The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #33

BAB 33 - Buku Bersampul Hitam

Halim memberikan instruksi pada Ricky untuk keluar dari kamar Hira, sementara itu Aldo sudah menunggu di depan.

"Kenapa kita mesti keluar?" tanya Ricky.

"Kau gila? Mau ngapain kita di sini? Kita harus keluar dan berikan mereka waktu untuk bicara berdua," kata Halim kesal. Kenapa pria di depannya ini tidak peka sama sekali?

"Baiklah." Ricky pun berjalan keluar dengan langkah berat dan saat itulah matanya bertatapan dengan Aldo yang sedang bersandar di tembok seberang kamar Hira.

Pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Do, masuklah," kata Halim pada Aldo yang segera masuk ke dalam. Saat dia melewati Ricky yang masih berdiri di depan pintu, Aldo memberikan gestur menunduk untuk menyapa dengan sopan.

Halim menahan tawanya memperhatikan Ricky yang terlihat canggung setengah mati. Setelah Halim menutup pintu kamar Hira, dia lalu menepuk bahu Ricky dan mengajaknya pergi.

"Mau kemana?" tanya Ricky bingung.

"Ngopi?" tanya Halim balik.

"Bukannya tadi udah?"

"Aduh, udah ikut aja." Halim menarik lengan Ricky menjauh dari kamar Hira.

Meski enggan dan sesekali masih menoleh ke belakang, tapi pria paruh baya itu akhirnya pasrah mengikuti langkah Halim untuk turun ke kafetaria di lantai bawah.

Sementara itu...

Kesunyian yang mencekam menyelimuti kamar 708, tempat di mana Hira dan Aldo saat ini berada dalam satu ruangan yang sama.

Tidak ada sapaan ceria Hira yang biasanya. Gadis itu tampak pendiam, sangat berbeda dengan suaranya saat di telepon beberapa waktu lalu.

Aldo memperhatikan Hira yang juga membuang pandangannya ke arah lain, enggan menatapnya langsung.

Jika penolakan ini terjadi kemarin, Aldo mungkin akan merasa terluka dan berbalik pergi. Tapi, Aldo yang sekarang sudah tahu penyebab Hira bertindak demikian.

"Um, hai Ra...," Aldo memecah keheningan di antara mereka.

Langkah kakinya bergerak pelan, mendekati sisi ranjang Hira.

"Hai, Do." Hira membalas sapaan Aldo dengan suara yang sedikit serak.

Saat ini perasaan Hira sungguh tidak karuan. Aldo sudah ada di hadapannya. Dia tidak bisa kabur lagi, tidak ada pilihan lain selain menghadapinya.

Gadis itu kemudian menoleh pelan sambil tersenyum. Itu adalah senyum ceria yang sama seperti biasanya, namun entah mengapa, pemandangan itu justru membuat hati Aldo terasa sangat pedih.

"Ummm….,” Hira mencoba mencari topik pembicaraan, matanya jelalatan kemana-mana dan tangannya dia remas sekuat mungkin. “Itu, begini… coba lihat, sekarang rambutku sudah tidak ada. Aku sengaja mencukurnya karena cuaca belakangan ini sangat panas," ujar Hira dengan nada riang yang dipaksakan. Dia menunjuk kepalanya yang kini tertutup beanie hat.

Aldo terdiam. Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi yang bisa dia lakukan adalah tetap mendengarkan Hira.

"Dan aku... sekarang sedang menjalani diet ketat, makanya aku sangat kurus. Ah, lalu penglihatanku tambah parah, makanya aku pakai kacamata kayak kamu. Aku..... aku...."

Hira menelan ludah dengan susah payah. Dia ingin terus meracau, ingin terus mengarang alasan konyol agar Aldo percaya bahwa dia baik-baik saja.

Namun, tenggorokannya mendadak tercekat. Saat matanya berani melirik ke arah Aldo, dia tidak menemukan sorot kemarahan akibat pengusirannya kemarin.

Cowok itu hanya berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang begitu teduh, penuh dengan rasa bersalah sekaligus ketulusan.

Suara Hira yang tadi penuh semangat mendadak lirih. Pertahanannya runtuh total. Air matanya tumpah begitu saja.

Melihat Aldo berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sama dan tidak berubah, membuat Hira merasa sangat senang sekaligus sedih di saat yang bersamaan.

Dia sungguh benci memperlihatkan dirinya yang hancur seperti ini di depan Aldo.

Hira buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan yang tertancap jarum infus.

Melihat itu, tangan Aldo dengan cekatan bergerak, memegangi pergelangan tangan Hira dengan lembut agar gadis itu tidak melukai dirinya sendiri.

Genggaman tangan Aldo hangat, berbanding terbalik dengan kulit Hira yang sedingin es.

“Kalau kamu mau menangis, aku akan pinjamkan punggungku,” bisik Aldo serak.

Matanya sendiri sudah memerah menahan gejolak emosi di dadanya.

Hira terdiam cukup lama, menatap jemari Aldo yang mengunci tangannya, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

Ya, dia sudah terlalu lelah menangis sendirian selama ini.

Saat ini, dia sangat membutuhkan bahu seseorang untuk membagi bebannya.

“Kalau begitu... bisakah kamu berbalik?” tanya Hira pelan, nyaris tak terdengar.

Aldo mengangguk patuh. Dia melepaskan genggaman tangannya, lalu memutar tubuhnya, memunggungi Hira yang duduk di ranjang.

Tidak butuh waktu lama, Aldo merasakan Hira menyandarkan dahinya di punggungnya.

Detik berikutnya, bahu gadis itu terguncang hebat. Hira menangis sesenggukan.

Tangis yang selama ini dia sembunyikan dari Papanya, dari dunia, kini tumpah seluruhnya.

Air mata Hira merembes, membasahi seragam yang dikenakan Aldo, menimbulkan rasa hangat sekaligus sesak yang menjalar ke dada cowok itu.

Aldo tidak keberatan sama sekali. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Sesungguhnya, Aldo juga sangat ingin menangis sekarang.

Tapi dia mati-matian menahannya hingga rahangnya mengeras. Kesedihan dan rasa sakitnya saat ini tidak sebanding dengan penderitaan yang telah dilalui Hira.

Oleh karena itu, setidaknya Aldo harus menjadi sosok yang lebih kuat agar bisa mendampingi gadis itu melewati ini semua.

***

Satu jam berlalu setelah badai tangis itu mereda. Hira akhirnya tertidur karena kelelahan, efek dari kondisi fisiknya yang lemah dan pengaruh obat-obatan.

Aldo menatap Hira yang tertidur setelah kelelahan karena menangis cukup lama di punggungnya.

Di sela-sela tangisnya, Hira tidak henti-hentinya membisikkan kata maaf padanya. Aldo benar-benar tidak tahu harus bagaimana, hatinya remuk mendengar ucapan maaf yang terdengar lirih di telinganya itu.

Tangannya menyeka jejak-jejak air mata yang masih tertinggal di sudut mata Hira. Cowok itu juga mengamati semua perubahan fisik Hira dengan detail.

Wajah gadis itu begitu pucat dan tirus, tubuhnya menjadi kurus dan rapuh, lalu perubahan paling mencolok adalah rambut hitam panjangnya yang cantik telah berubah menjadi beanie hat.

"Kenapa kamu sampai seperti ini, Ra?" bisik Aldo lirih. Melihat sendiri seseorang yang awalnya begitu berwarna berubah drastis hanya dalam kurun waktu beberapa bulan. Hatinya begitu sakit.

Aldo bergerak perlahan, membetulkan selimut yang menutupi tubuh Hira hingga sebatas dada.

Wajah gadis itu terlihat sangat lelah, namun seulas senyum tipis tampak tersungging di bibirnya yang pucat. Dia tampak jauh lebih tenang setelah menumpahkan segala bebannya.

Dan, meski pada akhirnya Aldo tidak mendapatkan jawaban dari Hira untuk semua pertanyaan-pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalanya, tapi Aldo lega karena setidaknya hari ini dia bisa menjadi sandaran bagi Hira yang selama ini selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja padahal gadis itu justru sedang tidak baik-baik saja.

Saat hendak merapikan posisi tidur Hira, Aldo menyadari gadis itu tertidur sambil memeluk sebuah buku tebal berukuran mungil bersampul hitam.

Aldo menarik buku itu pelan-pelan dari dekapan Hira, berniat untuk menaruhnya di atas nakas agar Hira bisa tidur dengan nyaman.

Namun, gerakan tangan Aldo terhenti di udara ketika matanya tanpa sengaja menangkap tulisan di halaman buku yang tidak sengaja terbuka. Ditulis dengan huruf kapital yang cukup besar dan tulisannya langsung membuat kening Aldo berkerut dalam.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat membaca untaian alfabet yang membentuk namanya sendiri di sana: ‘SEMUA TENTANG ALDO’.

Aldo menatap wajah tidur Hira sejenak, lalu kembali menatap buku di tangannya. Dia berpikir keras, mengalami perang batin yang hebat di dalam kepalanya.

Logikanya mengatakan untuk tidak membuka buku itu karena itu melanggar privasi Hira, itu hal yang salah dan melanggar prinsip hidupnya.

Namun, rasa bersalahnya yang menumpuk, ditambah rasa penasaran mengapa namanya tertulis di sana sebagai judul utama, membuat jemari Aldo mengkhianati egonya sendiri.

Akhirnya setelah menimbang-nimbang, dengan tangan yang sedikit gemetar, Aldo memutuskan untuk membaca buku itu dimulai dari halaman pertama.

Tulisan Hira di lembar-lembar awal buku itu masih lah terlihat sangat rapi dan bagus, sangat kontras dengan coretan tangannya yang sekarang tampak lemah dan berantakan.

___

Juli 2022…

Hari ini sangat istimewa. Coba tebak kenapa? Ya tentu saja karena hari ini aku resmi menjadi siswi di SMA Satya Garuda. Aaaakkk…. Aku deg-degan banget ya Tuhan, aku betul-betul tidak sabar menantikan bagaimana kehidupanku di SMA ini. Apalagi akhirnya aku satu sekolah dengan Aldo. Hemmm… kira-kira Aldo ingat aku gak ya? Mungkin dia tidak akan mengenaliku, karena aku memutuskan untuk menggunakan nama Hira Halim.

___

Tangan Aldo gemetar setelah membaca halaman pertama buku itu. Di halaman pertama buku itu jelas tertera namanya dan juga tertulis tahun 2022?

Aldo mengalihkan pandangannya ke wajah Hira yang tertidur. Ada tanda tanya besar dalam otaknya. Apa itu artinya Hira sudah mengenal dia sebelumnya? Jauh sebelum mereka berkenalan secara resmi di ruang Pak Bambang waktu itu?

Lihat selengkapnya