"Astaga. Kaki Tante kenapa? Kelihatannya parah sekali," Hira terkejut saat melihat kaki Diana yang di balut perban.
"Yah, kemarin ada sedikit insiden. Kaki tante mencium aspal. Sudah di obati di klinik, kok," Diana menjawab sambil tertawa-tawa.
"Ya ampun. Pasti sakit, ya, Tan?" tanya Hira dengan wajah ngeri.
"Gak kok. Buktinya Tante baik-baik aja."
"Kenapa kamu ga bilang apa-apa tadi? Aku jadi tidak beli apa-apa untuk Tante Diana," ujar Hira pada Aldo.
"Aku tahu kamu akan begini makanya aku tidak memberitahukannya padamu," kata Aldo.
"Benar Hira. Kamu ga perlu repot-repot bawa sesuatu untuk tante."
"Tapi, tetap saja. Padahal aku sudah banyak merepotkan tante dan juga Aldo. Aku tidak melakukan apapun untuk kalian dan selama ini hanya aku yang menerima terus."
Diana tersenyum, sementara Aldo menghela napas sambil masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju.
"Hira sini, deh," kata Diana. Hira lalu mendekat dan duduk di sebelah Diana yang kemudian memeluknya.
"Eh... eh tante," wajah Hira berubah merah padam.
"Boleh begini sebentar ga? Tante lagi pengen peluk seseorang."
Hira hanya mengangguk dan balas memeluk Diana. Aroma harum dan pelukan hangat dari Diana membuat hati Hira terasa hangat. Pelukannya terasa sangat nyaman sehingga Hira tidak ingin melepaskannya. Mungkin ini rasanya di peluk seorang Ibu.
Diana yang menyadari kalau Hira memeluknya sangat erat hanya membiarkan gadis itu. Aldo yang keluar dari kamarnya melihat mamanya dan Hira sedang berpelukan segera masuk kembali, dia sengaja memberikan ruang untuk Hira dan mamanya.
"Tante kenapa tidak peluk Aldo?" tanya Hira setelah mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
"Aduh, Aldo udah ga mau di peluk-peluk kayak begini. Makanya untung ada Hira yang bisa tante peluk. Tante ga butuh Hira bawakan sesuatu, cukup peluk tante aja kayak tadi."
Hira mengangguk dan tersenyum. Diana memegang tangan Hira dan mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh hal paling sensitif bagi Hira yang kehilangan Mamanya sejak kecil.
"Kalau Hira lagi butuh pelukan, Hira boleh ke rumah tante kapanpun. Tante pasti akan peluk kamu."
Hira kembali mengangguk-angguk cepat sambil meneteskan air mata. Dia berusaha mati-matian menahan tangisnya agar tidak pecah, sementara Diana mengelus kepala Hira dengan penuh rasa sayang.
***
Hira membuka buku diarinya dan mulai menuliskan sesuatu di buku mungil itu. Buku yang menjadi saksi bisu bagaimana dia bertahan selama ini. Waktunya sudah tidak banyak lagi, Hira menatap sekeliling kamarnya.
Pelan-pelan namun pasti, Hira mulai merapikan kamarnya dan memasukkan semua benda-benda yang tadinya mengisi kamarnya ke dalam kardus-kardus. Hira meletakkannya di sudut kamar, agar tidak terlihat orang lain.
Dia tidak ingin orang-orang terutama Papanya bertanya kenapa dia membereskan kamarnya. Hira tahu, Papanya tidak akan pernah sanggup membereskan kamarnya jika dia sudah pergi nanti.
Dia memperhatikan tulisannya yang semakin hari semakin berantakan. Banyak perubahan yang terjadi padanya dan Hira mencatat semuanya di diarinya.
Bagaimana dia mulai kehilangan nafsu makannya serta kesulitan untuk menelan makanan yang membuatnya tidak lagi berani untuk makan di depan orang lain.
Bahkan, dia sudah tidak pernah menerima tawaran makan siang di rumah Aldo. Dia juga memilih untuk makan di kamarnya dan menghindari makan bersama papanya.
Setiap kali Bu Rina membawakannya makanan, Hira akan membuang sebagian besar makanan itu ke dalam toilet.
Setiap pagi, dia akan mengalami pusing hebat yang membuatnya tidak sanggup bangun dari tempat tidur, tapi dia selalu berusaha sekuat tenaga untuk tetap bangun.
Hira juga memaksa tubuhnya yang mulai sulit untuk bergerak bagaimanapun caranya. Segala hal yang tadinya terlihat mudah mulai membuatnya kesulitan. Bahkan untuk sekedar ke kamar mandi untuk muntah dia harus bersusah payah.
Sekarang, nyaris setiap hari, Hira bangun pagi-pagi sekali sebelum semua orang bangun. Tidak ada yang tahu kalau dia memulai hari dengan berat.