Hira kembali menunggu Aldo di depan gerbang dekat parkiran sepeda motor.
Aldo terlihat jalan sendirian dan teman-teman sekelasnya di belakang menggodanya dengan memberikan lirikan sambil mesem-mesem.
Semua itu membuat Aldo jengah dan merasa terganggu.
Dari jauh dia melihat Hira yang berdiri santai sambil memainkan ponselnya.
Si penyebab masalahnya ada di depannya sekarang dan Aldo bertambah kesal melihat Hira yang terlihat biasa saja.
Padahal gadis itu sudah membuatnya menjadi sorotan orang-orang.
Aldo melewati Hira begitu saja tanpa bicara sepatah katapun. Hira yang melihat Aldo lewat di depannya buru-buru mengejar cowok itu dan mensejajari langkahnya.
"Do, kok buru-buru banget jalannya."
"..." Aldo tidak menjawab.
"Eh, tunggu. A...aakk..," Hira tersandung batu dan lututnya terluka.
Aldo menghentikan langkahnya dan melihat Hira yang meringis kesakitan karena dengkulnya berdarah.
"Astaga." Aldo menghela napas frustasi.
Cowok itu menghampiri Hira. "Kamu baik-baik saja?"
Hira mengangguk. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali meringis.
"Ayo kita segera pulang biar dengkul kamu bisa di obati."
Aldo membantu Hira menuju mobilnya yang sudah terparkir manis, dengan di bantu oleh Pak Amir, Hira berhasil masuk ke dalam mobilnya dan duduk dengan nyaman sementara itu Aldo duduk di sebelah Pak Amir.
Padahal Hira sudah menyuruhnya agar dia duduk di belakang bersamanya, tapi Aldo tidak mau mendengar.
***
Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah Aldo yang terlihat sepi. Wajar saja karena Diana sedang bekerja.
Di pagi hari, Diana akan membuka toko jasa laundry-nya dan di siang hari dia akan mengajar les di beberapa tempat. Kebanyakan muridnya adalah siswa SD.
Hira sangat kagum pada Diana karena wanita itu begitu rajin mencari uang.
Saat Hira tanya apakah Diana lelah atau tidak, wanita itu hanya tertawa. Dia bilang bahwa memang sudah jadi kewajibannya untuk mencari uang dan dia juga akan melakukan apa saja agar Aldo bisa hidup layak dan bersekolah.
Untung saja putranya sangat cerdas, sehingga Aldo selalu mendapat beasiswa dari sekolah.
Diana bilang dia sangat bersyukur bahwa sekarang juga Aldo bisa bersekolah di sekolah yang bagus dengan beasiswa penuh.
Hira sebagai putri donatur terbesar di sekolah merasa sedikit bangga pada Papanya yang sudah bersedia untuk menyumbangkan uangnya agar bisa di gunakan sebagai beasiswa bagi murid-murid berprestasi yang tidak memiliki uang seperti Aldo.
Hira duduk di teras dan melihat lututnya yang sekarang mengeluarkan darah lebih banyak.
Pantas saja rasanya kakinya terasa sangat sakit. Aldo yang panik segera masuk ke dalam rumahnya dan keluar dengan kotak P3K.
Setelah membasuh kaki Hira dengan air bersih, Aldo mulai mengobati kaki Hira dengan hati-hati dan terakhir dia menutup luka Hira dengan plester.
"Terima kasih, Do."
Aldo cuma mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya.