The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #32

TIGA PULUH DUA

Diana mengetuk pintu bernomor 708 dihadapannya. Setelah mendengar semua cerita Aldo kemarin sore, Diana memutuskan untuk menjenguk Hira siang itu setelah menutup kiosnya lebih awal dan sebelum dia berangkat mengajar les.

Bu Rina keluar untuk mengecek siapa yang datang dan menemukan seorang wanita cantik berambut sebahu dengan tatapan teduh menyapanya.

"Non, ada yang datang jenguk. Wanita cantik, namanya Diana," kata Bu Rina.

Melihat Hira terdiam, Bu Rina kembali berkata, "Apa Ibu suruh pulang saja?"

Hira menggeleng. "Tidak bu. Tolong suruh Tante Diana masuk, dan Bu Rina, tolong tinggalkan kami berdua, ya."

Bu Rina mengangguk lalu meninggalkan kamar setelah mempersilakan Diana untuk masuk.

Diana tidak kuasa menahan air matanya melihat Hira.

"Ya Tuhan, sayang." Wanita itu menghampiri Hira dan menggenggam tangannya yang dingin dan kurus. Hira tampak ringkih dan rapuh.

"Hai, tante," sapa Hira dengan senyum cerianya, tapi di sudut matanya ada air mata yang menetes.

Diana menatap Hira dengan wajah sedih, dia tidak dapat menutupi perasaan hancurnya melihat kondisi Hira sekarang.

"Hira sakit apa? Kenapa gak pernah cerita sama tante?" Diana mengusap air mata dari pipi Hira yang dingin.

Hira tersenyum lalu menggeleng.

"Kalau Hira ga mau cerita gak apa-apa. Tapi, Tante sedih sekali melihat Hira seperti ini."

"Aku belum siap Tante. Aku gak tahu harus mulai darimana," ucap Hira.

Diana mengangguk-angguk. "Gak apa-apa, gak usah memaksakan diri. Sekarang kondisi kamu gimana?"

Hira tersenyum, "Aku baik, Tan."

Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk mengobrol dengan akrab, Hira juga akhirnya mengatakan semua hal tentang penyakitnya yang sudah menggerogoti tubuhnya sejak lama.

Diana menangis tersedu-sedu mendengar Hira yang menceritakan segalanya tanpa menangis.

Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya lah yang ada di posisi Hira.

"Hira anak yang kuat. Kamu hebat sudah bertahan sejauh ini. Pasti kamu kesakitan dan kesepian menahan semuanya sendirian selama ini." Diana menyeka air matanya yang mengalir deras.

Hira mengangguk. Dia tertawa melihat Diana yang menangis tidak kunjung berhenti. Sapu tangan wanita itu bahkan sampai basah.

Sekitar pukul setengah dua siang, Diana pamit karena dia harus mengajar les. Dia bilang kalau dia akan sering mengunjungi Hira, dan membawakan gadis itu beberapa makanan kesukaannya.

Diana tidak sanggup melihat Hira yang begitu kurus sekarang mengingat Hira yang dulu dia kenal adalah seorang gadis gembul yang suka sekali makan.

"Tante pamit ya, sayang," kata Diana dari depan pintu sambil melambai. Hira balas melambai. Diana juga pamit pada Bu Rina yang menunggu di selasar rumah sakit.

Wanita itu berjalan menuju lift. Wajahnya sembab, begitu juga matanya sedikit merah dan bengkak.

Ricky keluar dari lift menuju kamar Hira. Dia menerima telepon dari Halim untuk pergi duluan ke sana karena pria itu mau menemui Dokter Chandra untuk berkonsultasi tentang kondisi Hira.

"Oke, baiklah," kata Ricky yang sedang berbicara melalui ponselnya. Dia menatap seorang wanita yang sedang menundukkan kepalanya pada Bu Rina untuk berpamitan.

Ricky terpaku menahan napas saat dia bertemu pandang dengan wanita itu.

Diana melihat seorang pria, sepertinya berusia 40an berhenti tidak jauh darinya dan menatapnya intens.

'Siapa ya? Kenapa dia ngeliatin kayak gitu?'

Diana yang tidak mau ambil pusing segera beranjak menuju lift karena dia tidak mau terlambat mengajar.

Sementara itu, Ricky yang masih terbengong-bengong akhirnya tersadar beberapa saat kemudian, setengah berlari pria itu mencoba mengejar Diana yang sudah masuk ke dalam lift. Dan, sesaat sebelum pintu lift tertutup mereka kembali bertatapan.

"Deina."

Ricky menekan tombol lift dengan napas memburu, namun lift sudah melaju turun ke bawah.

Mau tidak mau, dia menunggu lift yang berada disebelahnya dengan perasaan kesal dan tidak sabaran.

Ketika akhirnya dia berhasil ke lobby. Deina, wanita itu sudah tidak ada. Ricky bahkan mencari sampai ke parkiran, tapi hasilnya nihil.

Dengan langkah lunglai, Ricky kembali. Dia masuk ke dalam kamar Hira di mana Halim sudah berada di sana dan sedang duduk sambil menikmati makan siang yang dia pesan dari kantin rumah sakit.

"Darimana saja kau? Kenapa kau baru sampai?" tanya Halim.

"Aku... Aku bertemu Deina. Aku mengejarnya sampai keluar tapi dia tidak ada," kata Ricky pelan.

"Hah?" Halim mengerutkan keningnya. "Pasti kau halu karena belum makan siang. Ayo makan dulu makanya."

Hira memperhatikan Halim dan Ricky yang terlihat sedang berdebat.

"Aku gak halu. Aku bersumpah aku melihat Deina. Dia keluar dari ruangan ini, dan bahkan menyapa Bu Rina."

Mendengar itu, Halim dan Ricky kompak menoleh ke arah Hira. Mereka tidak bisa menanyai Bu Rina karena dia sudah disuruh pulang sejak tadi oleh Halim untuk istirahat.

Pria itu memutuskan untuk bekerja dari rumah sakit hari ini karena kebetulan tidak ada pekerjaan yang terlalu mendesak. Itulah sebabnya dari siang mereka sudah berada di rumah sakit.

"Ada apa?" tanya Hira keheranan melihat kedua pria di sofa sana menatapnya.

"Sayang, apa tadi ada yang datang mengunjungimu?" tanya Halim.

Hira mengangguk.

"Siapa dia?" kali ini Ricky yang bertanya dengan nada cemas.

Hira mengerutkan keningnya. Pria-pria ini kelakuannya aneh sekali dan tampak tidak biasa. Dan begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh putrinya, sendok yang sedang dipegang oleh Halim pun terjatuh dari pegangannya.

"Dia Tante Diana. Mamanya Aldo."

***

Lihat selengkapnya