The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #27

DUA PULUH TUJUH

Keesokan harinya...

SMA Bakti Nusantara sejak pagi hari sudah dipenuhi oleh siswa-siswa berseragam putih abu-abu dari berbagai sekolah. Hari ini adalah hari pertama pertama OSN-K untuk beberapa bidang MIPA dan bidang IPS.

Semua orang tampak gugup, beberapa tegang dan beberapa dari mereka terlihat fokus membaca materi. Tekanannya benar-benar luar biasa dan atmosfernya dapat membuat siapapun merasa frustasi.

Aldo tidak jauh berbeda. Dia yang sudah datang bersama dengan perwakilan tim dari SMA Satya Garuda, duduk di bangku taman sekolah bersama beberapa orang rekan timnya sambil membaca materi dari notes kecil yang memang selalu dia bawa kemana-mana. Masih ada waktu sampai ujian dimulai.

Saat sedang asik membaca catatan di notesnya, Aldo merasa bahwa ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Aldo meraba kantung celananya dan menarik keluar ponselnya.

Pasti telepon dari mamanya, sejak kemarin mamanya sangat sibuk memberikan dia wejangan dan semangat.

Aldo sampai hafal dengan kata-kata mamanya. Dia hanya bisa mengangguk-angguk mengerti agar mamanya tidak khawatir.

Namun, Aldo tertegun melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Hira.

Setelah berpikir agak lama, Aldo memutuskan untuk mengangkat telepon dari gadis itu. Terdengar suara berisik dari ujung telepon. 'Sedang ada dimana gadis ini sekarang', batin Aldo.

"Do, bisakah kamu ke gerbang sebentar?" tanya Hira dengan suara keras. Dia berusaha mengimbangi suaranya dengan keramaian yang sedang terjadi di sekitarnya.

Aldo mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"

"Datang saja. Ini gak akan lama. Aku tunggu, ya." pipp... telepon dimatikan membuat Aldo kebingungan.

"Jangan bilang...., masa sih?" gumamnya. Aldo merasa sangsi kalau Hira benar-benar ada di sini sekarang. Atau jangan-jangan yang dia maksud adalah gerbang sekolah mereka.

Ponselnya bergetar sekali, tanda pesan masuk.

'Aku di depan gerbang SMA Bakti Nusantara.'

Aldo tambah bingung, darimana dia tahu kalau hari ini OSN di lakukan di SMA Bakti Nusantara? Hira memang selalu punya banyak cara membuatnya terkejut. Dan, bukankah gadis itu begitu seenaknya. Padahal hari jum'at kemarin mereka sempat bertengkar, lalu sekarang dia muncul kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan memintanya untuk bertemu.

Setelah ijin pada Bu Helen, Aldo bergegas menuju ke arah gerbang sekolah yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya duduk barusan. Mengingat begitu besar dan luasnya sekolah ini.

Sementara itu, Hira berdiri di dekat pos security sekolah dengan memakai dress selutut berwarna kuning cerah, tas kelinci kesayangannya dan bando berwarna senada dengan dressnya terpasang dirambutnya yang tergerai indah. Karena penampilannya yang begitu mencolok, orang-orang yang lewat sampai memperhatikannya dan berbisik-bisik.

Hira memilih untuk tidak mempedulikannya. Hari ini dia datang kesini hanya dengan satu tujuan, dan jika tujuannya itu sudah tercapai, maka dia akan kembali ke rumah sakit.

Saat ini, Bu Rina pasti sudah panik karena tidak menemukan Hira di ranjang rumah sakitnya. Gadis itu pergi diam-diam saat Bu Rina ijin pergi untuk beli sarapan.

Hira yang memang sudah mempersiapkan segalanya dari sehari sebelumnya, memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.

Dia mencopot selang infus, membawa benda yang akan dia berikan ke Aldo dan menaiki taksi yang ada di depan rumah sakit hingga sampailah dia di SMA Bakti Nusantara.

Hira merasa sangat bersalah sekali pada Bu Rina sekarang, tapi dia putus asa. Jika bilang pada papanya maupun Dokter Chandra, sudah jelas dia tidak akan mendapatkan ijin.

Akhirnya dia memilih jalan ekstrim, dia tidak tahu kapan akan ada kesempatan lagi untuk pergi tanpa diketahui siapapun.

Gadis itu menatap seikat bunga baby breath yang dipetik dari taman bunga di halaman belakang rumahnya.

Hira meminta Pak Amir untuk membawakannya bunga itu saat mengantar Bu Rina ke rumah sakit kemarin malam.

Hira beralasan bahwa dia sangat ingin meletakkan bunga itu di nakas sebelah ranjangnya.

Untung saja kondisi bunga itu terlihat masih bagus karena baru dipetik kemarin malam.

"Alin?" panggil seorang gadis yang tampak seusia dengan Hira. Gadis itu memakai kacamata dengan wajah penuh bintik dan rambutnya di kepang satu.

Hira menoleh, dan sedikit terkejut bahwa ada mengenalinya di sekolah ini. Dan terlebih lagi orang itu adalah teman satu SMP nya dulu.

Sierra.

"Ternyata benar Alin."

"A... Halo, Ra. Kebetulan sekali kita bertemu di sini," sapa Hira rikuh.

Sierra mengangguk. Dia menyuruh temannya yang lain untuk pergi duluan dan dia akan menyusul nanti.

"Gimana kabarmu? Sudah lama banget aku ga ketemu sama kamu. Ku dengar kamu gak satu sekolah sama Bella? Kamu sekolah dimana sekarang?" Tanya Sierra.

Hira meringis menerima bombardir pertanyaan dari Sierra.

Sierra adalah teman satu kelasnya di SMP Putri Grisela dulu. Mereka selalu sekelas selama 3 tahun bersekolah. Dan, gadis itu tidak berubah, masih saja sangat cerewet.

"Lalu, kamu berubah. Sekarang lebih modis dan cantik. Dan oh, kamu ga pakai kacamata lagi?" Sierra mengamati Hira dengan pandangan menyelidik.

"Um, yeah, udah berubah jadi cantik masa masih pakai kacamata. Ga matching, kan," Kata Hira bercanda. 

Sierra mengangguk-angguk.

"Kalau Christian lihat kamu, dia bisa tambah jatuh cinta," Sierra tersenyum geli.

Hira mengerutkan keningnya. "Christian?"

Sierra mengangguk.

"Ah, ya. Christian. Aku ingat." Hira terkekeh.

"Kami satu sekolah di sini. Dia sering nanyain kamu loh, kenapa kamu udah ga ikut OSN lagi. Padahal dia belum ngalahin kamu tapi kamu malah menghilang. OSN 2021 juga kamu mengundurkan diri, kan."

Hira tertegun. Dia tidak tahu harus bilang apa, akhirnya dia hanya tersenyum saja.

Sierra juga tidak bertanya lebih jauh. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain. 

Lihat selengkapnya