“Non, non Hira,” Bu Rina menepuk-nepuk pundak Hira dengan lembut. “Ayo bangun, Non. Udah malam.”
Hira yang setengah tersadar membuka matanya sedikit lalu tersenyum lemah.
“Eh, Bu Rina. Ini jam berapa, bu?” tanya Hira pelan.
“Udah jam 7, non. Ayo Non Hira mandi dulu, terus makan malam,” Bu Rina lalu membantu Hira untuk bangun. Dengan sedikit susah payah Hira bangun dan duduk, pandangan matanya masih sedikit berkunang-kunang, tetapi sakit kepalanya sudah mulai berkurang.
Hira berjalan ke arah kamar mandi berniat untuk cuci muka dulu, namun belum sempat dia sampai ke kamar mandi, tubuhnya ambruk ke atas lantai, untung saja lantai kamarnya dilapisi karpet yang tebal sehingga tidak menimbulkan memar pada tubuh Hira.
Namun tetap saja, melihat Hira yang ambruk, Bu Rina menjerit histeris dan memanggil pertolongan.
Para pelayan yang ada di sekitar kamar Hira segera masuk ke kamar dan membantu Bu Rina membawa Hira ke atas tempat tidurnya.
Melihat tubuh Hira yang menggigil, Bu Rina segera memegang kening Hira dan menyadari kalau Hira demam. Dia lalu memerintahkan beberapa orang pelayan perempuan untuk membantunya mengganti baju Hira dan yang lainnya menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Hira. Dia juga menyuruh koki untuk memasak bubur untuk Hira.
“Astaga, Non Hira. Kenapa tidak beritahu ibu kalau nona sedang demam?” Bu Rina menempelkan thermometer untuk mengecek suhu tubuh Hira.
Hira yang masih sadar hanya tersenyum kecil.
“Aku baik-baik aja, Bu.”
“Apanya yang baik-baik saja? Non Hira tuh kebiasaan selalu nahan sakit sendirian. Ibu ada di sini, Non. Non Hira bisa bilang ke ibu. Jangan diam-diam aja kalau lagi sakit,” kata Bu Rina dengan suara sedikit terisak. Thermometer berbunyi dan menampilkan suhu tubuh Hira di 39 derajat.
Dengan panik, Bu Rina mencari parasetamol di antara obat-obatan milik Hira yang ada di laci nakas sebelah tempat tidurnya.
“Buburnya belum jadi?” tanya Bu Rina pada pelayan yang ada disitu. “Suruh koki cepat buat buburnya.”
“Bu, tolong jangan panik. Aku gak apa-apa. Ini hanya demam biasa,” kata Hira.
Bu Rina menatap Hira yang masih bisa tersenyum disaat seperti ini. Dia lalu mengganti kompres demam di kening Hira.
Tidak lama kemudian pelayan lain datang tergopoh-gopoh sambil membawa nampan berisi bubur polos.
“Non, ayo makan dulu, terus minum obat.”
Bu Rina membantu Hira untuk duduk. Hira yang mencium bau amis ayam dari bubur yang dipegang oleh Bu Rina mendadak mual.
Semua orang panik, mencari benda yang bisa di pakai untuk Hira memuntahkan isi perutnya. Namun, Hira dengan tenang dan cekatan menarik ember kecil dari bawah tempat tidurnya lalu muntah. Meski isi muntah itu lebih banyak berisi cairan bening kekuningan, karena dia memang belum makan apapun sejak kemarin.
Semua orang saling berpandangan dan lalu memandang Hira dengan khawatir. Sepertinya nona mereka itu sering muntah karena sudah menyiapkan ember kecil itu di bawah tempat tidurnya.
“Non, apa ga sebaiknya kita ke rumah sakit?”
Hira menggeleng. “Aku sudah baik-baik saja, Bu. Tolong jangan terlalu khawatir. Oh, mana obat demamnya?”
“Ga mau makan buburnya dulu, Non? Sesuap aja,” pinta Bu Rina.
“Aku ga nafsu makan, Bu. Gak apa-apa, sini obatnya,” Hira segera meminum parasetamolnya dengan cepat.
Dia lalu menatap para pelayan yang berada di kamarnya. “Terima kasih, ya. Kalian sudah boleh keluar.”