Ricky mencengkeram setir mobilnya erat-erat. Dia sangat kesal. Tidak terpikirkan olehnya kalau sekarang mamanya mengalihkan obsesinya tentang penerus keluarga kepada putranya yang bahkan belum pernah dia temui sama sekali.
Jika memang seperti ini, Ricky tidak bisa membiarkan keinginan mamanya terwujud. Dia harus menemukan putranya terlebih dulu. Tapi, dia tidak memiliki petunjuk sama sekali.
Dia hanya tahu informasi bahwa putranya sangat mirip dengannya ketika SMA. Sedangkan jumlah SMA di Jakarta sangatlah banyak, dan dia bingung harus mulai darimana.
Bagaimana jika dia meminta bantuan Halim? Pria itu memiliki banyak koneksi dan kenalan dengan beberapa orang di kepolisian.
Halim sih sepertinya tidak akan menolak, tapi Ricky ragu untuk meminta tolong seperti ini.
Namun, dia juga sudah sangat putus asa. Usahanya dengan membayar jasa detektif swasta pun tidak membuahkan hasil, dia hanya membuang-buang uang.
Selama ini bukannya Ricky tidak sempat terpikirkan untuk meminta bantuan Halim, tapi dia sudah banyak di bantu oleh Halim, bukankah dia tidak tahu diri jika terus merepotkannya?
***
"Baiklah," kata Halim cepat tanpa berpikir lagi. Setelah sampai di rumah Halim, Ricky mendatangi pria itu yang seperti biasa sedang sibuk bekerja di tengah-tengah tumpukan dokumen yang selalu bertumpuk tinggi.
Rasanya pekerjaan pria itu tidak ada habisnya walaupun sudah di bantu oleh Ricky setiap hari.
"Kau yakin?" tanya Ricky memastikan sekali lagi mengingat secepat dan semudah itu Halim menjawab permintaannya.
"Tentu. Hanya mencari orang, itu hal yang mudah. Nanti aku akan suruh orangku untuk mencari orang yang kau maksud."
"Bukannya kamu terlalu cepat menjawab," kata Ricky.
Halim mendongak. "Lalu haruskah kutolak saja permintaanmu?" tanyanya sembari mengamati Ricky dari balik kacamatanya.
"Jangan. Terima kasih sudah mau membantuku. Aku selalu menyusahkanmu seperti ini," ujar Ricky.
"Kau sadar kalau kau menyusahkanku?" sindir Halim. Dia menatap Ricky yang terlihat lelah secara fisik dan mental.
Yah, mencari orang bertahun-tahun memang tidak mudah. Belum tentu Halim sendiri sanggup melakukannya.
Ricky meringis.
"Jadi, darimana saja kau tadi?" tanya Halim kemudian. Dia meregangkan badannya yang terasa lelah, melepas kacamatanya dan berjalan ke arah sofa untuk merebahkan tubuhnya sejenak.
"Tebaklah," kata Ricky.
"Istana Depok?" tanya Halim asal.
Ricky mengangguk, wajahnya terlihat kelelahan, pria itu akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di sofa seberang Halim.
"Jadi, apalagi kali ini? Apa mamamu beralasan sakit lagi?"
'Lagi'? Benar, saking seringnya Ratna menggunakan alasan kalau dia sedang sakit, Halim sampai hafal dengan alasan yang selalu di pakai oleh wanita itu untuk membuat anaknya pulang.
Ricky menggeleng singkat. "Tidak. Dia sehat-sehat saja, tuh."
“Lalu? Tante Ratna menggunakan alasan apa agar kau pulang?”
“Deina…,” Ricky terdiam sejenak. “Wanita itu bilang kalau dia bertemu Deina, dia bahkan bilang kalau Deina juga bersama seorang anak SMA yang wajahnya mirip denganku.”
“Lalu kau percaya?”
Ricky mengangguk. “Sebenarnya beberapa hari lalu detektif swasta yang aku sewa memberikan informasi soal keberadaan putraku. Dia bilang kalau Deina sedang hamil saat dia pergi meninggalkanku.”
Halim melongo. “Wah, gila. Jadi, kau dan Deina pernah…?”
"Astaga, dari semua hal kenapa kau malah membahas itu?" Ricky menutupi mukanya karena malu.
"Pertanyaanku tidak sulit, Rick. Tinggal kau jawab ya atau tidak," kata Halim enteng.
Ricky menghela napas dan pria itu cuma mengangguk. “Aku mengaku kalau kami salah. Kami terlalu terbawa suasana saat itu. Tapi, jujur, kami hanya melakukan itu sekali.”
“Wah, hebat. Kau kira aku akan percaya kalau kau cuma melakukan sekali dan langsung hamil,” kata Halim yang terdengar seperti sindiran halus di telinga Ricky.
Ricky mengedikkan bahunya. “Terserah.”
Halim terkekeh. Dia teringat bahwa dulu dia dan Sabrina sendiri butuh waktu sekitar dua tahun untuk bisa memiliki anak. Waktu itu, karena saking kecintaannya dengan Sabrina, Halim yang baru berpacaran dengan wanita itu nekat untuk menikahinya meski mereka berdua masih di semester-semester akhir perkuliahan.
Pria itu benar-benar takut Sabrina direbut orang lain makanya dia langsung meminta restu pada orang tuanya untuk menikahi Sabrina dan untungnya kedua orang tuanya setuju-setuju saja.
Menikah muda tentu saja tidak mudah bagi mereka, tapi karena mereka saling mencintai satu sama lain, pernikahan mereka tetap terasa bahagia. Jadi, meski tidak langsung di berikan anak, mereka banyak menghabiskan waktu untuk berpacaran, liburan bersama, melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan membangun perusahaan mereka bersama.
“Justru karena itulah. Aku sendiri tidak yakin kalau Deina hamil anakku,” kata Ricky.
“Ya kau tinggal pastikan saja sendiri dia anakmu atau bukan. Jangan memainkan asumsi liar kalau Deina mengkhianatimu. Kamu sendiri kan tahu kalau hidup dia sudah cukup sulit, dan dia hanya bergantung padamu saat itu. Mana mungkin dia berani mengkhianatimu.”
“Aku tahu. Aku pasti terdengar seperti orang bodoh barusan. Tapi, jujur saja, semua kata-kata mamaku tentang Deina selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Seperti mimpi buruk.”
“Memang kau bodoh. Percaya saja pada kata-kata manipulatif mamamu. Sekarang dia bilang kalau dia menemukan Deina dan anakmu, berarti terbukti’kan kalau semua ucapannya tentang Deina itu bohong. Percaya saja apa yang kau yakini selama ini. Kau yang lebih mengenal Deina ketimbang mamamu.”
Ricky menatap Halim. Kadang bicara dengan Halim selalu membuat pandangan Ricky yang tadinya sempit menjadi lebih luas. Perspektif Halim terhadap setiap masalah memang luar biasa.
Pria itu bahkan selalu bisa berkepala dingin jika ada masalah, sesulit apapun itu. Tidak heran perusahaan miliknya berkembang pesat karena pengambilan keputusannya selalu tepat.