The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #44

EMPAT PULUH EMPAT

Satu bulan lebih telah berlalu sejak kepergian Hira. Suasana di kediaman Halim terasa kian lengang.

Tidak banyak orang yang kini bekerja di rumah besar itu. Halim memutuskan untuk menjual rumahnya dengan bantuan Ricky.

Sementara itu, satu persatu pelayan yang dulu pernah bekerja dengannya dia berhentikan. Namun, Halim memberikan mereka pesangon dan surat rekomendasi agar mereka bisa mendapat pekerjaan baru di rumah relasi-relasi keluarga Halim.

Bu Rina dan Pak Amir, kedua orang yang menjaga dan mengikuti keluarga Halim sejak lama memutuskan untuk pensiun dan kembali ke kampungnya.

Namun, mereka akan tetap bersama Halim sampai hari kepindahan pria itu ke Jerman bersama Anne.

Seminggu lagi. Hanya tinggal seminggu lagi bagi Halim untuk mengucapkan selamat tinggal pada rumah ini.

Perasaannya campur aduk. Ada rasa tidak rela sekaligus kelegaan yang luar biasa karena pada akhirnya dia bisa melepas rumah besar yang selama belasan tahun ini telah menjadi tempat penuh kenangan baginya.

Sejujurnya, banyak kerabat yang menyayangkan kalau Halim harus menjual rumahnya, namun pria itu mengatakan kalau dia mungkin akan menetap di Jerman dan tidak akan kembali lagi ke Indonesia.

Kalau pun dia kembali, itu hanya untuk berziarah ke makam istri dan putrinya atau bila ada urusan mendesak yang mengharuskan dia pulang.

Sejak memutuskan untuk ke Jerman, semua urusan perusahaannya juga dia alihkan ke tim profesional yang dia tunjuk.

Namun, Halim tidak lepas tangan begitu saja. Dia akan tetap memantau serta ikut mengambil keputusan yang dianggap krusial terkait perusahaannya dari Jerman.

Karena baginya, perusahaannya itu seperti anak keduanya yang dia besarkan bersama Sabrina dulu.

Setelah belakangan ini sibuk mengurus surat-surat dan dokumen kepindahannya, Halim akhirnya bisa sedikit bernapas lega.

Pria itu banyak menghabiskan waktunya dengan mengelilingi rumah, memotret setiap sudutnya, dan mencari jejak Hira sebanyak mungkin untuk dia simpan dalam memori otaknya agar dapat dia kenang untuk waktu yang lama.

***

Hari Sabtu pagi itu tampak seperti pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada hal spesial yang terjadi. Mungkin perbedaannya adalah Diana sudah bangun sejak pagi untuk memasak karena hari ini Aldo berulang tahun.

Dapur dipenuhi dengan senandung wanita itu yang memasak dengan hati riang.

Ternyata waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, putranya kini sudah berusia 16 tahun.

"Selamat pagi, Do," sapa Diana pada Aldo yang baru saja bangun.

"Pagi, Ma," balas Aldo singkat.

Ini adalah hari pertama libur kenaikan kelas. Setelah konfrontasi di depan gerbang dengan tiga orang cewek yang ternyata berasal dari kelas 2 IPS 4, kelas yang sama dengan gadis bernama Hira yang telah meninggal itu, hidup Aldo di sekolah sedikit berubah.

Kini, orang-orang berhati-hati saat bicara dengannya dan tidak ada lagi yang menyebut-nyebut nama gadis itu lagi di depannya. Aldo merasa lega karena dia bisa kembali menjalani sekolah dengan tenang.

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, dirinya terus menerus merasa terusik. Setiap kali dia teringat nama gadis itu, hatinya merasa tidak nyaman. Rasanya ada sesuatu yang hilang, namun Aldo tidak tahu apa itu.

"Paket...!" terdengar teriakan seseorang dari luar pagar rumahnya. Aldo yang sedang menonton televisi menoleh dan bangun.

"Paket atas nama siapa, pak?" tanya Aldo saat dia sudah sampai di depan gerbang.

"Atas nama Diana, kak," kurir itu lalu menyerahkan sebuah kotak berukuran besar di dalam goodie bag bertuliskan Royal Cake.

Aldo mengerutkan keningnya. Meski keheranan, tapi Aldo tetap menerima kue itu dan membawanya ke dalam.

"Ma, mama pesan kue?" tanyanya sambil meletakkan kotak kue tersebut di atas meja makan.

"Hah?" Diana menatap kotak kue sejenak, dia juga kelihatan bingung. Saat itulah ponselnya yang dia sedang dia charger berbunyi keras, menandakan panggilan masuk.

Wanita itu sempat terdiam sejenak menatap layar sebelum akhirnya mengangkat teleponnya. Dari Ricky.

"Apa kuenya sudah sampai?" tanya Ricky tanpa basa-basi.

"Hah? Kue?" Diana melirik kotak besar di atas meja makan lalu menjawab, "Ya, baru saja sampai. Jadi itu dari kamu?"

"Ya," jawab pria itu singkat.

"Terima kasih," kata Diana.

"Um," Ricky berdeham lalu mematikan panggilannya.

Diana menatap ponselnya sebentar lalu kembali menchargernya. Memang terkadang ada saat di mana Ricky meneleponnya hanya untuk menanyakan kabar Aldo maupun mengirimi putranya itu sesuatu.

Pria itu masih belum berani menghubungi Aldo lagi secara langsung dan sepertinya mereka juga saling menjaga jarak demi menghormati privasi masing-masing.

Seminggu yang lalu, Ricky melangsungkan pernikahannya di Bali. Diana mengetahui kabar bahagia itu lewat media sosial, karena wanita yang pria itu nikahi adalah seorang putri konglomerat sekaligus influencer terkenal, jadi berita pernikahan mereka cukup mencuri perhatian.

Diana cukup lega mengetahui kalau akhirnya pria itu memilih untuk menikah dan melanjutkan hidupnya yang masih panjang.

"Jadi, kue ini dari siapa, Ma?"

"Papamu," jawab Diana singkat.

Aldo terdiam. "Dia ngapain sih kirim-kirim beginian?"

Diana tersenyum, "Gak boleh begitu loh, Do. Niat baik orang gak boleh kita tolak."

Aldo tidak menjawab, dia hanya memperhatikan Diana yang kemudian mengeluarkan kue dari dalam kotak dan meletakkannya di atas meja.

"Wah, kuenya terlihat enak," Diana terlihat senang melihat kue dengan krim putih yang atasnya dipenuhi oleh strawberry.

Matanya berubah sendu, "Andai Hira ada di sini, dia pasti senang. Dia kan suka banget sama kue," gumam Diana pelan namun Aldo bisa mendengarnya walau sekilas.

Aldo tertegun. Hira? Bahkan mamanya pun mengenal gadis itu? Apa benar dia dan gadis bernama Hira itu pernah dekat? Tapi, kenapa dia tidak ingat sedikit pun tentang Hira?

Lihat selengkapnya