The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #25

DUA PULUH LIMA

Jumat pagi, Hira mendarat di sekolah dengan kondisi masih sedikit lemas dan pusing, tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk datang ke sekolah, hari ini dia akan mengikuti hari terakhir UTS, sekaligus UTS susulan mapel-mapel yang sebelumnya terlewat.

Hira memohon pada Dokter Chandra agar diijinkan untuk mengikuti UTS sampai-sampai dokter itu pusing dibuatnya. Meski dengan sedikit berat hati, akhirnya Dokter Chandra mengijinkan dengan catatan bahwa setelah selesai UTS hari ini, Hira harus kembali ke rumah sakit.

Farah yang melihat Hira sudah duduk di kursinya menghampiri gadis itu.

"Hir, kemarin kemana aja? Keluar negeri lagi?" tanyanya.

Hira tersenyum lebar. "Gak kok. Cuma di dalam negeri aja."

Farah geleng-geleng kepala melihat Hira yang menjawab pertanyaannya dengan wajah tanpa dosa.

"UTS kamu gimana?"

"Susulan dong seperti biasa," sahut Hira enteng.

"Guru-guru ngasih? Biasanya, kan mereka ga mau ngasih kalau alasan susulannya ga jelas."

Hira mengedipkan sebelah matanya dan Farah langsung paham.

"Emang enak ya jadi anak donatur sekolah. Selalu dapat dispensasi," Farah tertawa geli sekaligus miris.

Dia sedikit iri dengan Hira yang memiliki segalanya. Apapun yang dilakukan gadis itu, tidak akan mempengaruhi kehidupan sekolahnya sama sekali, guru-guru banyak yang segan dan selalu mempermudah Hira meski gadis itu cukup banyak melanggar aturan, kecuali dalam hal nilai tentunya. Para guru tidak bisa membantu Hira untuk urusan nilai sekolahnya.

Hira cuma mengangguk. Farah tidak tahu, kalau guru-guru sepakat memberikan UTS susulan pada Hira hanya di hari ini saja, semua mapel sekaligus.

Dia juga tidak akan diberikan waktu tambahan untuk mempelajari bahan ujian sama sekali.

Itu adalah belas kasihan mereka yang terakhir pada Hira, karena mereka menghormati Halim, papa Hira selaku donatur sekolah dan Pak Bambang yang meminta tolong pada guru-guru untuk memberikan Hira kesempatan.

Walaupun sejujurnya mereka cukup muak dengan semua tingkah Hira yang kelewatan yang menggunakan pengaruh papanya sebagai donatur untuk menekan Pak Bambang.

***

Aldo masuk ke dalam ruang guru seusai sekolah dan menemui Bu Helen untuk membicarakan tentang OSN yang akan dilaksanakan hari selasa depan.

Saat dia sedang serius membahas mengenai materi untuk bimbingan nanti, matanya menangkap sosok yang dia kenal.

Sosok gadis yang selama beberapa hari ini menjadi sumber rasa frustasinya.

Hira duduk di pojokan ruang guru dan mengerjakan soal-soal UTS dengan wajah serius.

Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bu Vina yang mengawasi Hira, tampak takjub dengan Hira yang tidak terpengaruh pada apapun yang terjadi di ruang guru sekarang.

Padahal ruang guru cukup berisik saat itu dan banyak orang yg hilir mudik keluar masuk.

Bahkan kecepatannya mengerjakan soal-soal ujiannya sangat luar biasa, seperti bukan Hira.

Sesekali Aldo melirik ke arah Hira untuk melihat bagaimana dia mengerjakan UTS susulannya. Hira adalah orang yang ekspresif, semua yang dia rasakan akan terlihat jelas di wajahnya.

Dan ekspresi wajahnya saat ini, jelas sekali, baru pertama kalinya Aldo lihat. Wajahnya tampak tenang, tidak ada kekhawatiran akan soal ujian sama sekali.

Padahal Hira yang biasanya akan mengerutkan keningnya dalam-dalam dan mulai mengacak-acak rambutnya karena kesulitan mengerjakan soal.

"Hira, kamu dikasih waktu cukup banyak untuk mengerjakan satu mata pelajaran, jadi, kamu jangan kerjain asal-asalan ya," tegur Bu Vina.

Hira tersenyum. "Saya tahu, bu. Tenang saja. Saya gak asal-asalan kok ngerjainnya."

"Kamu tahu kan kalau UTS kamu ini ga akan ada remidial walaupun nilai kamu jelek, karena kamu ikut ujian susulan."

Lihat selengkapnya