The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #10

SEPULUH

"Hira, jangan lupa besok siang kamu ada kontrol dengan dokter Chandra," kata Halim saat makan malam bersama.

"Oh, benarkah? Aku nyaris lupa, Pa. Untung Papa ingatkan."

"Iya, besok Papa akan mengantarmu, tapi maaf ya setelah pulang dari RS Papa ada meeting dengan klien, jadi mungkin Papa tidak bisa menemanimu ke mall."

Hira tersenyum lalu mengatakan bahwa dia tidak masalah jika Papanya tidak bisa menemaninya hanya karena dia punya janji yang lebih penting. Halim menatap putrinya dengan wajah terharu, dia merasa lega dan bersalah di saat bersamaan karena tidak memiliki banyak waktu luang untuk putrinya, meski demikian, putrinya begitu mengerti situasi dan kondisinya yang memang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan. Halim pernah berpikir untuk mencari seorang Mama baru yang baik untuk Hira. Bahkan mertuanya juga sering menyuruhnya untuk menikah lagi.

"Menikahlah lagi, nak. Kami tidak masalah. Lagipula Sabrina sudah lama meninggal. Sudah waktunya juga untuk kamu merelakannya. Dan pikirkan juga Hira," ujar Marissa, Mama Mertuanya yang juga merupakan Ibu dari Sabrina sewaktu Halim dan Hira mengunjungi mereka di Semarang saat liburan akhir tahun. Marissa mengatakan itu ketika beliau melihat Halim sedang sibuk menyeduh kopi sendirian di dapur. Di rumah orang tua Sabrina yang sederhana, tidak ada pelayan seperti di rumahnya yang bisa di minta untuk membuatkannya kopi sehingga Halim harus melakukan semuanya sendiri.

Saat itu Halim hanya mengatakan kalau dia akan mempertimbangkannya. Namun, dia tidak pernah bisa sanggup melihat wanita lain menggantikan posisi istrinya, dan Marissa mengetahui itu. Oleh karena itu, dia tidak pernah memaksa menantunya itu untuk menikah lagi, hanya sesekali dia mengingatkan barangkali jika Halim berubah pikiran.

Sementara itu di sisi meja yang lain, duduk Ricky yang juga sedang sibuk menyantap makan malamnya. Posisinya sebagai asisten pribadi Halim memang sedikit istimewa jika di banding dengan karyawannya yang lain. Karena selain Ricky adalah asistennya, di waktu bersamaan, Ricky juga merupakan sahabat baik Halim dan merupakan anggota keluarga Prawira yang merupakan partner bisnis orang tua Halim sejak dulu.

Keberadaan Ricky sebagai asisten Halim tentu saja menimbulkan keributan di keluarga Prawira karena putra mereka memilih untuk bekerja dan memajukan perusahaan milik orang lain ketimbang mengembangkan perusahaan keluarga mereka. Selain itu, alih-alih menolak Ricky saat pria itu melamar sebagai asisten pribadinya, Halim malah menerima pria itu dan mempekerjakannya. Tindakannya sedikit membuat situasi di antara dua keluarga menegang. Tapi Halim tidak terlalu peduli karena perusahaan miliknya sama sekali tidak memiliki kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Ricky.

Halim memiliki perusahaan sendiri yang dia rintis bersama Sabrina dan sekarang perusahaan itu terus berkembang pesat.

Ricky memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya sambil memperhatikan percakapan di antara Halim dan Hira. Dia selalu melihat mata penuh cinta dari Halim saat pria itu bicara dengan putrinya. Melihat kedua ayah dan anak itu membuatnya sering membayangkan jika dia juga memiliki seorang anak, apakah dia akan menjadi orang tua seperti Halim yang sangat menyayangi Hira.

***

"Bagaimana rasanya memiliki seorang anak?" tanya Ricky yang membuat aktifitas Halim terhenti. Pria itu mendongak menatap Ricky yang wajahnya tetap datar seperti biasa. Halim tersenyum kecil. Rasanya aneh mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Ricky yang selalu bilang kalau dia tidak akan pernah menikah.

"Ada apa? Apa akhirnya kau memutuskan untuk menikah?" tanya Halim tanpa menjawab pertanyaan Ricky.

"Tentu saja tidak. Hanya ingin tahu."

Halim menghela napas. "Perasaan memiliki anak bagi setiap orang itu berbeda. Aku tidak bisa menjelaskannya. Jadi sebaiknya kau menikah dan miliki anakmu sendiri. Masih belum terlambat jika kau menikah sekarang."

"Kau tahu kalau itu tidak akan mungkin kan."

"Tidak mungkin bagaimana?"

"Menikah. Maksudku, aku tidak akan menikahi siapapun kecuali Deina orangnya."

Halim tersenyum mengejek. "Konsisten sekali ya. Yah, tapi itu hakmu sih untuk tidak menikah."

Ricky terdiam.

"Sampai sekarang, aku masih belum melupakannya. Atau mungkin aku yang menolak untuk melupakannya." Pria itu lalu duduk bersandar di kursi depan Halim.

"Yahh... aku tahu perasaan itu. Perasaan kita sama persis."

"Aku sungguh berharap di suatu tempat, dia masih memikirkan aku juga."

Halim menyalakan sebatang rokok, menghisapnya perlahan lalu menghembuskan asapnya sambil mendengus. "Aku tidak yakin. 17 tahun bukan waktu yang sebentar."

Lihat selengkapnya