The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #41

EMPAT PULUH SATU

Halim menoleh cepat ke arah ranjang di mana Hira berada. Kelopak mata gadis itu bergerak, membuka sedikit demi sedikit. Jantung Halim berdesir hebat, nyaris tidak percaya bahwa putrinya akhirnya sadar dari koma panjang.

​"Rick! Cepat panggil Dokter Chandra ke sini!" seru Halim. Suaranya bergetar hebat antara panik dan lega yang membuncah. "Lalu tolong telepon Aldo juga! Dia bilang ingin dikabari kalau Hira sadar. Cepat, Rick!"

​Ricky yang sempat mematung langsung tersentak mendengar perintah lantang Halim. Tanpa membuang waktu, Ricky menggeser pintu ruang ICU dan setengah berlari keluar.

Sembari mencari Dokter Chandra, jemarinya dengan cepat mencoba menghubungi nomor Aldo.

​Sementara itu, di belahan kota yang lain, Aldo sedang membelah jalanan kota dengan sepeda motornya, membonceng Diana.

Merasa saku jaketnya bergetar, dia menepi sejenak di bahu jalan untuk mengecek ponsel. Keningnya mengernyit dalam saat mendapati sebuah nomor asing yang tidak dikenal terus-menerus mencoba menghubunginya.

​Karena mengira itu hanyalah panggilan spam atau tawaran asuransi, Aldo mendengus pelan. Dia mengabaikannya dan kembali memutar gas untuk melanjutkan perjalanan pulang.

​"Kenapa tadi berhenti, Do? Siapa yang menelepon?" tanya Diana dari jok belakang. Dia heran karena Aldo menepi nyaris dua kali hanya untuk memeriksa ponselnya yang tak henti-hentinya bergetar.

​"Tidak apa-apa, Ma. Cuma telepon spam," jawab Aldo datar dari balik helmnya.

​Di koridor rumah sakit, Ricky menggigit bibir bawahnya sambil menatap layar ponsel dengan nanar.

​"Kenapa Aldo tidak mengangkatnya? Apa dia masih di jalan?" gumam Ricky cemas.

​Menyadari waktu terus berjalan, Ricky berhenti menelepon. Dia mengirimkan satu pesan singkat agar Aldo segera meneleponnya balik, lalu berlari menuju meja konter perawat.

Dengan napas memburu, dia meminta perawat segera memanggilkan Dokter Chandra karena pasien atas nama Saphira telah siuman.

Sementara itu...

​Di dalam ruang ICU, keheningan yang mencekam kembali merayap. Di sisa kesadarannya yang kian menipis, tangan Hira bergerak lemah di atas seprai putih. Jemarinya meraba-raba, mencari kehangatan tangan sang papa.

​Halim dengan cekatan langsung menyambut dan menggenggam erat jemari kurus putrinya. Karena adanya pipa ventilator yang menyumbat tenggorokannya, Hira sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara.

​"Sayang... Papa di sini. Syukurlah kamu sudah sadar, Nak," bisik Halim dengan kelopak mata yang mulai basah oleh rasa haru. "Kamu tunggu sebentar ya, Ricky sedang memanggil Dokter Chandra untuk memeriksa kamu."

​Namun, Hira tidak merespons dengan binar bahagia. Gadis itu hanya menatap Halim dengan sepasang mata yang diselimuti kesedihan mendalam. Setitik air mata bergulir lambat melewati pipinya yang pucat pasi.

​Detik itu juga, bagai dihantam petir, Halim tersadar. Tatapan itu bukan tatapan kerinduan. Hira sedang menyampaikan kata maaf yang teramat besar... sekaligus ucapan selamat tinggal.

​Pertahanan Halim runtuh seketika. Tangisnya pecah tak terbendung. Dia mendekap tangan Hira yang terasa semakin dingin ke pipinya, terisak-isak pelan agar tidak mengejutkan putrinya.

Hira ikut menangis tanpa suara, membiarkan air matanya mengalir deras. Dada Halim terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak lenyap.

​Setelah beberapa saat mencoba berdamai dengan kenyataan yang teramat kejam, Halim mendekatkan wajahnya. Dia berbisik lirih, tepat di telinga putrinya.

​“Hira... Papa sayang sekali sama Hira. Papa tidak mau kehilangan Hira. Tapi, Papa juga tidak bisa melihat Hira terus-menerus menderita kesakitan seperti ini... Papa tahu Hira sudah tidak kuat lagi. Karena itu... Hira boleh pergi. Pergilah menemui Mama Sabrina di sana. Papa sudah ikhlas, Nak. Papa di sini akan baik-baik saja...”

​Sepasang mata Hira yang meredup perlahan bergerak. Pandangannya bergeser pelan, mengarah ke belakang punggung Halim.

Hira berusaha mencari satu sosok lagi. Sosok yang nyaris setiap hari memanggilnya, memohon padanya dengan sangat untuk bangun walau hanya sebentar.

​Namun, sosok itu tidak ada di sana.

​Bersamaan dengan runtuhnya harapan di matanya, genggaman tangan Hira pada jemari Halim perlahan-lahan melonggar, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya.

Tubuh ringkih itu berhenti bergerak. Dadanya tidak lagi naik-turun, dan jantungnya berhenti berdenyut.

​Grafik pada bedside monitor seketika berubah mendatar. Suara denging statis yang panjang dan monoton langsung memenuhi ruang ICU, menggema memekakkan telinga bagai lonceng kematian yang merenggut seluruh kewarasan Halim. Hidup putrinya telah resmi berakhir.

​Dokter Chandra berlari sekuat tenaga memasuki ruang ICU, namun langkahnya mendadak terkunci di ambang pintu. Dia hanya bisa mendapati Hira yang telah menutup matanya untuk selamanya. Lutut Dokter Chandra terasa lemas.

Dia berpegangan pada daun pintu dengan napas tersengal, sementara Ricky yang menyusul di belakangnya terhuyung shock. Hira benar-benar terbangun hanya untuk berpamitan pada papanya.

​Tim dokter ICU segera masuk dan mengambil alih. Beberapa perawat dengan lembut membimbing Halim yang sudah terpukul hebat untuk keluar dari ruangan.

Lihat selengkapnya