The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #34

TIGA PULUH EMPAT

“Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?” tanya Halim sambil menyesap tehnya.

“Tentang apa?” Ricky balik bertanya. Pria itu terlihat bosan.

Dia berada di kafetaria hanya untuk melihat Halim minum teh. Suasana kafetaria yang tidak terlalu ramai tidak menarik untuknya.

Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah Aldo yang berada di kamar rawat Hira.

“Tentu saja putramu. Sudah di depan mata masa masih tidak mau melakukan apa-apa?” kata Halim.

Ricky mendengus. “Bukankah kau yang tadi menghalangiku untuk bicara dengannya? Aku mau bicara dengannya tapi kau malah membawaku turun hanya untuk menemanimu minum teh.”

Halim terkekeh. “Yang benar saja dong. Apa kau tidak bisa lihat? Putramu kesini untuk bertemu putriku. Jadi aku tidak bisa membiarkanmu merusak momen mereka. Lagipula, kalau kau mau mengadakan pertemuan keluarga yang mengharu biru tolong jangan di sini. Aku tidak bisa membiarkan putriku terlibat drama keluarga kalian.”

“Ya… ya. Aku tahu. Aku akan segera mencari waktu untuk ke rumahnya dan bertemu langsung dengan Deina dan Aldo. Tapi tidak sekarang. Aku masih butuh persiapan.”

Halim mengangguk-angguk. “Jujur saja, kau sangat beruntung. Anakmu tumbuh besar jadi anak yang cerdas dan sopan. Sepertinya dia dibesarkan dengan sangat baik oleh Deina padahal mereka hidup dalam kekurangan.”

Ricky mengangguk setuju lalu menatap Halim. “Ngomong-ngomong siapa ya yang dulu sering marah diam-diam hanya karena mendengar putrinya tiba-tiba bilang menyukai seorang cowok? Sampai bela-belain pindah sekolah?” ledeknya pada Halim yang terkekeh.

“Loh, kemarahanku berdasar dong. Tiba-tiba Hira bilang dia lagi suka sama seorang cowok dan aku tidak tahu siapa cowok yang disukai olehnya selain namanya Aldo. Jangankan bertemu, aku mau menyelidiki tentang anak itu pun dilarang keras olehnya. Aku bisa apa selain marah?”

Halim lalu membalas Ricky, “Kau juga dulu selalu bilang kalau putriku konyol karena sampai rela pindah sekolah hanya untuk mengejar seorang cowok.”

Ricky tertawa kecil, “Aku tidak akan membela diri, tapi memang kelakuan putrimu sangat konyol. Di dunia ini mungkin hanya putrimu saja yang begitu totalitas saat mengejar cowok yang dia sukai. Bahkan sampai sekarang aku masih mengingat semua hal konyol yang Hira minta padamu.”

Halim dan Ricky sedang membahas pertemuan dengan klien tadi siang saat Hira muncul di ruang kerja papanya.

Sejujurnya Ricky selalu merasa terganggu dengan kehadiran Hira yang kerap kali datang dan membuat konsentrasi mereka menjadi buyar.

Karena setiap kali Hira datang, Halim akan berbicara dulu dengan putrinya, membuat pekerjaan mereka menjadi tertunda.

Seperti hari ini, gadis itu tiba-tiba datang dan membuat permintaan yang sangat aneh. Dia memohon untuk masuk ke SMA Satya Garuda, yang jarak sekolahnya sangat jauh dari rumahnya yang membutuhkan waktu satu setengah jam untuk sampai.

Padahal sebelumnya dia bilang kalau dia ingin masuk ke SMA yang sama dengan Arabella, sahabat baiknya sejak masuk SMP.

Apalagi sekolah yang menjadi tujuannya bersama Arabella adalah sekolah khusus putri terbaik dengan banyaknya lulusan dari SMA itu yang berhasil diterima di Universitas bergengsi.

Saat itu, Hira menjawab dengan tegas dan memantapkan hati bahwa cowok yang dia suka masuk ke sekolah itu. Makanya dia ingin mengejarnya dengan masuk ke sekolah yang sama.

Mendengar jawaban Hira, pena yang sedang di pegang oleh Halim bahkan sampai terlepas dari pegangannya saking syoknya dia.

Sedangkan Ricky hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan alasan konyol Hira.

Bahkan setelah itu Hira juga masih menyuruh papanya untuk menjadi donatur di SMA barunya tersebut.

Alasannya tentu saja karena cowok yang dia sukai adalah salah satu penerima beasiswa siswa berprestasi.

Padahal Halim bisa saja menolak permintaan putrinya yang tidak masuk akal itu, tapi karena Halim sangat menyayangi putrinya, dia langsung menyetujui permintaan Hira dengan menyumbangkan sejumlah besar uang yang sebagian di gunakan sebagai beasiswa untuk membantu murid-murid tidak mampu dan sebagian lagi untuk membangun fasilitas sekolah.

Kemudian dihari yang lain gadis itu datang lagi dengan permintaan tidak masuk akal lainnya.

Dia meminta papanya untuk bicara pada Kepala Sekolah agar di berikan partner belajar untuk meningkatkan nilai sekolahnya yang amburadul.

Jujur saja, Ricky ingin tertawa mendengarnya, pria itu tahu persis bagaimana cerdasnya Hira, namun gadis itu malah sengaja membodohi satu sekolah dengan akting menjadi siswi bodoh.

Meski sebenarnya memang ada kondisi medis di balik aktingnya, tapi tujuannya keduanya jelas, gadis itu ingin mendekati cowok yang di sukainya selama dua tahun ini.

Halim sampai geleng-geleng kepala melihat kekeras kepalaan Hira yang benar-benar ngotot ingin di ajarkan oleh cowok itu.

Halim bahkan sampai penasaran siapa cowok yang membuat putrinya menjadi begitu berubah.

Tapi Hira melarang papanya untuk mencari tahu tentang cowok itu lebih jauh selain namanya.

Renaldo Elias atau dipanggil Aldo. Nama yang tidak terdengar istimewa.

Tapi, siapa yang menyangka kalau cowok yang dikejar mati-matian oleh Hira itu adalah putranya sendiri yang selama ini tidak pernah diketahui keberadaannya.

"Kupikir kau akan marah-marah pada Aldo. Karena kau terlihat membenci dia," ucap Ricky.

Halim tertawa. Ucapan Ricky tidaklah salah. Halim yang dulu memang kesal sekali jika Hira sudah mulai menyebut-nyebut nama Aldo.

"Memang. Sampai beberapa waktu lalu aku masih kesal setengah mati setiap dengar nama anak itu keluar dari mulut Hira," kata Halim jujur, pria itu tersenyum miris.

"Aku kesal karena seolah-olah hanya cowok itu saja yang menjadi pusat dunia putriku."

Ricky mengangguk, dia bisa memahami alasan Halim.

Lihat selengkapnya