Hira menatap rapor hasil UTS nya yang dipenuhi oleh angka 9. Dia tersenyum lebar lalu menatap Halim.
"Aku hebat, kan?" tanyanya.
Halim mengangguk. "Ya, putri papa sangat hebat sekali."
Hira tersenyum. Janjinya dengan Aldo sudah berhasil dia tepati. Sebentar, bukankah cowok itu juga punya janji untuk mengajaknya nonton jika nilainya bagus semua?
'Haruskah aku menagih janjinya?' Hira melirik ke arah Halim yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
'Tapi, papa pasti tidak akan mengijinkan bukan? Lagipula aku juga sudah berjanji bahwa kemarin adalah terakhir kalinya aku keluar' Hira tampak galau sekali.
Disatu sisi dia ingin sekali menagih janji Aldo untuk nonton dan makan bersama tapi disisi lain, dia memiliki janji yang sangat penting juga dengan papanya.
'Arghh, apa yang harus aku lakukan?'
Pada saat itulah, Hira kembali menatap rapor UTSnya dan seolah menemukan sebuah jalan keluar.
Hira tersenyum lalu mulai merayu papanya. "Pa, karena aku sudah hebat, papa tidak mau beri aku hadiah?"
Halim mendongak lalu bertanya, "Tentu. Kamu mau hadiah apa? Papa akan berikan apa saja yang kamu mau."
Hira berteriak dalam hatinya. 'Yes.'
"Aku belum terpikirkan mau hadiah apa. Nanti kalau aku sudah tahu mau hadiah apa, aku akan beritahu papa. Tapi, papa janji ya akan kabulkan permintaan aku, apapun itu," ujar Hira.
Halim mengangguk. "Ya, papa berjanji. Kapan papa pernah berbohong padamu?"
"Asikk, papa memang terbaik," Hira lalu memeluk Halim saking senangnya dia.
***
Aldo sedang membantu mamanya mengurus kios laundrynya ketika ponselnya bergetar sekali tanda pesan masuk.
Sebuah pesan foto di kirimkan dari nomor Hira. Itu adalah pesan pertama yang dia terima dari Hira sejak pertemuan mereka selasa lalu. Selama ini Aldo memang menahan diri untuk tidak menghubungi Hira lebih dulu.
Meski banyak sekali yang ingin dia tanyakan pada Hira tapi Aldo pikir lebih baik jika dia bertanya langsung pada gadis itu sehingga Aldo bisa menilai apakah gadis itu sedang berbohong atau tidak lewat ekspresi wajahnya.
Tapi, haruskah dia bertanya? Bagaimana jika Hira marah padanya karena dia mencoba mencari tahu tentang masa lalu gadis itu?
Bukankah semua orang wajar memiliki rahasia? Tapi, gadis itu juga sudah membohongi dia.
Aldo merasa sangat dilema. Yah, baiklah, sementara dia akan memperhatikan dulu, dia ingin tahu mau sejauh apa Hira membohonginya.
Aldo kembali menatap pesan dari Hira, merasa penasaran, dia pun membuka pesan itu dan melihat foto rapor UTS Hira yang sebelumnya sudah dia lihat di ruangan Pak Bambang.
'Kamu sudah lihat raporku? Aku sudah menepati janji, kan?'
Aldo menahan senyumnya. Kalau Aldo yang dulu mungkin akan sangat bangga melihat nilai Hira dan berpikir kalau dia memang berbakat menjadi seorang tutor.
Tapi, kenyataannya gadis yang dia ajari memang orang yang sudah cerdas dari awal. Sejujurnya Aldo sungguh malu saat mengetahui fakta itu.
'Ya, kamu sangat hebat, bisa mendapat nilai yang luar biasa dalam waktu sesingkat itu. Sepertinya aku memiliki bakat untuk jadi guru' balas Aldo sarkas.
Hira tersenyum lalu mengetik balasannya.
'Iyaa. Semua berkat kamu. Makasih ya. Lalu, cuma pujian aja? Hehehe...'
Aldo benar-benar tidak habis pikir. Apa Hira tidak mengerti kalau dia sedang sarkas padanya? Gadis itu malah masih sempat berterima kasih padanya. Sungguh gadis yang luar biasa aneh.
Aldo mencoba mengetik balasan pada pesan Hira yang terakhir lalu berhenti mengetik untuk berpikir. Pertanyaan Hira membuat Aldo bertanya-tanya, apa mungkin dia melewatkan sesuatu?
Dia mencoba mengingat-ingat lagi, kenapa ingatannya jadi payah sekali belakangan ini?
Aldo terdiam lama, 'Ah, aku ingat.' Cowok itu lalu tersenyum.
Dia kembali mengetik pesan. Bagaimana jika dia menjahili Hira sedikit?
'Ya. Memangnya ada yang lain?'
Hira menatap pesan balasan Aldo dengan wajah kecewa.
'Tidak. Terima kasih untuk pujiannya.'
Aldo terkekeh. Dia bisa membayangkan ekspresi wajah seperti apa yang sekarang sedang di pasang oleh Hira.
"Pasti wajahnya menggembung lagi seperti hamster," gumam Aldo tidak berhenti tersenyum.
"Hhh, ternyata dia melupakan janjinya. Padahal aku sudah susah payah mendapat nilai diatas standar," Hira mendesah pelan, antara kesal dan kecewa, semua jadi satu.
Halim yang sejak tadi masih duduk di kursi disebelah ranjang Hira melirik ke arah putrinya itu.
"Kenapa sayang?" tanyanya.
Hira menggeleng. "Bukan apa-apa, kok, pa."
Halim mengerutkan keningnya lalu beranjak bangun.
"Kalau begitu papa mau kembali ke kantor dulu, ya. Nanti sore papa akan ke sini lagi. Sementara kamu sama Bu Rina dulu."
Hira mengangguk. Dia melirik ponselnya, satu pesan telah masuk dari Aldo.
'Maaf aku cuma bercanda. Hari minggu, jam 11 siang di Mall Central Park, ya.'
Melihat pesan terbaru dari Aldo, Hira langsung kembali bersemangat. Dia buru-buru mencegah papanya yang hendak kembali ke kantornya.
"Tunggu, papa," suara Hira terdengar nyaris seperti teriakan membuat Halim terkejut. Pria itu menoleh.
"Papa, aku boleh meminta hadiahku sekarang?" tanya Hira.
"Ya. Kalau kamu sudah memutuskan kamu bisa memintanya sekarang, jadi nanti sore akan papa bawa ke sini."
Hira menggeleng. "Aku tidak ingin barang. Aku punya permintaan yang lain."
Halim mengernyit. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, dan benar saja, saat Hira akhirnya mengutarakan hadiahnya, dunia Halim seperti baru saja di jatuhkan bom atom.
"Coba kamu ulangi permintaanmu barusan," kata Halim.
"Tolong ijinkan aku untuk pergi nonton di Mall Central Park hari minggu ini," kata Hira dengan tegas tanpa merasa bersalah sama sekali pada papanya.
Halim mengusap wajahnya frustasi. "Candaan macam apa yang kamu katakan barusan."
"Kamu lupa soal pembicaraan kita yang terakhir? Apa kata-kata papa kurang jelas?" tanya Halim dingin.
Hira meringis.
"Aku tahu. Tapi, aku punya janji yang penting dengan Aldo, pa," kata Hira.