Hujan masihlah turun, namun hanya berupa rintik kecil, Aldo menggenggam erat gagang payung kuning di tangannya dan menatap rumah yang sudah menaunginya selama 17 tahun ini. Kemarahannya masih ada, itu manusiawi, tapi seperti yang Hira bilang, dia tidak bisa lari dari masalah ini selamanya.
Dia harus mendengarkan penjelasan dari mamanya, apakah semua yang dikatakan oleh mamanya bisa dia terima oleh logika dia atau tidak, baru setelah itu dia bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Sambil menarik napas panjang, Aldo membuka pintu pagar yang mengeluarkan bunyi berdecit, lalu berjalan perlahan menuju pintu rumahnya yang tiba-tiba terbuka pelan. Sosok mamanya muncul, wajahnya sembab karena banyak menangis.
Aldo meletakkan payung Hira, dan belum selesai dia membuka sepatunya, Diana memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
"Aldo, Aldo, Aldo.... kamu kemana aja, nak?" tanyanya lirih.
Aldo tertegun. Dia sudah lama tidak dipeluk seperti ini oleh mamanya. Selama ini memang dia selalu menolak jika Diana ingin memeluknya karena dia merasa sudah menjadi orang dewasa, tapi hari ini, dia bisa merasakan curahan kasih sayang dari Diana yang tidak pernah luntur selama 17 tahun ini.
"Mama minta maaf. Mama memang bodoh dan bersalah, kamu boleh marah, tapi tolong jangan pergi."
Hati Aldo terasa nyeri mendengar permohonan dari Diana yang terdengar nelangsa.
"Aku tidak akan kemana-mana," sahut Aldo pelan.
Akhirnya Aldo membiarkan Diana terus menangis sambil tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
***
Diana mengusap air matanya yang masih saja terus menetes sembari membuang ingusnya di tissue.
Aldo meletakkan segelas susu hangat di hadapan Diana, dan segelas lagi untuknya. Cowok itu duduk di seberang Diana dan menunggu. Dia menunggu Diana bicara.
"Aku akan menunggu disini, jadi bicaralah kalau mama sudah siap," kata Aldo.
Diana menatap Aldo, mendengar putranya itu memanggilnya dengan panggilan mama membuatnya kembali menangis.
Dia sangat takut, kalau-kalau Aldo sudah tidak mau memanggilnya mama. Dia tidak akan siap jika Aldo memutuskan untuk memanggilnya tante.
Melihat mamanya yang seperti ini, Aldo menghela napas frustasi. Sepertinya mamanya memang sangat terpukul karena Aldo sudah pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat saja.
"Apa mama tidak akan bicara?" tanya Aldo setelah beberapa saat. Dia sungguh ingin beristirahat, selain tubuhnya terasa lelah dan kedinginan, dia juga ingin menelepon Hira untuk memastikan kalau gadis itu sudah sampai di rumahnya.
"Ya. Mama akan bicara sekarang," kata Diana dengan suara sengau.
Aldo mengangguk dan menatap Diana tajam. "Tolong katakan semuanya dan jangan ada yang ditutupi lagi. Buat aku paham kenapa mama harus berbohong sampai selama ini."