Aldo berdiri di depan sebuah rumah bercat putih dengan banyak bunga anggrek digantung di terasnya. Meski ini masih sore, tapi suasana rumahnya tampak sepi, namun Aldo yakin bahwa pemilik rumahnya ada di dalam. Itu karena Aldo sangat mengenal nenek pemilik rumah ini. Nenek Anggrek. Orang-orang memanggilnya demikian.
Sebelum memantapkan hati untuk mengetuk pintu rumah Nenek Anggrek, pikiran Aldo melayang ke peristiwa yang terjadi 2 setengah jam yang lalu di meja makan rumahnya, di mana hanya ada dia dan Mila, berdua saja.
Setelah kepulangan Hira, Aldo sebenarnya sudah berusaha sebaik mungkin menahan rasa kesal yang menumpuk di hatinya. Namun, setelah itu dia harus menghadapi Mila yang terus mengajaknya bicara omong kosong. Hal itulah yang membuatnya tidak tahan lagi.
Karena itu, sebagai puncak dari kekesalan Aldo, dia akhirnya mengonfrontasi Mila mengenai rumor di masa lalunya. Sekaligus, dia ingin tahu pembelaan seperti apa yang akan keluar dari mulut Mila.
Dan sudah seperti yang Aldo duga, Mila membela diri. Dia bahkan mengatakan kalau semua hal yang dia katakan bukan tanpa alasan. Dia juga mendengarnya dari orang lain, dan orang itu adalah Nenek Anggrek.
Dulu, saat masih tinggal di komplek yang sama, rumah Mila berada bersebelahan dengan Nenek Anggrek. Oleh karena itulah, Nenek Anggrek dan Mama Mila sering mengobrol bersama.
Dan dari obrolan itulah, Mila jadi tahu 1 hal kalau Papa Aldo itu sebenarnya masih hidup, hanya saja dia tidak bisa tinggal bersama dengan Aldo dan mamanya. Namun, hanya sebatas itu yang Mila ketahui.
Saat SD dulu, sebagaimana layaknya anak yang masih polos, Mila menceritakan itu ke teman sebangkunya, dan berakhir dengan menyebarlah rumor kalau Aldo anak haram yang tidak diinginkan dan Tante Diana itu seorang selingkuhan, makanya papanya tidak tinggal dengan mereka.
Meski Mila mungkin tidak bermaksud menyebarkannya, tapi rumor itu berkembang begitu cepat dan kebenaran aslinya berubah karena begitu banyak yang memelintirnya.
“Apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah padaku? 2 tahun aku bersekolah seperti di neraka. Itu semua karena omong kosongmu,” kata Aldo gusar.
“Hah? Aku bukan bicara omong kosong. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanya Nenek Anggrek yang dulu tinggal di sebelah rumahku.”
“Sekalipun itu bukan omong kosong,” suara Aldo bergetar karena menahan amarah yang membuncah di dadanya. “Memangnya kau siapa bisa seenaknya menyebarkan privasi mengenai keluarga orang lain seperti itu?!”
“Aku….,” Mila tidak dapat menjawab karena Aldo langsung memotong ucapannya dengan napas memburu.
“Apa salahku padamu? Katakan,” Aldo menatap Mila tajam. “Apa yang membuatmu sampai melakukan itu padaku? Kamu pun tidak terlihat merasa bersalah padaku setelah itu. Kenapa? Kamu pasti menikmatinya kan? Melihatku menderita karena perundungan itu membuatmu senang kan?”
“Kau sudah gila. Jika kau kesal pada Hira jangan tumpahkan kekesalanmu padaku dan membawa-bawa masa lalu yang sudah lewat.”
Aldo tertawa getir. Sejak tadi yang bisa dia dengar hanyalah Mila yang sibuk menyalahkan orang lain. Gadis itu bahkan tidak bisa melihat kesalahannya sendiri.
Mila buru-buru membereskan buku-bukunya karena situasinya mulai terlihat tidak kondusif. Aldo terlihat tidak terkendali.
Sepertinya akumulasi semua rasa frustasi dia yang menumpuk belakangan ini membuat Aldo kehilangan akal sehatnya sehingga dia tidak lagi dapat berpikir dengan kepala dingin.
“Aku bukan begini karena Hira. Dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini. Asal kamu tahu, dari dulu aku selalu ingin bertanya padamu, dan seperti yang sudah aku duga, kamu tidak menyesalinya.”
“Aku tidak menyesalinya. Karena bukan aku yang membuat rumor soal kamu anak haram. Aku hanya bilang kalau papamu sebenarnya masih hidup dan tidak bisa tinggal bersamamu. Argh, aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan pergi. Aku tidak mau lagi belajar bersama denganmu.”
Dengan tidak bertanggung jawab Mila meninggalkan Aldo sendirian di ruang makannya yang sepi dan dingin, duduk diantara buku-buku dan materi OSN nya yang bertebaran di meja.
“Hahhhhh….,” Aldo menarik napas panjang beberapa kali.
“Apa yang sudah aku lakukan barusan?”
Setelah membereskan buku-buku pelajaran serta materi OSN nya, Aldo merebahkan tubuhnya keatas sofa, berusaha memejamkan matanya dan memikirkan baik-baik apa saja yang sudah terjadi di rumahnya selama 2 jam ke belakang.
Semua hal yang terjadi, itu karena Aldo tidak dapat mengendalikan dirinya, dia terbawa emosi dan sampai membuat 2 orang pulang dari rumahnya dengan terburu-buru karena tidak nyaman. Pada akhirnya Aldo tidak mendapatkan jawaban apapun dari Mila maupun permintaan maaf dari gadis itu.
Mila juga pulang dengan rasa kesal yang luar biasa, dia akhirnya mengetahui kenapa Aldo menjaga jarak dengannya dan terlihat mengacuhkannya, itu semua karena peristiwa di masa lalu yang bahkan sudah Mila lupakan.
Bukannya Mila tidak tahu perundungan yang dialami oleh Aldo, dia tahu hal itu. Tapi, saat itu dia hanya anak SD yang bahkan dia sendiri tidak tahu kalau perundungan itu terjadi disebabkan oleh cerita yang berasal darinya.
Sungguh, Mila tidak tahu kalau cerita itu berkembang menjadi rumor yang membuat masa SD Aldo berubah menjadi neraka.