The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #22

DUA PULUH DUA

Mendung menggelayuti langit, angin dingin juga mulai menusuk tulang.

Tidak lama lagi pasti akan turun hujan. Hira mengambil payung kuning favoritnya dan memakai jaket.

Tidak lupa dia juga membawa jaket cadangan berwarna hitam yang tidak terlihat seperti jaket wanita.

Dia menghampiri Pak Amir yang sedang mengobrol di dapur bersama para pelayan lain.

Bu Rina terkejut dengan kedatangan Hira, dan menanyakan apa ada yang dia perlukan.

“Kenapa keluar kamar, Non? Kalau perlu sesuatu biar nanti Ibu aja yang ke kamar.”

Hira menggeleng. “Aku mau pergi, Bu. Pak Amir, tolong antar saya, ya.”

“Mau kemana non? Di luar dingin, sudah mau hujan juga. Sebaiknya non di rumah aja ya, kan Non Hira baru sembuh demamnya, biar ibu atau Pak Amir yang beliin keluar.”

“Aku ga lama kok, bu.”

Bu Rina hendak mengatakan sesuatu lagi tapi ditahan oleh Pak Amir.

Akhirnya Hira dan Pak Amir berjalan meninggalkan dapur menuju keluar meninggalkan Bu Rina dan beberapa pelayan yang terlihat khawatir.

Hira memakai seatbeltnya dan duduk di sebelah Pak Amir.

“Kita mau kemana, non?” tanyanya.

“Kita cari Aldo ya, pak.”

“Den Aldo teman Non Hira?” Pak Amir mengerutkan keningnya melihat

Hira hanya mengangguk. Untuk apa majikan kecilnya ini mencari Aldo di cuaca seperti ini.

Sambil mobil melaju membelah kota, Hira mencoba menghubungi Aldo yang sejak tadi tidak mengangkat teleponnya.

Akhirnya diteleponnya yang kelima kalinya, Aldo mengangkat teleponnya dan hanya diam di ujung telepon.

“Halo, Do.”

“Ya, ada apa, Ra?” sahut Aldo, suaranya terdengar pelan.

“Bisa kita bertemu sekarang?” tanya Hira.

“Sekarang? Sepertinya tidak bisa, aku sedang tidak di rumah.”

“Begitukah? Kalau begitu kamu dimana? Biar aku ke tempatmu sekarang.” Kata Hira. Dia tidak bisa melepaskan kesempatan untuk mengetahui ada dimana posisi Aldo sekarang.

“Untuk apa? Sudah mau hujan. Apa tidak bisa besok-besok saja?” Aldo menghela napas. Saat ini dia sungguh tidak ingin diganggu.

“Tidak bisa. Harus sekarang juga.” kata Hira tegas.

Aldo menarik napas panjang. Sepertinya Hira memang tidak mau membiarkan dia menolak.

“Ra, tolonglah… aku sedang tidak ingin bertemu siapapun hari ini.”

“Bahkan kamu juga tidak mau bertemu denganku?” tanya Hira dengan suara lirih.

Aldo tertegun. Teringat kejadian kemarin yang membuat rasa bersalahnya kembali muncul.

“Bukan begitu. Baiklah, aku sedang ada di alun-alun sekarang,” kata Aldo akhirnya mengalah.

“Oke. Kamu jangan kemana-mana, ya. Tetap di tempatmu. Aku berangkat sekarang.”

Hira lalu menutup teleponnya dan menyuruh Pak Amir untuk mengemudikan mobilnya menuju alun-alun kota. Rintik hujan mulai menetes membasahi jendela.

Aldo menengadah menatap langit, gerimis. Orang-orang yang tadinya memenuhi tiap sudut alun-alun mulai membubarkan diri.

Mereka semua berhamburan mencari tempat berlindung karena gerimis itu berubah menjadi hujan yang semakin lama semakin deras.

Aldo hanya bisa terdiam di bangkunya. Terkena tetesan hujan seperti ini rasanya tidak buruk juga, hatinya terasa sedikit ringan meski dia sedikit menggigil karena hembusan angin dingin mulai menusuk kulitnya.

Haruskah dia beranjak dari sana? Dia nyaris kebasahan walaupun dia duduk di bawah pohon besar yang menaungi sepanjang pinggir alun-alun.

Disaat dia sedang menimbang-nimbang haruskah dia pergi dan mencari tempat berteduh, tiba-tiba saja sebuah kaki berdiri di depannya dan tubuhnya tidak kebasahan lagi seolah ada sesuatu yang melindunginya dari terpaan hujan.

Aldo mendongak dan menatap sosok gadis yang berdiri di bawah naungan payung kuning dengan napas terengah-engah namun senyum cerianya tidak lepas dari wajahnya yang cantik.

Sambil memegang erat gagang payung kuningnya, Hira mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah dan sedikit sesak. Dia tersenyum dan dengan suara penuh kelegaan berkata, “Akhirnya aku menemukanmu.”

*** 

Hira tidak melewatkan setiap sudut alun-alun untuk menemukan sosok Aldo. Meski sudah dilapisi oleh jaket tebal, namun angin dingin tetap menusuk kulitnya.

Dengan sedikit gemetar, Hira terus berjalan. Kakinya bahkan terkena lumpur tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk menemui Aldo yang ‘katanya’ sedang ada di tempat ini.

Ketika nyaris putus asa, Hira melihat sosok Aldo yang sedang duduk termenung di pinggir lapangan alun-alun. Hujan sudah semakin deras, tapi cowok itu tetap tidak beranjak pergi.

Setengah berlari Hira menuju Aldo. Tidak dia pedulikan bagaimana hujan menerpanya. Sambil memegang erat jaket yang sudah dia siapkan untuk Aldo, dia terus berlari dengan menahan sakit di kepalanya yang tiba-tiba menyerang.

Jika papanya mengetahui kalau dia berlarian dibawah hujan deras seperti ini, papanya pasti akan marah.

Lihat selengkapnya