Mata Aldo bersirobok dengan Ricky yang terlihat canggung. Halim menepuk pundak Ricky, mendorong pria itu dengan pelan ke arah Aldo yang langsung memasang wajah tidak nyaman.
"Sudah waktunya, Rick. Mau sampai kapan kamu melarikan diri?" tanya Halim saat Ricky memberikan gestur penolakan.
Meski sudah sempat bertemu dengan Aldo semalam, entah kenapa Ricky masih saja merasa belum siap untuk memperkenalkan dirinya sebagai papa anak itu secara resmi. Lidahnya mendadak kelu.
"Jangan buang-buang waktu lagi, atau kau akan menyesal," kata Halim lagi, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Bagaimana jika dia menolakku?" tanya Ricky nelangsa. Tatapannya layu.
Halim mengedikkan bahunya santai, "Jika memang begitu, ya sudah, terima saja. Penolakan dari Aldo itu wajar. Seumur hidup dia cuma tahu kalau dia hanya memiliki mama."
Ricky menghela napas berat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Baiklah. Jika dia menolakku, aku akan menerimanya."
"Kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian berdua," kata Halim yang kemudian melangkah pergi dari kafetaria rumah sakit untuk kembali ke ICU.
Suasana di meja kafetaria itu mendadak hening, menyisakan jarak tak kasat mata di antara dua pria yang memiliki guratan wajah serupa.
"Apa kamu sudah menunggu lama?" tanya Ricky ramah, mencoba mencairkan suasana di antara mereka.
Aldo cuma mengangguk datar.
"Kamu mau minum apa? Biar saya pesankan," tawar Ricky lagi.
"Tidak usah repot-repot. Saya kesini hanya karena diminta tolong oleh Pak Halim," jawab Aldo dingin, tanpa ekspresi.
Aldo memang terpaksa datang ke kafe ini atas permintaan Halim. Jika bukan karena pria paruh baya itu, Aldo mungkin tidak akan pernah sudi bertatap muka secara langsung dengan Ricky sekarang.
Ricky meringis pelan, dadanya terasa nyeri. "Baiklah. Saya tidak akan lama." Pria itu berdeham sejenak. "Um begini, sebelumnya saya mau minta maaf soal semalam. Nenekmu..."
"Dia bukan nenek saya," potong Aldo cepat. Suaranya menusuk tajam. Dia tidak akan pernah sudi memanggil Ratna dengan sebutan itu.
Ricky kembali meringis, merutuki kesalahannya memilih kata. "Maaf. Maksudnya... mama saya sudah mengatakan banyak hal buruk dan omong kosong padamu dan juga Diana," ucap Ricky pelan.
Suasana di sekitar mereka mendadak tegang dan mencekam, seolah-olah pasokan udara menguap tak bersisa.
Aldo tidak memberikan reaksi apa pun. Remaja 16 tahun di depannya hanya menatap Ricky dengan sepasang mata yang tajam.
Sepertinya, dia bahkan tidak memiliki niat sedikit pun untuk bertanya atau menggali masa lalu dari Ricky.
Kesunyian kembali mencekik. Ricky meremas kedua tangannya ragu di bawah meja. Dia benar-benar kehilangan kata-kata. Ini semua jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan.
Ricky baru menyadari bahwa ternyata jauh lebih mudah menghadapi ratusan investor maupun vendor bisnis berkepala batu, ketimbang menghadapi Aldo, putranya sendiri.
Sebagai asisten Halim, Ricky sudah terbiasa mengurus urusan bisnis yang rumit jika Halim sedang sibuk menemani pengobatan Hira.
Dia sudah kebal dengan penolakan bisnis. Jika kesepakatan gagal, Ricky hanya perlu mencari jalan lain atau investor lain.
Namun, Aldo berbeda. Cowok di depannya bukanlah rekan bisnis yang bisa digantikan. Dia adalah darah dagingnya.
Ketakutan akan penolakan mutlak dari Aldo membuat otaknya yang biasa berpikir cepat mendadak buntu total.
"Apa anda sudah selesai bicara? Jika tidak ada yang ingin anda katakan lagi, saya mau kembali ke ICU," kata Aldo tiba-tiba memecah keheningan. Cowok itu nyaris berdiri dari kursinya saat Ricky akhirnya kembali bersuara dengan nada bergetar.
“Maaf,” kata Ricky.
Gerakan Aldo terhenti. Dia menatap Ricky yang kini menunduk dalam, tidak mampu atau mungkin terlalu malu untuk menatap mata Aldo.
“Untuk mamamu, Deina... untuk semua ucapan kasar yang dilontarkan oleh mama saya, dan untuk segala hal yang telah saya lewatkan selama 16 tahun ini. Saya minta maaf. Mungkin ini terdengar seperti alasan yang egois, tapi... sesungguhnya saya juga putus asa mencari kalian selama 17 tahun ini,” ucap Ricky dengan suara bergetar rapuh.
Menatap sosok pria dewasa di depannya yang tampak begitu hancur dan ringkih, entah kenapa ada sesuatu yang berdesir di dada Aldo. Hatinya sedikit tergerak. Dia teringat ucapan Pak Halim sebelum dia turun ke kafetaria tadi.
Halim meminta Aldo untuk tidak terlalu membenci Ricky. Pria itu juga menderita, hidup luntang-lantung seperti orang kehilangan arah.
Bahkan demi menolak menjadi penerus keluarga Prawira, Ricky rela melepaskan semua kemewahan dan fasilitas Wira Grup dan hanya hidup dari gaji sebagai asisten Halim.