Halim terus menggenggam tangan Hira yang terasa begitu kecil dan dingin. Dia tidak ingin melepaskan tangan itu barang sedetikpun. Dia sangat takut, seolah-olah Hira bisa saja menghilang jika dia mengalihkan pandangannya sedikit saja ke arah lain.
Oleh karena itu, sejak tiba di Indonesia sabtu tengah malam, Halim tidak kembali ke rumah. Dia langsung ke rumah sakit dan melihat langsung kondisi putrinya yang kritis.
Dokter Chandra yang baru saja selesai memeriksa keadaan Hira berujar, "Hira mengalami respiratory distress akibat kelelahan ekstrem dan infeksi demam yang tidak segera ditangani. 24 jam ke depan adalah fase krusial. Kita akan lakukan yang terbaik, Pak Halim, tapi mohon bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Mendengar itu Halim merasa dunianya ingin runtuh. Dia hanya bisa menyerahkan Hira pada perawatan Dokter Chandra.
"Sayang, kamu tidak boleh pergi dulu mendahului papa. Papa masih mau melihat kamu tumbuh besar, melihat kamu menikah dan punya anak. Kalau kamu pergi, siapa yang akan menjaga papa? Kamu tega sama papa?" bisik Halim di tengah-tengah isakan kecilnya yang memenuhi ruang perawatan VIP dimana Hira terbaring tak sadar.
Suasana di ruangan itu terasa menyesakkan. Hanya terdengar suara dari monitor detak jantung yang menunjukkan gerakan lambat dari jantung Hira.
Matanya terpejam, napasnya pendek, wajahnya pucat dan tubuhnya demam tinggi.
'Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tanpa Hira, bagaimana aku hidup?' Halim menangis lirih.
Ditengah keputusasaannya, terdengar nada dering memenuhi ruangan. Mata Halim beralih ke ponsel yang ada di sakunya. Tertulis nama Anne di layar ponsel itu.
"Halo, ma."
"Halim, mama sudah dengar kabar tentang Alin. Gimana kondisinya sekarang?"
Alin adalah panggilan kesayangan dari Anne, mama Halim untuk Hira. Karena nama tengah cucunya itu merupakan pemberian darinya, jadi Anne lebih sering menggunakan nama Alin untuk memanggil Hira.
Halim berkata dengan suara sengau, nyaris menangis lagi, "Kondisinya tidak baik, ma."
"Apa tidak sebaiknya Alin dirawat di Jerman saja? Di sini banyak dokter yang bagus, siapa tahu kondisi Alin bisa membaik."
Halim terdiam. "Akan kupikirkan, ma."
"Ya, tolong kabari mama secepatnya, ya."
Halim memutus sambungan telepon itu dengan berkata kalau dia akan mencoba bertanya terlebih dulu pada Dokter Chandra.
***
Senin pagi, suasana SMA Satya Garuda di hari pertama UTS terlihat tenang. Semua orang tegang dan sibuk belajar. Anak-anak yang biasanya ramai duduk di pinggir lapangan untuk mengobrol, kini pagi-pagi sudah berada di kelas masing-masing.
Di kelas 2 IPS 4 tidak jauh berbeda, Kesha, Santi dan Farah membaca catatan mereka dengan serius. Tidak ada obrolan pagi yang biasanya ramai terdengar hingga ke sudut kelas.
Ketika akhirnya bel tanda masuk berbunyi, semua orang memasukkan buku-buku mereka ke tas masing-masing, bersiap untuk menghadapi soal-soal ujian yang rumit.
Setiap kali UTS dan UAS berlangsung, biasanya kelas mereka di bagi menjadi 2 kelas karena mereka akan duduk sendiri-sendiri.
Farah yang berada di kelas yang sama dengan Hira kebingungan karena sampai UTS mata pelajaran kedua, gadis itu tidak muncul.
"Si Hira ga masuk," kata Farah pada Kesha dan Santi saat mereka jalan pulang bersama kearah gerbang sekolah.
"Serius?" tanya Kesha.
Farah mengangguk. "Sampai mapel kedua ga masuk. Ga ada kabar juga."
"Kenapa dah tuh anak. Katanya mau berjuang di UTS ini biar bisa dapet nilai diatas 7 semua."
"Ga tau. Mungkin lagi keluar negeri?"
Kesha mengangkat bahunya. Jika Hira benar-benar sedang liburan keluar negeri maka gadis itu sangat luar biasa. Disaat teman-temannya yang lain sibuk UTS, dia malah liburan.
"Dia emang selalu ada aja gebrakannya, ya," Farah geleng-geleng kepala.
"Paling nanti nilainya amburadul lagi," Kesha terkikik membayangkan nilai Hira yang akan menjadi nilai paling jelek diangkatan mereka lagi.
Santi manggut-manggut, "Melihat Hira yang seperti ini, aku jadi sangat kasian sama Aldo."
***
Aldo menatap layar ponselnya. Ini sudah kesekian kalinya dia mengamati benda itu dan tidak ada tanda-tanda ada telepon ataupun pesan masuk.
Hingga UTS hari pertama selesai, sembari berjalan menuju ke ruang bimbingan OSN, Aldo bertemu Santi. Dia juga merupakan salah satu kandidat OSN bidang IPS dan Aldo mengenalnya sebagai teman Hira.