The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #37

TIGA PULUH TUJUH

Keheningan menyelimuti ruang tamu rumah Diana. Sekarang di ruangan yang sempit itu duduk seorang wanita dari masa lalu almarhumah adiknya. Seseorang yang juga pernah menjadi sumber rasa sakit dan penderitaannya.

Diana duduk berhadapan dengan wanita yang mengaku bernama Ratna Prawira. Di belakang wanita itu, berdiri dua orang pria, yang satu adalah asistennya yang dulu pernah memberikan kartu namanya pada Diana.

Dan pria yang satunya lagi, Diana tidak mengenalnya.

Sedangkan di seberang kanannya duduk seorang pria dengan setelan jas yang nyaris kusut, rambut berantakan dengan kacamata membingkai wajahnya yang cukup tampan. Pria itu adalah Ricky Prawira.

Sekilas pria itu tampak berbeda dengan Aldo, namun jika di lihat lebih baik, pria itu memiliki kemiripan di beberapa bagian dengan Aldo.

Beberapa saat yang lalu…

‘Sebuah mobil lain berhenti di depan rumah Diana. Seorang pria turun dari mobil itu dan bergegas menerobos masuk ke dalam rumahnya.

“Mama, apa yang sebenarnya mama lakukan di sini?” tanya pria itu begitu masuk ke dalam rumah Diana.

Diana sempat bengong sesaat namun mendengar pria di depannya ini memanggil wanita itu dengan sebutan ‘mama’, itu artinya pria ini adalah Ricky Prawira.

Ricky menoleh ke arah Diana, wajahnya yang semula mengeras dan tegang, mendadak berubah.

Diana bisa melihat kerinduan dari tatapan matanya. Tapi, tentu saja kerinduan itu bukan untuknya.

“Deina…, kamu tidak apa-apa? Mamaku tidak menyakitimu, kan?” tanya pria itu sambil mencoba meraih tangan Diana.

Diana menampik tangan Ricky, membuat pria itu terkejut, dan tampak terluka.

“Deina, ini aku… Ricky. Aku minta maaf karena baru menemuimu sekarang. Kamu kemana saja selama ini? Selama 17 tahun ini aku sudah mencarimu kemana-mana,” kata Ricky lirih.

Diana tertegun. Jadi… selama ini Ricky mencari Deina? Apa dia sudah salah paham selama ini pada Ricky?

‘Tidak. Pria ini juga sudah menyakiti adikku. Dia dan keluarganya adalah penyebab adikku meninggal.’ batin Diana berkecamuk.

“Pak Ricky, kamu salah orang. Saya bukan Deina,” kata Diana datar. Dia memalingkan wajah ke arah lain.

“Deina, kamu boleh marah dan membenciku, tapi kamu jangan pura-pura tidak mengenalku,” kata Ricky dengan nada memohon. Dia benar-benar putus asa melihat Deina bahkan tidak sudi lagi untuk menatapnya.

“Nyonya, tolong beritahu pada putra anda bahwa saya benar-benar bukan, Deina,” ujar Diana.

“Ricky, apa kamu tidak bisa lihat? Dia bukan Deina. Dia Diana, kakak kembarnya Deina,” hardik Ratna.

Ricky menoleh ke arah mamanya, kemudian bergantian menoleh ke Diana. Dia menggeleng.

“Tidak mungkin. Kamu berbohong, kan.”

“Saya tidak berbohong. Untuk apa saya mesti berbohong?”

“Lalu, di mana Deina sekarang?”

Diana menghela napas. “Dia sudah meninggal. 16 tahun lalu. Tidak lama setelah melahirkan Aldo.”

“Apa?”

Setelah setengah jam berlalu dengan penuh penyangkalan terhadap kenyataan kalau Deina sudah meninggal 16 tahun lalu, akhirnya sekarang Ricky bisa duduk dengan tenang meski terkadang dia terlihat gelisah dan terus-terusan meremas tangannya.

Ratna geleng-geleng kepala lalu menatap Diana, “Abaikan saja Ricky. Sekarang katakan, di mana Renaldo?”

“Dia belum pulang,” jawab Diana singkat.

Ratna mengerutkan keningnya. “Apa? Jam segini belum pulang? Sedang apa dia diluar sana? Apa dia jadi berandalan?”

Diana mengepalkan tangannya kesal. Beraninya wanita ini mengatakan kalau Aldo-nya berandalan.

“Sayang sekali, tidak. Saya membesarkannya dengan baik, jadi tidak mungkin dia tumbuh menjadi berandalan,” jawab Diana sarkas.

Nada suaranya tegas dan tatapan matanya tajam, bahkan wanita itu tampak tidak goyah di hadapan Ratna yang sejak tadi bicara dengan nada arogan dan aura yang mengintimidasi.

Sangat berbanding terbalik dengan Deina yang lebih lembut, penyayang dan sabar.

Ratna tersenyum meremehkan. “Huh, sombong sekali. Membesarkan dengan baik apanya? Ini yang kau sebut membesarkan dengan baik? Di rumah kecil dan kumuh ini?”

“Yang benar itu, kau membesarkan cucuku di tengah kemiskinan,” kata Ratna penuh penekanan.

“Mama!” Ricky menegur Ratna dengan keras.

Ratna mulai kehabisan kesabaran.

“Jangan meneriaki aku, Rick. Aku adalah Mamamu. Dan kamu harusnya membelaku, aku sedang mengatakan hal yang benar. Jika dulu putramu langsung di bawa ke rumah keluarga Prawira begitu dia di lahirkan, dia tidak harus tumbuh di tengah kemiskinan seperti ini. Dia akan diberikan semua hal terbaik yang bisa dia dapatkan, dia akan bersekolah di sekolah yang bagus. Dan, satu lagi, dia tidak perlu bersusah payah mengharapkan beasiswa hanya untuk bisa bersekolah di sekolah swasta elit. Keluarga Prawira bisa memberikan semua itu untuknya.”

Deg. Diana terhenyak, seolah ada palu besar yang menghantam dadanya. Semua yang dikatakan Ratna tidaklah salah.

Sekarang, semua tindakan Diana yang dia pikir adalah bentuk kasih sayangnya pada Aldo, terasa tidak ada artinya.

Diana bersembunyi di balik kata kasih sayang dan berpikir bahwa pengorbanannya layak untuk mendapat balasan dari Aldo dengan menahan Aldo di sisinya dan tidak membiarkan anak itu tahu semua kenyataan tentang siapa papa dan mamanya serta dari keluarga mana dia berasal.

“Kalau wanita ini tidak egois, berusaha membesarkan cucuku di tengah-tengah keterbatasan ini, sekarang dia pasti sudah tumbuh menjadi anak yang hebat dan di segani di dunia sosial konglomerat.”

“Jangan hina mama saya. Meski kami hidup miskin seperti ini, mama saya adalah orang yang sangat hebat.” Terdengar suara Aldo dari arah pintu.

Semua orang menoleh dan melihat Aldo yang menatap mereka semua tajam dari balik kacamatanya.

Meski demikian, cowok itu tidak mampu menyembunyikan matanya yang bengkak karena banyak menangis di ruang ICU tadi.

Sesungguhnya, ada penyesalan di dada Aldo, mengetahui bahwa kemarin adalah hari terakhirnya bisa melihat Hira dalam kondisi sadar.

Seandainya dia tahu lebih awal kalau setelah malam itu Hira akhirnya koma sampai batas waktu yang tidak pasti, Aldo pasti akan tetap bersama gadis itu lebih lama.

Makanya sekarang Aldo ingin bersama Hira lebih lama di ICU, berharap gadis itu akan bangun dan Aldo ingin menjadi orang pertama yang di lihat Hira saat gadis itu sadar nanti.

Untuk itu, Aldo bahkan berniat untuk menginap di ICU semalaman jika saja Halim, Papa Hira tidak datang dan menyuruhnya pulang.

Aldo awalnya menolak dengan mengatakan kalau dia ingin menemani Hira sedikit lebih lama lagi, namun Halim tetap menolak dan memintanya untuk pulang dan beristirahat.

Dan setelah melalui perjalanan panjang pulang dari rumah sakit, dia menemukan ada dua mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.

Lihat selengkapnya