The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #12

DUA BELAS

Minggu pagi, Diana baru saja kembali dari luar dan membawa 2 bungkus nasi uduk untuk mereka sarapan pagi itu. Sementara itu, Aldo sedang mencuci sepatunya karena kebetulan hari itu cerah.

"Mama ga masak?" Tanyanya keheranan melihat nasi uduk yang masih terbungkus rapi di atas meja makan.

"Gimana kalau hari ini kita makan di luar? Sekalian kamu temani Mama. Kita ke mall."

"Tumben. Mau ngapain?"

"Beli baju buat kamu dong. Mama lihat-lihat baju kamu sudah banyak yang usang."

Aldo menggeleng. "Ga usah, Ma. Lebih baik beli baju buat Mama."

Diana tersenyum. "Tidak. Mama tuh mau kamu tampil keren. Jadi jangan membantah."

Aldo menghela napas pasrah.

"Memangnya Mama punya uang?"

Diana terkekeh. "Jangan sembarangan ya. Kalau cuma beli baju untuk kamu Mama masih ada uang, kok."

"Bukan begitu. Aku belum butuh baju baru kok, Ma."

"Gak apa-apa Aldo sayang. Ga sering-sering, kok. Udah, kamu ga usah khawatir. Tugas kamu cukup belajar, biar soal uang Mama yang cari." Diana lalu masuk ke dalam kamar mandi. "Eh, itu nasi uduknya dimakan ya, enak loh masih hangat."

Aldo cuma mengangguk lalu mulai sarapan dengan patuh.

***

"Aku tuh bingung harus bagaimana lagi membujuk Ricky agar mau menikah dan meneruskan perusahaan keluarga. Tempo hari aku telepon dia suruh ikut perjodohan, nomorku diblokir olehnya." Ratna mendesah panjang, tampak lelah dan pusing memikirkan putra satu-satunya itu yang dengan blak-blakan menentangnya.

"Sudahlah, Ratna. Dia kan sudah dewasa. Kita tidak bisa terlalu keras karena mereka akan lebih keras lagi," Kata Fanny, teman sosialita Ratna sambil menyesap kopinya pelan.

Beberapa teman-temannya yang lain mengangguk. Mereka setuju pada ucapan Fanny karena mereka juga banyak yang menghadapi permasalahan serupa.

"Jadi, Ricky sekarang masih kerja di perusahaan Halim?"

Ratna mengangguk. "Setiap hari anakku dibuat lembur olehnya."

"Halim yang itu? Yang dari keluarga Dinata?" Tanya Riska, wanita paruh baya teman sosialita Ratna yang lain yang senang mengoleksi barang antik.

"Tapi bukankah bagus? Bukannya perusahaan Dinata punya ikatan kerjasama dengan perusahaanmu?"

"Eiy, itu perusahaan milik Halim sendiri. Dia membangun perusahaan itu bersama istrinya yang sudah meninggal."

"Oh, yang dari kalangan orang biasa itu ya?"

"Aku dengar keluarganya hanya membuka usaha jahit di Semarang."

Mereka mulai bergosip tentang Sabrina dan mengatakan kalau Halim sangat bodoh karena menikah dengan wanita dari keluarga biasa bukan konglomerat.

Mereka menyayangkan juga kenapa anggota keluarga Dinata mau saja menerima Sabrina sebagai menantu.

"Sepertinya semua anggota keluarga Dinata adalah orang yang aneh. Putra bungsunya, Hadi juga menikahi karyawan di perusahaan mereka. Dulu aku pernah berniat untuk menjodohkan salah satu putriku dengan salah satu putra keluarga mereka, tapi mereka menolak dan bilang kalau mereka akan membiarkan anak-anaknya menikah dengan orang yang dicintai,"kata Ratna.

Teman-teman Ratna semua melongo mendengar cerita tersebut. Mereka hanya tahu cerita tentang keluarga Dinata berdasarkan berita di internet, tapi untuk kehidupan pribadi anggota keluarganya, mereka tidak terlalu tahu jika bukan dari cerita Ratna, karena rata-rata teman sosialita Ratna memang tidak mengenal keluarga Dinata secara langsung.

Bahkan Ratna sendiri bisa mengenal mereka karena Prasetya, suami dari Ratna adalah teman dari Hilman, Ayah dari Halim.

"Padahal pernikahan bisa mempererat hubungan antar keluarga, tapi mereka sepertinya tidak berpikir demikian."

Teman-teman Ratna mengangguk-angguk setuju. Dalam dunia bisnis, memang tidak jarang terjadi pernikahan antar keluarga konglomerat.

Tujuan mereka tentu saja selain membangun hubungan dari rekan bisnis menjadi keluarga, juga untuk memperluas bisnis dan koneksi serta menjaga kekayaan keluarga.

Hal inilah yang diterapkan oleh Ratna kepada anak-anaknya, dan diantara anak-anaknya, hanya Ricky yang sulit diatur.

Putra tunggal kesayangannya itu malah jatuh cinta dengan seorang wanita dari kalangan biasa bernama Deina yang merupakan teman kampusnya dulu. Ratna sedikit menyesal kenapa dulu dia mengijinkan Ricky untuk kuliah di tempat lain alih-alih kampus yang sama dengan kakak-kakaknya.

Putranya itu malah mengikuti Halim yang juga masuk ke kampus yang sama. Meski awalnya keberatan tapi pada akhirnya dia ijinkan Ricky pergi ke kampus yang sama dengan Halim, dia pikir tak apa untuk membebaskan Ricky memilih kampusnya yang terpenting putranya itu pada akhirnya akan tetap kembali ke keluarga Prawira.

Ratna selalu menekankan hal itu pada semua anaknya bahwa pada akhirnya keluarga tetaplah yang terpenting.

Setidaknya saat itu Ratna pikir kalau Ricky juga akan lebih memilih keluarganya. Apalagi Ricky sudah diberitahu sejak kecil kalau dia adalah pewaris keluarga Prawira. Sebagai putra satu-satunya dari Prasetya dan Ratna, Ricky selalu di istimewakan.

Semua yang terbaik diberikan kepadanya, bahkan Ratna sangat menyayangi Ricky ketimbang kakak-kakaknya Ricky yang lain. Setelah semua kasih sayang itu, Ricky tega membuang keluarganya dan sekarang malah bekerja di perusahaan milik orang lain hanya karena keluarga mereka tidak merestui hubungannya dengan seorang wanita dari kalangan orang biasa.

Ya, wajar keluarganya tidak merestui karena pada saat itu Ricky sudah dijodohkan dengan seorang putri dari konglomerat yang menjalankan sebuah galeri seni miliknya sendiri. Seorang wanita yang memang pantas untuk menjadi anggota keluarga Prawira.

***

Lihat selengkapnya