The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #30

TIGA PULUH

Aroma sisa kue kering, cerita mudik yang menggebu-gebu, dan gelak tawa riuh memenuhi setiap sudut kelas 2 IPA 1. Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang Lebaran selalu menjadi momen paling bising.

Anak-anak IPA yang biasanya berkutat dengan rumus, kini sibuk bersalaman, memamerkan kulit yang menggelap karena berlibur, atau sekadar mengeluh malas karena harus kembali berhadapan dengan pelajaran-pelajaran rumit dan persiapan UAS untuk kenaikan ke kelas 3.

Namun, bagi Aldo, dua minggu liburan kemarin tidak lebih dari penantian panjang yang menggerogoti pikirannya sedikit demi sedikit.

Aldo duduk di bangkunya yang berada di barisan pojok depan dekat jendela, menopang dagu dengan satu tangan. Matanya lurus menatap ke luar jendela, ke arah lorong gedung seberang, tempat di mana kelas-kelas anak IPS berada.

Selama dua minggu terakhir ini, Aldo tidak berhenti menghubungi Hira. Puluhan pesan dia kirim, mulai dari yang awalnya bernada ketus karena Hira ingkar janji, hingga pesan-pesan terakhir yang murni berisi kekhawatiran. Namun semua pesan itu tidak pernah terkirim kepadanya.

Aldo ingin tahu apa yang terjadi pada Hira sebenarnya. Oleh karena itu, siang nanti dia berniat untuk ke kelas Hira.

Dia ingin bertemu gadis itu dan menumpahkan semua rasa stres dan frustasinya.

Dia ingin bertanya kemana saja gadis itu selama ini? Kenapa dia tega meninggalkannya sendirian menunggu begitu saja tanpa penjelasan. Menggantungnya dengan perasaan tidak berdaya dan tidak berharga.

Aldo bahkan mencoba berpikir kira-kira apa kesalahannya hingga Hira memperlakukannya seperti ini.

Hari ini, gadis itu harus bisa menjelaskan padanya, alasan yang bisa dia terima.

Tiba-tiba, Elvira, datang dengan membawa satu berita besar yang mengguncang SMA Satya Garuda di hari pertama mereka kembali bersekolah.

"Berita besar guys," katanya dengan napas terengah.

Sepertinya gadis itu berlari secepat mungkin karena ingin segera menyampaikan berita penting pada teman-teman sekelasnya. Semua orang menoleh, tak terkecuali Aldo yang biasanya paling tidak peduli pada berita penting yang terjadi di sekolah.

"Hira...," Elvira menarik napas panjang, semua orang menunggu. "Hira anak kelas 2 IPS 4, berhenti sekolah."

Seperti ada palu besar yang menghantam dada Aldo saat mendengar berita mengejutkan itu.

Semua orang di kelas yang sama terkejutnya, kompak menoleh ke arah Aldo yang mematung di bangkunya.

"Serius? Kenapa?" tanya Jenny.

"Hei, Elvira, kamu dengar dari siapa?" tanya Ronny.

"Aku dengar dari guru-guru di ruang guru. Serius loh aku, ngapain juga aku bohong," ujar Elvira.

Mila yang juga berada di kelas sangat terkejut mendengar berita keluarnya Hira dari sekolah. Padahal dia baru saja ingin menyebar gosip tentang kebohongan gadis itu pada seisi sekolah.

Orang-orang menatap meja Aldo yang kosong. Cowok itu segera keluar kelas setelah sempat terdiam beberapa lama di bangkunya.

"Aldo pasti terpukul," kata Darrel.

"Kalian ga liat wajahnya? Sepertinya dia juga ga tahu."

"Wah, Hira parah sih keluar ga bilang-bilang."

Semua orang sibuk berasumsi kira-kira apa penyebab Hira berhenti sekolah.

***

Aldo melangkah cepat menuju ruang Pak Bambang dengan perasaan yang berkecamuk. Langkah kakinya bergema di sepanjang koridor menuju ruang Kepala Sekolah.

Setiap langkahnya terasa semakin berat seiring dengan debaran jantungnya yang kian tidak beraturan. Sesampainya di depan pintu kayu bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah', Aldo menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya agar kembali datar sebelum mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Lihat selengkapnya