rumahnya lengkap dengan seragam dan tasnya yang penuh dengan gantungan kunci. Aldo tidak terlalu terkejut karena kemarin malam gadis itu sudah bilang akan menjemputnya pukul 6 pagi.
Hira menyapanya ceria, sedangkan Aldo hanya membalas sekedarnya.