"Do, kamu tahu cara kerjain ini ga?" Seorang gadis menghampiri Aldo yang sedang sibuk mengerjakan tugas matematika yang di berikan oleh Pak Ditto yang berhalangan hadir saat itu.
Aldo meliriknya sebentar lalu sedikit kaget melihat gadis yang barusan mengajaknya bicara.
Dia adalah Karmila Meliana, gadis populer di kalangan anak IPA, teman sekelasnya, dan pujaan cowok-cowok SMA Satya Garuda. Tidak hanya anak kelas 2, bahkan kelas 1 dan kakak kelas mereka di kelas 3 pun sangat memuja Karmila. Gadis yang tidak hanya pintar, tapi dia juga cantik dan baik hati. Buktinya selama di kelas, dia sering mengajak Aldo bicara, walau hanya seputar pelajaran. Dan itu membuat teman-temannya yang lain merasa iri.
Apalagi belum lama ini mereka juga melihat Aldo berangkat dan pulang bareng Hira, cewek cantik dari jurusan IPS. Meski tidak sepopuler Karmila, tapi Hira cukup menonjol dan terkenal hingga ke jurusan IPA. Meski banyak yang tahu kalau nilai gadis itu sangat berbanding terbalik dengan Karmila.
Pokoknya karena kedekatan Aldo dengan 2 gadis itu, Aldo menjadi sasaran kedengkian beberapa orang yang bisa di bilang 'fans' gadis-gadis itu.
Aldo membetulkan kacamata yang bertengger di hidungnya dan mulai membantu Karmila mengerjakan soal matematika dengan suaranya yang pelan sehingga mungkin hanya Karmila saja yang bisa mendengarnya.
Karmila manggut-manggut mendengar penjelasan dari Aldo yang menurutnya sangat luar biasa, dia bisa langsung mengerti rumus yang di ajarkan oleh Aldo.
"Kamu hebat, Do. Makasih ya udah bantu aku." Karmila kembali ke tempat duduknya dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Aldo cuma mengangguk dan kembali fokus pada soal di hadapannya. Sementara itu, Darrel, teman sebangkunya menyikutnya dan menggodanya sambil cengengesan.
"Cie Aldo. Laris manis banget lo, Do. Kemarin Hira, sekarang Mila. Jadi lo mau pilih yang mana?"
Aldo tidak menggubrisnya dan cuma melengos seperti biasa karena merasa terganggu.
Tidak ada yang tahu bahwa Aldo dan Mila adalah teman sejak SD. Dulu rumah Mila hanya berjarak beberapa rumah dari rumah Aldo dan mereka sering bermain bersama. Ketika usaha orang tuanya berkembang maju, Mila dan keluarganya pindah rumah ke perumahan lain yang dekat dengan tempat usaha orang tuanya. Waktu Mila pindah mungkin sekitar mereka masuk SMP dan sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi karena mereka juga masuk ke SMP yang berbeda. Mereka kemudian bertemu kembali di SMA Satya Garuda, Aldo berhasil lulus ujian masuk ke sekolah untuk kategori siswa berprestasi dengan beasiswa penuh sampai lulus sedangkan Mila masuk sekolah dengan jalur mandiri.
Beberapa kali mereka sering berpapasan, apalagi mereka berada di jurusan yang sama, walaupun tidak sekelas. Namun karena Mila sudah tumbuh menjadi gadis yang populer dan cantik, hal itu membuat Aldo sedikit canggung jika harus mengobrol dengan Mila sehingga cowok itu memilih untuk menjaga jarak. Barulah setelah di kelas 2 ini berada di kelas yang sama, mereka jadi sering bicara namun mereka tidak pernah benar-benar mengobrol tentang hal lain selain pelajaran. Aldo juga menyadari kalau sepertinya Mila tidak mau terlihat dekat dengannya di depan teman mereka yang lain.
***
Sore itu Diana pulang dari mengajar les dengan membawa sekotak pizza. Beliau langsung di sambut oleh senyum ceria Hira dan anggukkan pelan dari Aldo. Putranya yang suram itu tidak menyambutnya seceria Hira, membuat Diana gemas dan langsung memitingnya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Setidaknya kamu punya setengah sifat ceria Hira, Do, biar kamu ga keliatan suram begini."
Aldo merapikan rambutnya yang berantakan. "Kenapa sih, Ma? Biarin aja Aldo kayak begini."
"Kalau kamu begini terus, Mama khawatir loh kalau kamu gak akan pernah punya pacar."
"Memangnya punya pacar sepenting itu?" Kata Aldo.
"Tentu saja penting. Apalagi di masa-masa SMA seperti ini, punya pacar membuat kamu lebih bersemangat sekolah, pokoknya kehidupan sekolah jadi lebih berwarna," Ujar Diana berapi-api.
Aldo cuma mengangkat bahunya tidak peduli.