The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #28

BAB 28 - Perjanjian Dengan Papa dan Nilai Yang Sempurna

Hira sampai di rumah sakit lagi setelah berkendara dengan taksi selama hampir satu jam. Tubuhnya kembali terasa sakit, tapi selain itu dia merasa baik-baik saja.

Dia pergi ke lantai di mana kamar perawatannya berada. Dan sekarang di depan kamarnya itu tampak ramai orang-orang yang mengenakan jas hitam dan perawat-perawat memenuhi lorong. 

Hira mengenal orang-orang berjas hitam itu, mereka adalah bawahan papanya. Seperti semacam bodyguard? Atau entahlah, Hira tidak terlalu tahu tugas mereka apa, tapi terkadang Hira melihat mereka mengawal papanya.

"Ah, gawat." Hira menggigit bibirnya. Dia menghela napas. Tidak terbayangkan olehnya apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Bagaimana bisa kalian tidak memperhatikan pasien yang kalian rawat? Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya, akan saya tuntut rumah sakit ini," terdengar suara Halim yang tenang namun tajam dan penuh penekanan di antara kerumunan orang-orang itu.

Beberapa orang berusaha menenangkan Halim yang terlihat seperti akan menerkam siapa saja yang mendekat.

Dengan wajah gusar, Halim kembali menekan tombol panggilan telepon untuk yang kesekian kalinya. Hira mengeluarkan ponselnya yang berbunyi dari dalam tas kelincinya dan menatap nama papanya yang terpampang di layar ponsel.

Dia tahu kalau sejak tadi banyak sekali orang yang menelepon ke ponselnya, namun Hira memang sengaja tidak mengangkatnya. 

Semua orang menoleh ke arah sumber suara dering telepon dan mendapati Hira yang kemudian menatap mereka semua dengan wajah polos dan senyum yang lebar.

"Um, selamat pagi," sapanya riang.

"Astaga. Non Hira." Bu Rina yang wajahnya pucat pasi segera menghampiri Hira dan memeriksa sekujur tubuh gadis itu, khawatir kalau-kalau Hira terluka.

Halim menurunkan ponselnya dan menatap putrinya dengan wajah yang sukar dilukiskan. Untuk pertama kalinya pria itu tidak tersenyum saat melihat Hira.

Ricky di sebelahnya hanya geleng-geleng kepala melihat putri bosnya itu yang sudah menghilang sejak pagi dan sekarang muncul dengan wajah tanpa dosa.

Ricky memang terkadang merasa kalau Hira sangat konyol dan sering menyusahkan Halim.

Dokter Chandra juga tampak marah namun pria itu dapat menguasai dirinya, dia hanya menarik napas panjang dan menyuruh Hira untuk kembali masuk ke dalam kamar perawatannya.

Hira dituntun oleh Bu Rina kembali ke dalam kamarnya dan dia di bantu untuk mengganti bajunya dengan baju pasien, setelahnya Hira kembali berbaring dan Dokter Chandra melakukan beberapa pemeriksaan padanya.

"Hira, saya tidak akan bertanya kamu darimana. Tapi, kamu tahu kan kalau perbuatanmu ini bisa menimbulkan masalah, untuk kamu sendiri, dan kami semua di sini," tegur Dokter Chandra dengan wajah frustasi.

Dia tidak bisa membayangkan jika Hira telat muncul beberapa menit saja, mungkin mereka semua sudah dilaporkan ke polisi karena lalai menjaga pasien sampai-sampai pasien bisa kabur.

"Saya minta maaf dokter," kata Hira dengan wajah muram.

Dokter Chandra menghela napas lalu keluar dari kamar Hira diikuti perawat meninggalkan Hira dan Bu Rina berdua saja di dalam.

Tidak lama, Halim masuk dan meminta Bu Rina untuk menunggu di luar karena dia ingin bicara berdua saja dengan Hira.

Halim menarik kursi di sebelah Hira. Pria itu mengusap wajahnya yang terlihat lelah dan tampak tirus. Hira merasa sangat bersalah melihat papanya saat ini.

"Jadi, katakan. Kamu darimana?" tanyanya dengan nada tajam. "Hal sepenting apa yang membuat kamu harus pergi tanpa izin, tidak memberikan kabar dan tidak mengangkat telepon papa?"

Hira meringis.

"Katakan dengan jujur, jangan ada yang di sembunyikan."

"Um...," Hira mengalihkan pandangannya dari Halim dan tampak gelisah.

Papanya adalah orang yang sangat baik, tapi bukan berarti dia tidak bisa marah sama sekali.

Halim memperhatikan Hira yang sejak tadi hanya melirik kesana kemari tanpa ada niat untuk menjawab.

"Hira, kamu tahu kan kalau papa tidak suka di bohongi," kata Halim serius.

Hira hanya mengangguk tapi tetap diam seperti enggan menjawab.

Atau dia takut mengatakan hal yang sebenarnya?

"Kamu masih tidak mau bicara? Kalau begitu biar papa ubah pertanyaan papa."

Halim menarik napas panjang. "Apa kamu pergi karena ada hubungannya dengan temanmu itu? Aldo?"

Hira terdiam lama, dia lalu mengangguk pelan, "Aku hanya ingin mengantarkan jimat untuknya yang sedang OSN, Pa."

Halim memejamkan matanya dan mendesah putus asa.

"Papa sungguh tidak mengerti."

Hira bisa menangkap raut kecewa di wajah papanya.

"Sepenting itu kah Aldo bagi kamu? Kamu lebih memilih mengabaikan kondisi kesehatanmu yang sudah lemah hanya untuk mengantarkan jimat padanya?"

"Maaf, Pa."

"Papa tidak butuh permintaan maafmu, Ra. Papa hanya ingin kamu mendengarkan ucapan papa dan Dokter Chandra. Cuma itu. Apa permintaan kami terlalu sulit?" tanya Halim. Hira segera menggeleng.

"Lalu kenapa? Kenapa kamu mengabaikan permintaan kami? Apa kami sudah tidak berarti apapun untukmu? Semua ucapan kami benar-benar tidak penting untukmu?" suara Halim terdengar bergetar. Ada kepedihan dari nada suaranya.

Perasaan tersisih karena dia bukan prioritas bagi putrinya memenuhi dadanya membuatnya merasa sesak.

Hira tidak mempedulikan perasaannya sebagai orang tua yang takut kehilangan putri satu-satunya.

"Tidak, papa. Papa juga sangat penting untukku. Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan papa." Hira menangis terisak.

Halim yang memang sejak tadi tampak muram, menengadahkan kepalanya agar air matanya tidak tumpah.

Lihat selengkapnya