Aldo meletakkan tasnya di teras dan membuka sepatunya dengan wajah muram. Sepanjang bimbingan OSN dia benar-benar tidak bisa fokus pada materi yang diberikan oleh Bu Helen. Gurunya tersebut sampai menegurnya beberapa kali didepan semua orang.
Aldo menghela napas. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya, entah kenapa dia merasa terusik dengan kata-kata Hira, namun setelah Aldo pikirkan, tidak ada satupun dari kata-kata Hira yang salah. Mereka memang tidak sedekat itu sampai Hira harus memberitahukan semua hal padanya.
Diana muncul dari depan gerbang sambil membawa 2 bungkus jus alpukat. "Oh, kamu juga baru pulang, Do? Lihat nih mama bawa jus alpukat kesukaan kamu."
Aldo hanya mengangguk. Diana bisa menangkap raut wajah Aldo yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Ada apa denganmu, Do?" tanya Diana.
"Ya? Aku tidak apa-apa, ma," jawab Aldo.
"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti itu?"
"Apa maksud mama? Wajahku tidak apa-apa, kok."
Aldo membuang mukanya lalu segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Diana yang terheran-heran.
Jelas terjadi sesuatu. Putranya itu sangat tidak pandai berbohong. Semuanya terlihat jelas di wajahnya yang sekarang seperti orang banyak pikiran.
Apa OSN sangat membebaninya? Tapi, Aldo sudah bertahun-tahun menghadapi OSN dan dia belum pernah terlihat seperti ini sebelumnya.
Atau, mungkinkah putranya kepikiran tentang pertanyaannya beberapa hari lalu? Diana memang sempat bertanya pada Aldo bagaimana keputusannya tentang Ricky Prawira. Dia ingin tahu langkah apa yang akan Aldo ambil selanjutnya.
Jika Aldo memang ingin menemui Ricky Prawira, maka Diana tidak akan mencegahnya. Dia akan berusaha mencari cara untuk mempertemukan Aldo dengan papa kandungnya tersebut.
Tapi, saat itu Aldo justru menggelengkan kepalanya. Dia mengatakan bahwa bertemu dengan papa kandungnya bukanlah prioritasnya sekarang. Dia bahkan bilang kalau dia tidak terlalu ingin bertemu dengan Ricky Prawira.
Diana hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menyembunyikan perasaan gembiranya.
***
Halim menatap Hira yang tampak tertidur meski raut wajahnya tidak dapat berbohong kalau dia masih kesakitan. Sesampainya di rumah sakit sepulang mengikuti UTS tadi, Hira nyaris kehilangan kesadarannya lagi karena kelelahan kronis.
Otaknya sudah tidak bisa menerima tekanan sebesar itu. Dia ingin sekali memarahi putrinya itu, namun dia tidak sampai hati.
Pria itu memegangi tangan putrinya yang semakin kurus dari hari ke hari. Penyakitnya bertambah parah, waktunya tidak banyak lagi.
Halim memohon pada Dokter Chandra jika ada pengobatan yang bisa memperpanjang usia anaknya, dia akan lakukan itu berapapun biayanya tidak masalah.
Namun Dokter Chandra bilang untuk saat ini pengobatan yang paling tepat untuk kondisi Hira adalah pengobatan paliatif.
Dengan kondisi Hira yang sekarang, tubuhnya tidak akan bisa lagi menahan efek samping dari kemoterapi yang mungkin saja bisa memperparah penyakitnya.
Dokter Chandra tidak bisa mengambil resiko seperti itu walau dari lubuk hatinya yang paling dalam dia juga sangat ingin melihat Hira kembali sehat dan berumur panjang.
Dia ingat hari pertama bertemu dengan Hira, dua tahun yang lalu, di rumah sakit ini.
Hira datang bersama papanya, Halim yang tampak cemas begitu mendengar kalau putrinya itu pingsan. Saat itu, gadis itu begitu bersinar, penuh energi dan keceriaan.
Siapapun tidak akan pernah menyangka kalau dia akan terkena penyakit mematikan yang akan merenggut hidupnya secara perlahan.
Ketika vonis itu diberitahukan kepadanya dengan sangat hati-hati, yang terjadi sungguh diluar dugaan. Hira menerima vonis itu dengan lapang dada, berbeda dengan papanya yang tampak terpukul dan nyaris menangis. Namun tangisannya tertahan karena melihat putrinya yang begitu tegar.
Selama bulan-bulan berikutnya, Hira hanya mengandalkan obat-obatan untuk menekan perkembangan penyakitnya.
Dia menolak melakukan kemoterapi, dia tahu kalau kemoterapi tidak akan mampu menyembuhkan penyakitnya, dan karena dia juga tahu ada banyak efek samping dari kemoterapi yang menyakitkan, dia memilih untuk menikmati hidupnya yang sekarang dengan sebaik-baiknya karena waktunya terbatas.
Selama 2 tahun belakangan ini juga, Halim tidak diam saja. Pria itu mengerahkan segala cara untuk mengobati Hira, bahkan membawanya keluar negeri untuk melakukan pengobatan di sana.
Namun tidak ada kemajuan yang berarti, hingga akhirnya Hira yang sudah ditahap lelah, memohon pada papanya bahwa dia ingin melakukan pengobatan di Indonesia saja.
Sejak itulah Hira akhirnya menjadi pasien tetap Dokter Chandra. Terkadang jika Hira datang sendirian untuk kontrol penyakitnya dan menebus obat ke rumah sakit, gadis itu akan mengajaknya mengobrol panjang lebar. Dia akan mengeluarkan unek-uneknya yang berisi kekhawatiran pada papanya.
Hira tahu sekali semua pengorbanan yang dilakukan oleh Halim untuknya, dia juga tahu kalau papanya itu kecewa padanya karena memilih untuk tidak melanjutkan pengobatan di luar negeri. Namun, Halim tidak pernah menunjukkannya.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Hira sangat berterima kasih pada papanya. Tapi, papanya juga punya kehidupan yang sama pentingnya. Dia tidak ingin merenggut kehidupan itu dari Halim. Dia ingin papanya punya kehidupan yang normal.
Jika sudah begitu, Dokter Chandra hanya akan tersenyum menyemangati Hira, dia mengatakan bahwa itu adalah bentuk cinta Halim kepadanya, jadi yang bisa Hira lakukan hanya menerimanya.
Biarkan papanya itu melakukan apa yang dia inginkan demi kesembuhan Hira, agar papanya tidak punya penyesalan nanti karena dia sudah melakukan segala hal yang dia bisa, walau semua orang tahu bahwa tidak akan ada yang berubah. Takdir Hira tetap menuju ke arah kematian.
***
Hira tersadar di hari minggu sore, dengan Bu Rina yang tampak terkantuk-kantuk di sampingnya. Sembari menatap langit-langit kamar rawatnya, Hira hanya terdiam dengan pikiran yang rumit.
Berkat dihantam begitu banyak obat penekan rasa sakit dosis tinggi, Hira pulih lebih cepat, rasa sakit dikepalanya mulai berkurang meski tetap saja dia tidak diperbolehkan untuk kembali ke rumah.
Dokter Chandra sering mengunjunginya dan mengajaknya mengobrol. Itu membuat Hira merasa lebih baik karena dia sedikit kesepian di sini.
Dengan setengah terkantuk-kantuk Bu Rina melirik ke arah ranjang Hira dan menemukan nona kecilnya itu sudah sadar. Hal itu membuat dia terkejut sekaligus gembira.