"Sayang?" Halim masuk ke dalam kamar Hira setelah sebelumnya mengetuk pintu kamarnya namun tidak ada jawaban dari dalam. Terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.
'Ah, dia sedang mandi rupanya.' pikir Halim.
Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di kamar Hira karena ada hal penting yang harus dia sampaikan secara langsung pada putrinya tersebut.
Halim berjalan ke arah meja belajar Hira, meneliti setiap detail barang-barang yang ada di situ. Pria itu mengerutkan keningnya. Ada yang berbeda dari meja belajar putrinya itu.
Rasanya dulu di meja itu dipenuhi dengan benda-benda lucu yang dikoleksi oleh Hira, tapi sekarang hanya tersisa beberapa saja.
Matanya beralih ke rak buku di sebelah meja belajar Hira. Dulu, rak buku itu penuh, entah itu buku komik, novel remaja, buku tentang geografi, sejarah, bahkan buku ekonomi.
Tapi, kini rak buku itu nyaris kosong. Perasaan aneh mensusupi hati Halim.
Melihat bagaimana putrinya itu membereskan barang-barang miliknya yang tadinya memenuhi seisi kamarnya, Halim mulai menyadari kalau Hira sedang bersiap untuk pergi.
Tangan Halim bergetar hebat, tanpa sengaja dia menyenggol tempat pensil hingga isinya berhamburan ke lantai.
Dengan tangan yang masih gemetar, Halim berjongkok untuk memunguti alat tulis Hira yang berantakan.
Namun, gerakan tangannya berhenti ketika dia melihat noda bercak kering berwarna hitam dibeberapa titik di karpet kamar Hira yang berwarna ivory.
Itu bukanlah noda dari air maupun tetesan tinta, Halim tahu itu. Itu adalah darah Hira, dan dari ukurannya yang lumayan besar, sepertinya Hira berdarah cukup banyak.
Halim menyentuh karpet itu, dan tanpa bisa membendung air matanya dia menangis, dadanya terasa sesak sekali.
'Kenapa?'
'Kenapa, Ra?' Halim menangis tanpa suara, dia menahan diri untuk tidak membuat suara tangisan yang mencolok yang bisa membuat Hira yang ada di kamar mandi curiga.
Suara air di kamar mandi tidak terdengar lagi, dengan terburu-buru Halim mengelap air matanya menggunakan tisu, membereskan pensil Hira dan menaruh tempat pensil itu kembali keasalnya.
Hira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama dan rambutnya yang basah dia tutupi dengan handuk.
"Papa?"
"Hai, sayang," jawab Halim dengan suara yang sengau dan wajah yang sedikit sembab.
"Papa nangis?" Hira mendekati Halim dengan wajah khawatir
"Gak kok. Mata papa kemasukan debu. Sepertinya kamar kamu banyak debunya ya, nanti papa akan suruh pelayan untuk membersihkan kamarmu."
Hira tersenyum tipis, dia tahu papanya berbohong demi terlihat baik-baik saja membuat Hira akhirnya hanya mengangguk.
"Baiklah," katanya.
"Jadi ada apa, pa?" Hira duduk di atas tempat tidurnya diikuti Halim yang menarik kursi disebelah Hira.
"Malam ini papa akan pergi dinas selama 4 hari ke Hongkong. Papa harus menghadiri konferensi disana besok pagi sebagai perwakilan dari pengusaha muda Indonesia."
"Wah, hebat sekali papaku ini," puji Hira dengan wajah penuh kekaguman pada papanya.
Halim tersenyum tapi wajahnya muram.
"Kenapa pa? Papa kelihatan tidak senang."
"Haruskah papa tidak usah pergi saja?"
"Apa yang papa katakan? Papa harus pergi dan tunjukkan pada orang-orang di luar negeri kalau perusahaan kita itu hebat, barangkali setelah itu papa bisa mendapat investor baru."
"Sebenarnya papa sangat berat pergi meninggalkanmu seperti ini," kata Halim.
Kekhawatirannya itu beralasan, apalagi setelah dia melihat noda bercak darah mengering yang berceceran di karpet kamar Hira. Itu artinya kondisi putrinya sudah semakin parah. Sebisa mungkin dia ingin berada didekat putrinya itu selama yang dia bisa.
"Pa, aku akan marah jika papa menjadikan kondisi aku untuk tidak pergi ke konferensi itu. Aku baik-baik saja, tolong jangan terlalu khawatir seperti itu."
"Tapi...,"
"Aku akan benar-benar marah pada papa dan tidak akan mengajak papa bicara selamanya," Hira merajuk. Wajahnya mengeras dan keningnya berkerut, tanda kalau dia mulai marah.
Halim menghela napas, "Baiklah. Tapi, kamu harus berjanji pada papa. Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh menyembunyikan apapun pada papa, kalau ada apa-apa, kamu harus langsung menghubungi papa."
Hira mengangguk.
"Ya pa. Jangan khawatir. Apa papa akan pergi bersama Pak Ricky?"
Halim mengangguk. Dia lalu mengusap-usap kepala Hira lalu mencium keningnya.
"Kalau begitu papa pergi sekarang karena masih harus packing bawaan dan mengurus dokumen untuk dibawa kesana. Selamat beristirahat ya, sayang," Halim melambaikan tangannya.
"Papa juga hati-hati, ya."
Hira menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat, lalu matanya beralih kearah meja belajarnya dimana tadi dia melihat papanya sedang terburu-buru menghapus air matanya membereskan pensil-pensilnya yang berserakan.