Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun bagi Aldo, waktu seolah berjalan dalam ritme yang datar dan sunyi.
Setelah kepergian Hira, tersisa waktu setahun baginya untuk menyelesaikan masa sekolah di SMA Satya Garuda. Jika diingat lagi, masa-masa itu adalah fase terberat yang pernah Aldo lalui seumur hidupnya.
Saat itu, dia sering sekali merindukan Hira dan berharap gadis itu hadir memeluknya lewat mimpi.
Dan jika rindu di dadanya sudah tak terbendung lagi, Aldo akan melangkah ke stasiun sendirian, menumpang kereta menuju Semarang hanya untuk duduk seharian di samping makam Hira.
Orang-orang di sekitarnya selalu berbisik, menyuruhnya untuk segera move on. Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa Aldo memang dengan sadar memilih untuk tidak melupakan Hira.
Aldo memilih untuk menenggelamkan dirinya dalam kenangan-kenangan tentang gadis itu.
Hal itu pula yang akhirnya menuntun langkah Aldo untuk memutar balik seluruh rencana hidupnya.
Dia memutuskan berkuliah ke Jerman, tepatnya di Technische Universität Berlin.
Yang Aldo pikirkan saat itu hanya ingin melangkah selangkah lebih dekat dengan tempat di mana kampus impian Hira berada.
Sejak dulu gadis itu selalu bermimpi ingin kuliah di Humboldt-Universität zu Berlin mengambil jurusan Ilmu Pendidikan (Erziehungswissenschaften), sebuah jalan yang ingin ditempuh Hira demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang guru TK.
Dan sebuah cita-cita yang tidak pernah kesampaian karena gadis itu telah pergi sebelum sempat mewujudkannya.
***
Selama menempuh studi di TU Berlin, Aldo menjelma menjadi mahasiswa yang luar biasa fokus. Di saat teman-teman kuliahnya menghabiskan akhir pekan di klub-klub malam Berlin yang bising, Aldo memiliki ritualnya sendiri.
Hampir setiap dua minggu sekali, Aldo akan membelah keramaian stasiun Berlin Hauptbahnhof, menaiki kereta EuroCity yang bergerak ke arah selatan.
Tujuannya hanya satu yaitu ke Radebeul, sebuah wilayah pinggiran kota Dresden yang tenang dan dipenuhi kebun anggur di lereng bukit.
Di sanalah kedamaian Aldo berada. Di sebuah rumah dua lantai berarsitektur klasik akhir abad ke-19 yang hangat, tinggal Oma Anne dan Halim yang memutuskan menetap di Jerman demi menyembuhkan luka masa lalu.
Dinding rumah yang berwarna kuning hangat tampak kontras dengan tanaman merambat (Efeu) hijau pekat yang tumbuh subur, merayap indah di sepanjang pilar kayu hingga ke bingkai jendela lantai dua.
Di halaman depan yang asri, sebuah kolam air mancur kecil dari batu alam terus mengalirkan air dengan suara gemercik yang menenangkan, menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan pedesaan Jerman.
Tepat di halaman belakang, tanahnya melandai mengikuti bukit, dipenuhi barisan tanaman anggur yang berjejer rapi.
Saat musim gugur tiba, daun-daun anggur itu akan berubah warna menjadi kuning keemasan, senada dengan warna dinding rumah yang selalu memantulkan kehangatan matahari sore.
Bagi Aldo, setiap kunjungannya ke sana adalah sebuah napak tilas. Terkadang dia akan berjalan kaki sendirian mengelilingi kota kecil tersebut, menelusuri setiap sudut tempat yang dulu pernah dikunjungi oleh Hira semasa gadis itu berada di sana.
Aldo ingin melihat apa yang pernah dilihat oleh mata Hira, merekam keindahan yang sama ke dalam ingatannya sendiri.
Atau, pada hari-hari yang lain, Aldo hanya akan duduk mengobrol di teras halaman bersama Halim, ditemani dua cangkir teh hangat yang mengepul di tengah udara Dresden yang menggigit.
Di antara kursi mereka, selalu ada satu tempat kosong yang sengaja disisakan. Sebuah ruang yang secara sadar mereka dedikasikan untuk mengenang Hira.
"Dia pasti bangga banget lihat kamu sekarang, Do," kata Halim sore itu, menepuk pundak Aldo yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang matang dan tegap.
Tidak ada lagi ratapan duka yang gelap. Yang tersisa di rumah itu hanyalah senyuman tipis dan obrolan hangat setiap kali mereka merayakan memori tentang betapa ajaibnya Hira semasa hidupnya.
Aldo merawat keluarga Hira dengan seluruh jiwanya, menepati janjinya untuk tidak pernah meninggalkan mereka.