Tuk... Tuk...
Orang-orang menoleh ke arah Aldo yang kini duduk melamun menatap kertas soal diktat OSN di hadapannya dengan pandangan kosong.
Sementara itu, Bu Helen di depannya mengetuk-ngetuk pena meminta atensi dari Aldo yang tidak fokus mendengarkannya.
Bu Helen bersedekap.
"Aldo!" kali ini Bu Helen memanggil Aldo dengan suara agak keras membuat cowok itu mendongak dengan rikuh.
"Kalau kamu mau bengong, jangan masuk ke kelas bimbingan saya. Saya tidak suka jika ada orang yang tidak fokus belajar. Jika hanya akan menghambat kita semua di sini sebaiknya kamu keluar."
"Maaf Bu," Aldo hanya bisa meminta maaf dengan suara pelan lalu lanjut mengerjakan soal-soalnya sambil terus berusaha untuk fokus.
Orang-orang berbisik, mencoba menerka-nerka apa kira-kira penyebab Aldo bengong selama bimbingan OSN-P yang 2 minggu lagi akan dilaksanakan.
Dan mereka semua sepakat bahwa penyebab Aldo tampak kosong seperti ini adalah karena berita tentang keluarnya Hira dari SMA Satya Garuda.
Berita tentang keluarnya Hira memang menyebar cepat bak virus flu burung. Membuat gempar satu sekolah dan khususnya kelas 2 IPS 4. Mereka semua tidak menyangka bahwa, hari jumat sebelum lebaran itu adalah hari terakhir gadis itu menjadi siswi di sekolah ini.
Mereka tidak sempat berpamitan dan berfoto bersama karena Hira juga tidak lagi masuk sekolah sejak terakhir datang ke sekolah untuk mengikuti UTS susulan.
Teman-teman Hira seperti Kesha, Farah, dan Santi benar-benar merasa kehilangan. Terutama Kesha, gadis itu menangis saat pertama kali mendengar berita itu waktu Bu Tanty mengumumkannya di depan kelas.
"Dia kenapa keluar? Terus kenapa ga bilang-bilang sama kita?" Kesha berucap lirih. "Dia parah banget. Apa dia ga anggap kita teman selama ini?"
Farah cuma bisa menghibur Kesha, sementara Santi cuma bisa terdiam. Di hari OSN-K kemarin, dia mendengar desas desus tentang Hira.
Tim OSN mereka yang bersitegang dengan tim OSN dari SMA Bakti Nusantara membeberkan fakta bahwa gadis itu adalah Saphira Adeline Dinata.
Santi sendiri pernah mendengar nama Saphira ketika SMP. Namun, Santi yang hanya berhasil sampai ke tahap OSN-K, tidak pernah berhadapan langsung dengan Saphira sehingga dia tidak tahu sosoknya seperti apa.
Nama Saphira cukup terkenal dikalangan anak-anak cerdas jaman SMP karena sering menjuarai lomba dan pernah meraih Absolute Winner OSN SMP tahun 2020. Siapa yang menyangka, Saphira yang 'itu' ternyata orang yang selama ini mereka kenal sebagai Hira?
Santi tidak ingin langsung mempercayainya mengingat prestasi gadis itu di sekolah sangat berbanding terbalik dengan Saphira, makanya tadinya dia ingin bertanya langsung ke Hira kalau gadis itu masuk sekolah hari ini.
Tapi, sepertinya hari itu tidak akan pernah datang. Hira keluar dari sekolah tanpa penjelasan, bahkan nomor ponselnya saja sudah tidak aktif.
Gadis itu meninggalkan banyak pertanyaan dan juga luka bagi beberapa orang yang merasa dekat dengannya. Ternyata selama ini Hira tidak menganggap mereka apapun meski sudah berteman dekat selama 2 tahun ini.
***
Pukul 16.30, Aldo berdiri di parkiran area rumah sakit Royal Medika. Akhirnya dia berada di sini setelah jam-jam panjang bimbingan OSN-P yang menguras pikiran dan mentalnya. Ditambah kurang fokusnya dia terhadap materi OSN-P membuatnya merasa kesulitan mengikuti bimbingan dengan Bu Helen.
Ada rasa cemas yang melandanya kala dia menatap bangunan rumah sakit yang megah dan menjulang tinggi dihadapannya itu. Hatinya belum siap untuk menerima kenyataan jika Hira benar-benar berada di sini untuk menerima perawatan intensif.
Selama 10 menit, Aldo menghabiskan waktunya dalam keragu-raguan haruskah dia masuk ke dalam atau dia pulang. Tapi, dia sudah datang sejauh ini.
Akhirnya setelah memantapkan hati, Aldo berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Tercium wangi antiseptik begitu dia menginjakkan kakinya ke lobby.
Cowok itu mendekati bagian informasi.
"Selamat sore," sapa Aldo sopan.
"Ya, selamat sore. Ada yang bisa dibantu?" sapa salah satu resepsionis ramah.
"Um, saya mau tanya apa ada pasien atas nama Hira Halim dirawat di sini?"
"Tunggu sebentar, ya."
Resepsionis itu segera melakukan pengecekan melalui database pasien di komputernya, dan mencari nama Hira Halim.
Keningnya berkerut.
"Maaf, di sini tidak ada pasien dengan nama Hira Halim."
Aldo terkejut. "Tapi, saya dengar Hira dirawat di sini."
"Ya, tapi nama tersebut tidak ada di sistem kami."
"Apa mungkin dia sudah pindah rumah sakit?" gumam Aldo. Dia terdiam beberapa saat di meja resepsionis lalu tersadar akan satu hal.
Ya, nama gadis itu bukanlah Hira Halim.
"Kalau begitu, apa ada pasien dengan nama Saphira Adeline Dinata?"
"Saphira? Tunggu sebentar, ya."