The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #39

TIGA PULUH SEMBILAN

​Udara laut yang dingin menusuk, menyapa wajah Ricky yang terlihat begitu lelah. Semalam, dia akhirnya pergi menemui orang tuanya di Depok dan mengutarakan maksud kedatangannya untuk kembali pada keluarga Prawira.

Pembicaraan itu berjalan sangat panjang, melelahkan dan menguras emosi. Pada awalnya, sang mama menolak keras keinginan Ricky karena wanita itu sekarang lebih memilih Aldo untuk menjadi penerus.

Namun, Ricky akhirnya berhasil meyakinkan mereka dengan menegaskan jika mereka menerimanya kembali, dia bersedia untuk tunduk sepenuhnya pada aturan keluarga Prawira.

​Pada akhirnya, orang tuanya sepakat untuk memberikan Ricky kesempatan membuktikan diri.

Jika memang Ricky dianggap layak untuk memimpin, maka Ratna berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupan Aldo lagi untuk selamanya.

Sebagai gantinya, wanita itu meminta Ricky membuat surat pernyataan bahwa dia bersedia menikah dengan wanita pilihannya serta wajib memiliki anak laki-laki untuk jadi penerus garis keturunan selanjutnya.

Ratna tidak akan melarang Ricky untuk menopang pendidikan Aldo karena biar bagaimanapun Aldo tetaplah putra Ricky dan darah Prawira juga mengalir di tubuh anak itu.

Namun, Aldo tidak akan pernah punya kesempatan untuk masuk ke lingkaran keluarga Prawira, dan dia tidak memiliki hak selayaknya anggota keluarga Prawira yang lain.

Ricky menyetujui semua syarat kejam itu dengan cepat tanpa banyak penolakan. Melihat itu, Ratna merasa sangat puas, memang butuh 17 tahun lamanya untuk membuat putranya pulang kembali ke pelukannya, tapi penantian itu terasa sepadan karena Ricky akan patuh padanya mulai sekarang.

Karena malam sudah terlalu larut saat pembicaraan itu usai, Ricky memutuskan untuk menginap semalam di sana. Namun, dia sengaja pergi pagi-pagi sekali sebelum kedua orang tuanya terbangun.

​Karena ada satu hal krusial yang harus dia lakukan sebelum dia benar-benar mengunci kebebasannya dan kembali ke lingkaran keluarga Prawira.

​"Pak, kapalnya sudah siap. Mau berangkat sekarang?" tanya seorang nelayan paruh baya, menghampiri Ricky yang sedang menghabiskan isapan rokok terakhirnya di dermaga.

​Ricky hanya mengangguk pelan. Dia melangkah mengikuti pria itu menuju sebuah perahu motor kecil yang memang sengaja dia sewa untuk membawanya ke tengah laut lepas.

​Pria itu duduk di pinggir dek kapal dengan pikiran yang rumit, sementara kedua tangannya menggenggam erat sekantung bunga tabur beraneka warna.

​Pagi sekali sebelum ke dermaga, dia sempat menyambangi rumah Diana. Beruntung, saat itu Aldo belum terbangun.

Jika tidak, entah bagaimana Ricky harus bersikap di depan anaknya itu. Jujur saja, dia belum sanggup jika harus berhadapan dengan tatapan dingin Aldo lagi setelah penolakan keras di kafetaria kemarin.

​Diana yang sedang menyapu halaman rumahnya tentu saja sangat terkejut mendapati Ricky berdiri di pintu gerbang rumahnya tanpa mengatakan apapun.

Pria itu cuma tersenyum tipis dengan sorot mata sedih lalu bertanya pelan tentang keberadaan makam Deina. Diana sempat terdiam lama lalu menjawab dengan ragu-ragu. Dan, jawaban dari wanita itu benar-benar membuat Ricky terhenyak.

Diana mengatakan bahwa jika Ricky ingin menemui Deina, maka dia cukup pergi ke laut. Dia juga menjelaskan dengan suara bergetar bahwa dulu dia terpaksa mengkremasi Deina dan melarung abu kembarannya itu ke tengah laut.

​Diana sebenarnya sangat ingin memakamkan saudarinya dengan layak di tempat pemakaman umum, agar suatu hari nanti Aldo kecil bisa berziarah dan menemui mama kandungnya.

Namun, di tengah keterbatasan ekonomi saat itu, Diana tidak punya pilihan lain. Dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli lahan pemakaman, belum lagi memikirkan biaya perawatan makam setiap bulannya.

Apalagi saat itu Aldo masih bayi yang membutuhkan biaya susu dan kebutuhan hidup yang tidak sedikit.

​Diana sudah berusaha memberikan penghormatan terakhir yang paling maksimal untuk Deina. Meski begitu, hingga detik ini, Diana masih sering didera rasa bersalah dan menyesal.

Dia kerap mengutuk dirinya sendiri, berpikir andai saja dulu dia bekerja lebih keras lagi untuk mengumpulkan uang, Deina pasti tidak akan berakhir dilarung tanpa pusara.

​Mendengar kejujuran Diana, hati Ricky bagai dihantam palu besar. Bahkan untuk sekadar membeli sepetak tanah makam pun Diana tidak mampu.

Ricky tidak sanggup membayangkan sekeras apa perjuangan yang Diana lalui untuk membesarkan Aldo seorang diri selama 16 tahun ini dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Wanita luar biasa itu telah mengorbankan masa mudanya demi mendidik Aldo hingga tumbuh menjadi remaja yang luar biasa cerdas dan mandiri seperti sekarang.

​Bayang-bayang ucapan Halim di parkiran kemarin sore kembali berdengung di telinga Ricky. Sekarang, pilihan pahit yang diambilnya semalam terasa begitu tepat dan benar.

Dia harus melakukan ini. Dia harus mengorbankan sisa hidup dan kebebasannya demi menebus 16 tahun penderitaan putra kandungnya, memastikan Aldo mendapatkan segala fasilitas dan masa depan yang memang sepantasnya dia miliki sejak lahir.

​Tidak lama kemudian, deru mesin perahu motor itu perlahan mereda lalu mati. Kapal kecil itu kini mengapung tenang di tengah laut lepas yang sunyi, tanpa embusan angin kencang maupun ombak yang mengayun.

Suara keras nelayan yang mengatakan kalau mereka sudah sampai seketika membuyarkan lamunan Ricky.

​Pria itu memandang jauh ke arah cakrawala yang seolah tanpa batas, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dadanya.

Dia membuka kantung plastik di pangkuannya, meraih segenggam kelopak bunga, dan mulai menaburkannya ke atas permukaan air laut yang memantulkan langit cerah tanpa awan.

​"Ina, ini aku, Ricky. Maaf... maaf karena aku baru bisa datang menemuimu sekarang," Ricky menjeda kalimatnya, tenggorokannya mendadak terasa tercekat parah.

Lihat selengkapnya