The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #36

TIGA PULUH ENAM

Penyesalan selalu datang terlambat, dan bagi Halim, penyesalan itu terasa begitu mencekik dada.

Pria itu menatap kosong ke arah Hira yang kini terbaring kaku dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.

Di tengah keheningan kamar ICU yang mencekam, ingatan Halim mendadak berputar kembali pada kejadian menjelang tengah malam tadi.

Malam terakhir sebelum putrinya itu menutup mata untuk waktu yang lama....

Menjelang tengah malam, Hira tersadar dari tidurnya dan menangkap sosok papanya yang tertidur meringkuk di sofa rumah sakit yang dingin.

Semua dokumen pekerjaannya berantakan, bahkan Halim sendiri terlihat tidak terurus.

Hati Hira terasa nyeri sekali. Dia ingin sekali melakukan sesuatu untuk Halim namun Papanya itu bilang kalau dia tidak menginginkan apapun selain melihatnya sembuh.

Tapi, permintaan Halim terlalu sulit untuk Hira kabulkan. Dia tahu kalau itu adalah hal yang mustahil.

Hira terisak pelan. Halim yang memang baru saja tertidur setelah kelelahan mengerjakan sebagian besar pekerjaannya mendadak terbangun dan melihat Hira sedang menangis sendirian di ranjangnya.

“Sayang? Kenapa? Apa ada yang sakit?” tanyanya panik dengan wajah sangat khawatir.

Hira hanya menggeleng lalu menggenggam tangan Papanya dengan tangannya yang kurus dan dingin.

“Pa…,” panggil Hira yang nyaris terdengar seperti bisikan.

Halim menyeka air mata di pipi Hira yang tampak jauh lebih pucat.

“Aku… dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam… aku minta maaf,” kata Hira lirih.

Halim tercekat.

“Tidak. Kenapa kamu minta maaf? Hira tidak salah apa-apa,” kata Halim dengan suara bergetar menahan tangis mendengar putrinya minta maaf.

Hira menggeleng.

“Selama ini… aku… sudah menyusahkan papa. Maaf karena sudah sakit… maaf jika selama ini aku banyak meminta hal yang sulit. Maaf aku tidak bisa menjaga papa lebih lama lagi dan belum bisa membalas semua kebaikan papa…,” Hira menangis tersedu-sedu.

Tangisan Halim pecah, air matanya menetes membasahi tangan Hira yang dia genggam dengan lembut karena takut kalau tangan itu hancur jika dia menggenggamnya terlalu erat.

“Terima kasih, Pa. Sudah jadi papa aku di kehidupan ini. Di kehidupan selanjutnya, tolong jadi orang tuaku lagi, aku pasti akan membalas budi pada papa. Pada mama juga.”

Halim menangis tergugu. Dia tidak mampu mengatakan apapun selain mengangguk.

“Ya, di kehidupan selanjutnya papa akan pastikan Hira tumbuh dewasa, menjadi anak yang sehat, panjang umur dan hidup bahagia sampai tua…,” kata Halim dengan suara nyaris tersedak.

Hira tertawa. Dia lalu memeluk Halim dan mengusap-usap punggungnya.

“Papa juga harus hidup dengan baik. Sehat, panjang umur dan bahagia sampai tua. Tolong jangan terlalu sedih jika nanti aku pergi. Meski singkat, tapi aku bahagia dengan hidupku.”

Air mata Halim kembali menetes tatkala dia mengingat percakapannya dengan putrinya tadi malam, siapa yang sangka kalau itu adalah percakapan terakhirnya dengan Hira.

Setelah mereka menangis bersama, Halim menemani Hira sampai dia tertidur lelap.

Menjelang pagi, saat Bu Rina datang untuk menjaga Hira, Halim sempat berpesan padanya untuk jangan membangunkan Hira karena semalam gadis itu kurang tidur.

Bu Rina hanya mengangguk patuh dan berniat untuk membangunkan Hira nanti saat makan siang.

Namun, saat Bu Rina mencoba untuk membangunkan Hira, nona kecilnya itu tidak meresponnya sama sekali.

Bu Rina menyadari kalau terjadi sesuatu yang aneh dan segera memanggil Dokter Chandra yang segera melakukan beberapa pemeriksaan dan setelah itu dia memberitahu Halim yang datang dengan tergesa-gesa dari kantornya kalau Hira jatuh koma.

“Pak Halim, awalnya kita mengira Hira hanya tidur panjang karena kelelahan akibat efek tumornya. Tapi saat saya memberikan rangsangan nyeri kuat dan memeriksa refleks pupilnya dengan cahaya, matanya sama sekali tidak merespons. Hira sudah tidak lagi tertidur, Pak. Dia sudah jatuh ke kondisi koma karena terjadi herniasi otak.”

Dunia Halim langsung runtuh saat itu juga. Koma?

Lutut Halim terasa lemas, dia terhuyung dan di pegangi oleh Ricky yang ikut datang bersamanya.

“Tidak mungkin, Dok. Semalam dia masih bicara pada saya, tidak mungkin sekarang dia koma,” Halim mencoba menyangkal kenyataan yang terjadi di depannya.

Dia menatap Hira yang wajahnya tampak tenang, seolah tidak terpengaruh pada apapun yang terjadi di sekitarnya.

Dengan langkah terseok-seok, Halim menghampiri Hira dan memegang pundaknya, mengguncang-guncangnya agar putrinya itu bangun.

“Hira, bangun sayang. Ayo bangun, papa ada di sini,” kata Halim dengan suara keras, mencoba memanggil putrinya yang mungkin belum pergi terlalu jauh untuk kembali ke pelukannya.

“Pak Halim, tolong jangan seperti ini.” Dokter Chandra mencoba melepaskan tangan Halim dari pundak Hira.

Sedangkan Ricky menarik Halim mundur. “Halim, sadar,” katanya dengan suara tegas.

Sementara Bu Rina hanya bisa menangis di sudut ruangan. Bubur abalone kesukaan Hira yang sengaja dia bawa dari rumah kini teronggok di dalam termos makanan tanpa ada seorang pun yang akan memakannya lagi.

Halim meluruh. Sembari berpegangan pada besi penyangga ranjang, pria itu menangis. Tangisannya terdengar sangat menyayat hati.

Setelah Halim dibawa ke sudut ruangan oleh Ricky untuk menenangkan diri, Dokter Chandra memerintahkan agar Hira di bawa ke ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan pengawasan yang lebih ketat dari tim dokter.

Namun, Ricky meminta tolong pada Dokter Chandra, bisakah Hira tetap di rawat di ruangan ini saja tapi dengan peralatan medis yang lengkap seperti di ICU. Ricky bilang kalau itu adalah permintaan Halim.

Dokter Chandra menatap ke arah Halim yang memandang keluar jendela dengan mata yang kosong lalu kembali menatap Ricky kemudian menggeleng.

Dia tidak dapat mengabulkan permintaan Halim, ruang ICU jelas berbeda dari kamar perawatan biasa meski alat-alat penopang kehidupannya di bawa ke ruang itu sekalipun.

Akhirnya dengan berat hati, Ricky mewakili Halim untuk menandatangani surat pemindahan Hira ke ruang ICU VIP.

Di ruang ICU itu, mereka mungkin tidak akan bisa seleluasa seperti di kamar rawat biasa jika ingin menjenguk Hira.

Ricky juga menghubungi anggota keluarga Dinata yang lain untuk memberitahukan kabar duka tersebut karena sepertinya Halim belum bisa di ajak bicara.

Pria itu tahu, Halim yang sedang hancur tidak akan sanggup memegang ponselnya sendiri saat ini.

Tutututu…

Ponsel Ricky bordering panjang, tertulis nama Tante Anne di layar ponselnya.

“Halo tante,” sapa Ricky pada Anne, Mama Halim.

“Rick, apakah yang kamu bilang itu benar? Cucuku koma?”

“Ya, tan,” kata Ricky.

Lihat selengkapnya