The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #35

TIGA PULUH LIMA

Hari sudah beranjak sore. Hari ini pun berlalu dengan begitu cepat. Seperti hari-hari biasanya, Hira menghabiskan waktunya dengan memandangi jendela kamarnya dari atas kursi roda.

Di atas pangkuannya, sebuah buku bersampul hitam hampir selalu dia bawa kemana pun seolah itu adalah benda keramat.

Semburat jingga matahari mulai masuk menembus celah gorden kamar rawat ketika pintu diketuk pelan.

Aldo membuka pelan pintu kamar perawatan Hira. Cowok itu masih mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan tas ransel yang tersampir di bahunya.

Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih bersinar penuh semangat.

Aldo berniat untuk menyapa namun dia mengurungkan niatnya karena melihat Hira yang sedang termangu memandangi jendela dengan Bu Rina yang berdiri di sebelahnya. Sepertinya mereka sama sekali tidak sadar kalau Aldo ada di sana.

“Non, kalau non lelah, gimana kalau tidur di ranjang aja?” tanya Bu Rina.

Hira menggeleng pelan.

“Tapi Non Hira terlihat kelelahan. Non Hira harus istirahat. Yuk, ibu bantu, kita rebahan di atas ranjang.”

Hira menahan tangan Bu Rina yang hendak mendorong kursi rodanya.

“Bisakah kalau aku tidak usah tidur saja?” tanya Hira pelan. Ruangan mendadak sunyi mendengar pertanyaan Hira.

“Kenapa, Non? Non Hira harus tidur dan banyak istirahat. Mata Non Hira juga terlihat mengantuk dan lelah,” bujuk Bu Rina dengan nada penuh kekhawatiran.

Hira terisak pelan. “Aku tidak bisa tidur, Bu. Aku… sangat takut untuk memejamkan mata. Aku… sangat takut kalau… aku tidak akan pernah bangun lagi, Bu.”

Aldo tercekat. Tangannya mengepal erat. Ada rasa sakit tak kasat mata yang menghantamnya mendengar suara putus asa Hira.

Bu Rina dengan air mata yang bercucuran membantu menyeka air mata Hira dengan saputangan.

“Non Hira tidak boleh ngomong begitu. Non Hira akan sembuh, percaya sama ibu. Ibu rajin berdoa untuk kesembuhan Non Hira. Jadi, Non Hira harus semangat.”

Sambil mengangguk, Hira menangis dan dengan suara nyaris tersedak. “Ya, terima kasih, Bu karena sudah mau mendoakan aku.”

Aldo berdiri mematung sambil mati-matian menahan air mata yang hampir meluncur ke pipinya.

Bu Rina kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar dan dia sedikit terkejut melihat ada Aldo berdiri di sana dengan wajah pucat pasi.

Aldo menempelkan telunjuknya ke bibirnya, meminta Bu Rina untuk tidak memberitahukan kedatangannya pada Hira.

Bu Rina melirik ke Hira yang tampaknya masih belum sadar akan kehadiran orang lain di ruangan itu.

“Non, Ibu keluar sebentar ya, ada yang kelupaan di beli.”

Hira mengangguk.

Bu Rina kemudian keluar meninggalkan Aldo dan Hira di dalam satu ruangan yang sama. Suhu AC yang rendah membuat Hira merasa kedinginan.

Dengan sedikit menggigil dia hendak memutar kursi rodanya untuk mengambil jaket pink yang ada di sofa.

Namun, belum sempat dia melakukannya, jaket pink itu kini sudah tersampir di pundaknya untuk memberikan kehangatan.

“Makasih, Bu…Ri…,” kalimat Hira menggantung di udara, saat dia menoleh matanya membola melihat sosok yang nyaris dia rindukan setiap hari kini berdiri di hadapannya. “A….Aldo?”

Aldo tersenyum lemah.

“Um, hai Ra. Gimana kabarmu hari ini?”

Hira menunduk dan memalingkan wajahnya lalu memutar balik kursi rodanya membelakangi Aldo.

“Kenapa kamu ke sini lagi?” tanya Hira pelan.

Dada Aldo terasa nyeri melihat penolakan Hira terhadap kedatangannya. Namun, alih-alih pergi, Aldo malah meletakkan tasnya di sofa dan mendekati kursi roda Hira.

Dia tidak langsung menyentuh gadis itu, melainkan hanya berdiri di dekatnya sambil menatap puncak kepala Hira yang tertutup beanie hat.

"Sepertinya aku lupa memberitahumu kemarin kalau aku akan datang ke sini setiap hari."

Hira tertegun. Gadis itu meremas kedua tangannya yang disembunyikan di atas paha.

Ada perasaan senang yang membuncah di dalam dadanya saat mendengar ucapan Aldo, namun di sisi lain, ada perasaan sedih sekaligus malu karena itu artinya Aldo akan melihat kondisi fisiknya yang sekarang terlihat menyedihkan dan terus mengalami penurunan.

Sekarang, bahkan untuk sekadar memegang sendok saja Hira sudah tidak mampu.

“Berhentilah datang ke sini. Apa kamu tidak tahu kalau aku sudah berhenti sekolah? Jadi aku sudah tidak perlu partner belajar lagi,” kata Hira dengan nada dingin.

Hira berniat memutar kursi rodanya untuk menjauh, namun karena jemarinya yang lemas dan kehilangan tenaga, roda itu justru tidak bergerak dengan benar dan malah membuat tubuhnya sedikit limbung ke depan.

Melihat itu, insting Aldo langsung bergerak cepat. Tanpa berpikir panjang, Aldo maju satu langkah dan menahan kedua lengan Hira, mencegah gadis itu terjatuh dari kursi rodanya.

Saat itulah, telapak tangan Aldo tanpa sengaja menggenggam jemari Hira. Dingin. Dan terasa sangat kurus.

Lihat selengkapnya