The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #42

EMPAT PULUH DUA

Isak tangis kehilangan memenuhi aula rumah duka yang ramai didatangi pelayat.

Meski jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, para pelayat tidak henti-hentinya berdatangan.

Rata-rata pelayat yang datang adalah kerabat dan relasi bisnis Halim. Mereka datang secara langsung setelah menerima kabar duka yang disebarkan melalui media sosial dan whatsapp resmi perusahaan Halim yang saat ini dipegang oleh asisten barunya, Doni.

Halim duduk bersandar di lantai dingin, menatap kosong ke arah peti mati berisi tubuh putrinya yang telah tertidur untuk selamanya.

Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menangis, air matanya mungkin sudah kering sepenuhnya.

Meski dia sempat berkata telah mengikhlaskan putrinya untuk pulang ke hadapan Tuhan, namun di sudut hatinya yang terdalam, rasa tidak rela itu masih teramat besar.

Dengan mata yang memerah, Halim terus-menerus menggumamkan hal yang sama, "Hira... tanpa kamu, bagaimana Papa akan hidup setelah ini?"

Anne duduk bersebelahan dengan Marissa, menatap putra mereka yang hancur tanpa bisa melakukan apa pun.

Saat ini, tidak ada satu pun kata penghiburan yang mampu menghapus kesedihan Halim.

Oleh karena itu, baik kerabat maupun pelayat belum ada yang berani mendekati Halim, bahkan hanya untuk mengucapkan belasungkawa.

Mereka semua memberikan pria itu waktu untuk tenggelam dalam kedukaannya.

Dari luar rumah duka, Arabella berlari seperti orang kesetanan. Di belakangnya, Sebastian dan kedua orang tua mereka datang bersama untuk melayat.

Ketika gadis itu tiba di depan ruang duka dan melihat peti mati Hira, tangis histeris Arabella pecah seketika.

Tubuhnya yang lemas nyaris ambruk jika saja Sebastian tidak segera menangkapnya dan membawanya duduk di sisi lain ruangan.

Sebastian menyandarkan kepala Arabella ke pundaknya. Gadis itu terisak penuh kesedihan.

"Kak, Hira-ku pergi... Sahabatku telah pergi. Baru tadi aku menengoknya di rumah sakit, dan sekarang dia sudah tidak ada... Dia tega sekali padaku, Kak," kata Arabella lirih di sela tangisnya.

Sebastian mengusap-usap lengan adiknya dengan lembut seraya berbisik pelan, "Bel, kamu yang paling tahu bagaimana Hira menderita karena penyakitnya selama ini. Sekarang Hira sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah sehat. Kepalanya tidak akan sakit lagi, tidak akan mimisan lagi, ataupun tersedak saat menelan makanan. Dia bahagia, Bel. Dia pergi bukan karena tidak menyayangimu, tapi karena Tuhan lebih sayang padanya. Jadi, tolong kuat dan tabah, ya?"

Diana yang juga datang, memperhatikan suasana rumah duka yang dipenuhi kesedihan menyesakkan sambil sesekali menyeka air matanya.

Dia memutuskan untuk datang meski hari sudah sangat larut, mengingat Hira akan dimakamkan di Semarang esok pagi.

Tidak ada waktu lain baginya untuk mengucapkan selamat tinggal pada gadis kecil kesayangannya itu selain saat ini.

Setelah meminta alamat rumah duka dari Ricky, Diana memesan ojek online dan pergi sendirian di tengah malam, meninggalkan Aldo di rumah.

Saat Diana menengoknya sebelum berangkat, Aldo masih terlihat fokus belajar di kamarnya. Putranya tampak begitu tenang, hingga terlihat mengerikan di mata Diana.

Wanita itu teringat tatapan polos Aldo saat bertanya balik padanya, 'Hira siapa, Ma?'. Saat itu, jantung Diana seakan berhenti berdetak.

Dia melangkah mundur, terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Aldo. Dia berusaha mencari tahu apakah putranya sedang bercanda, tapi Aldo bukanlah tipe orang yang suka bergurau.

Saat Diana menatap sepasang mata itu, tidak ada kebohongan di sana. Cowok itu benar-benar tidak tahu siapa Hira.

'Kenapa di saat terakhir kamu bisa menemui Hira, kamu malah melupakannya, Do?' batin Diana pilu.

Ricky mendekati Diana yang masih sibuk mengusap air matanya di sudut ruangan.

"Aldo tidak datang?" tanya Ricky. Meski tidak melihat sosok putranya di sudut mana pun, dia tetap bertanya pada Diana karena ingin memastikan.

"Aldo sangat aneh...," gumam Diana.

Ricky mengerutkan keningnya. "Aneh bagaimana?"

"Dia tidak terlihat sedih maupun kehilangan. Saat aku bilang Hira meninggal pun, dia bilang kalau dia tidak mengenal Hira. Aku sangat bingung sekaligus khawatir. Padahal tidak apa-apa jika dia ingin menangis..."

Ricky tertegun. Menerka-nerka kira-kira apa yang terjadi pada putranya. Saat itulah, matanya menangkap sosok Dokter Chandra yang baru saja tiba di rumah duka setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit.

Pria muda itu duduk tenang di antara para pelayat setelah berdoa sebentar di depan peti Hira.

"Kemarilah," ajak Ricky.

Diana mengikuti langkah Ricky menghampiri Dokter Chandra.

"Malam, Dokter Chandra," sapa Ricky lalu duduk di hadapan sang dokter.

Dokter Chandra mengangguk, lalu pandangannya beralih pada Diana.

"Ini Mama Aldo, Dok," kata Ricky lagi.

"Oh, halo," sapa Dokter Chandra ramah pada Diana. "Jadi, ada apa, Pak Ricky?" tanyanya kemudian.

Ricky menjelaskan kondisi Aldo secara singkat. Dokter Chandra mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Ricky, namun respon pria itu tampak tidak terkejut.

Dokter Chandra menghela napas pelan lalu menjawab dengan tenang.

"Saya bukan psikolog, namun dari penjelasan Pak Ricky barusan, saya menduga Aldo mengalami amnesia disosiatif," Dokter Chandra menjeda ucapannya sejenak.

"Amnesia disosiatif adalah kondisi di mana ingatan seseorang terhapus dari memori otaknya akibat guncangan mental yang sangat hebat. Bukan karena otaknya rusak, tapi ini adalah bentuk mekanisme pertahanan diri yang dilakukan oleh otak untuk bertahan hidup. Jika otak tidak melakukan hal itu, trauma dan rasa sakit ekstrem bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa, atau pada kemungkinan terburuk, melakukan tindakan membahayakan diri. Kondisi ini memang langka, tapi sangat mungkin terjadi."

Lihat selengkapnya