The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #40

EMPAT PULUH

Sejak pagi Diana tidak melihat Aldo keluar dari kamarnya. Merasa penasaran, wanita itu membuka pintu kamar Aldo dan mendapati putranya sedang duduk di meja belajar dengan tatapan fokus tertuju pada buku-buku fisika dan materi diktatnya.

​Kemarin, di jam-jam seperti ini biasanya Aldo pasti sudah berada di rumah sakit dan baru kembali saat sore atau malam hari. Namun, hari ini berbeda. Diana yang dirayapi rasa penasaran melangkah menghampiri Aldo. “Do, kamu sedang apa?”

​Aldo menoleh singkat. “Oh, aku sedang belajar, Ma. Besok hari OSN-P.”

​“Begitu ya. Mama kira kamu akan ke rumah sakit lagi hari ini,” kata Diana sambil mengusap-usap kepala Aldo dengan penuh kasih sayang.

​Aldo terdiam sesaat, jemarinya berhenti menulis. “Aku akan ke sana sore nanti. Om Halim sudah mengirim pesan padaku, bilang keluarga Hira yang lain akan datang menjenguk hari ini. Jadi, aku tidak mau menjadi pengganggu di antara mereka.”

​“Bisakah Mama ikut nanti sore? Mama belum menjenguk Hira lagi sejak dia dipindahkan ke ICU,” kata Diana.

​Aldo mengangguk singkat. Diana tersenyum hangat, “Kalau begitu kamu lanjutkan belajarnya. Mama tidak akan mengganggu kamu.”

​Wanita itu melangkah keluar dari kamar, membiarkan putranya meneruskan belajarnya untuk menghadapi OSN-P besok dengan tenang.

Menjelang sore, Aldo sudah bersiap di depan rumah. Dia berdiri gelisah menunggu Diana yang sedang mengunci pintu. Di dalam dadanya, ada perasaan tidak sabar ingin segera bertemu Hira dan mengajak gadis itu mengobrol lebih lama hari ini.

***

​Di depan ruang ICU, mereka bertemu dengan Halim yang sedang menunggu sambil memainkan ponselnya.

​"Sore, Om," sapa Aldo.

​Halim mendongak, mendapati Aldo datang bersama Diana. Ini adalah pertama kalinya Halim bertemu langsung dengan Diana. Melihatnya dari dekat seperti ini, memang sulit untuk menemukan perbedaan fisik antara Deina dan Diana. Apalagi dulu Halim pun jarang berinteraksi dengan almarhumah kembaran Diana itu.

​"Sore, Do. Dan... Diana?"

​Diana terlihat terkejut mendengar Halim langsung mengenali namanya.

"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" tanya Diana ragu.

​Halim menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Tidak. Kita belum pernah bertemu. Ah, saya Halim. Papa Hira."

​"Om Halim ini donatur di sekolah Aldo, Ma," sapa Aldo memberitahu Diana.

​Mata Diana langsung membelalak terkejut. Dia tidak pernah menyangka kalau selama ini beasiswa penuh anaknya ditopang oleh keluarga Hira.

​"Benarkah? Saya sungguh berterima kasih. Karena berkat beasiswa dari Anda, Aldo bisa bersekolah dengan gratis di Satya Garuda," kata Diana dengan mata berkaca-kaca terharu.

​"Ini bukan apa-apa. Saya tidak melakukan yang hal besar," sahut Halim sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Melihat ketulusan Diana, Halim tidak heran kenapa Aldo bisa tumbuh menjadi pribadi yang begitu mandiri, sopan, dan tahu diri.

​"Om sedang apa di luar? Kenapa tidak masuk? Apa Hira sendirian di dalam?" tanya Aldo bertubi-tubi, tak mampu menyembunyikan kecemasannya.

​Halim tersenyum menenangkan. "Tenanglah, Do. Di dalam sedang ada Abel yang datang menjenguk."

​Aldo mengerutkan keningnya. "Abel?"

​"Ya, Arabella. Sahabat Hira sejak SMP."

​"Ah..." Aldo terdiam. Dia samar-samar mengingat nama itu pernah tertulis di dalam buku bersampul hitam milik Hira.

​"Duduklah dulu di sini sambil menunggu Abel keluar," ajak Halim.

​Mereka bertiga lalu duduk bersama di kursi tunggu ruang ICU. Aldo terlihat tegang. Cowok itu terus-terusan mengubah posisi duduknya dengan gelisah.

Di dalam hatinya, dia terus bergumam, mempertanyakan kenapa teman Hira yang bernama Arabella itu lama sekali di dalam.

​"Bersabarlah, Do. Kamu masih punya banyak waktu untuk menemui Hira nanti," bisik Diana lembut, mengusap lengan putranya.

Aldo hanya mengangguk lesu.

​Diana menoleh ke arah Halim. "Saya mendengar dari Aldo sebelumnya... kalau Ricky bekerja sebagai asisten Anda?"

Wanita itu menjeda kalimatnya, menyadari betapa sempit dan ironisnya lingkaran takdir mereka. "Kalau begitu, apa Anda selama ini sudah tahu kalau Aldo adalah anak dari pria itu?"

​Halim menggeleng lurus. "Tidak. Sebelumnya saya mengenal Aldo murni karena dia adalah partner belajar Hira. Mengenai status Aldo yang merupakan putra Ricky, kami semua baru mengetahuinya baru-baru ini."

​Halim menatap Diana dengan pandangan meyakinkan. "Jadi, tolong jangan salah paham. Hira pun tidak tahu sampai sekarang kalau Aldo adalah putra dari Ricky. Hira murni mendekati Aldo karena cowok ini memang terpilih sebagai partner belajarnya."

​Mendengar itu, Aldo menyunggingkan senyum kecil yang getir di sudut bibirnya. Papa Hira benar-benar membuat hatinya mencelos.

Mereka semua telah berakting dengan sangat baik. Tidak akan ada yang menyangka bahwa kedekatan awal mereka sebenarnya adalah bagian dari skenario manis yang diatur oleh Hira sendiri, tentu saja, bagian soal Ricky yang ternyata adalah ayah kandungnya merupakan plot twist di luar prediksi siapa pun.

​"Ah, karena kebetulan kalian ada di sini, ada sesuatu yang penting yang ingin saya sampaikan. Ini mengenai Ricky."

​Diana dan Aldo saling berpandangan. "Tentang apa itu, Om?" tanya Aldo.

​Halim pun menceritakan semuanya. Tentang keputusan Ricky yang memilih kembali ke keluarga besar Prawira untuk menjadi penerus tunggal, serta rencana pernikahannya dengan wanita pilihan ibunya.

Semua itu adalah syarat mutlak yang Ricky ambil agar sang nenek tidak akan pernah lagi mengusik kehidupan Aldo dan Diana.

Lihat selengkapnya