The Meaning Of You

Febby Juniatara
Chapter #43

EMPAT PULUH TIGA

Suasana SMA Satya Garuda di kamis pagi itu mendadak hening setelah sebuah kertas pengumuman berbingkai hitam terpasang di papan mading sekolah.

Kertas itu begitu mencolok hingga menarik perhatian puluhan siswa untuk berkerumun.

Ditambah, kertas itu berisi pengumuman yang tidak biasa. Sebuah berita dukacita resmi dari pihak sekolah.

Mengabarkan wafatnya salah satu siswi yang beberapa minggu lalu mendadak mengundurkan diri.

Hira Halim.

Kelas 2 IPS 4 terguncang hebat. Tebak-tebakan dan spekulasi liar yang selama ini beredar akhirnya terjawab dengan kenyataan yang menghantam dada.

Kertas di mading itu menjelaskan semuanya, alasan kenapa Hira tiba-tiba menghilang dan mengundurkan diri ternyata karena gadis itu selama ini sedang berjuang melawan sakit keras.

Kesha terduduk lemas di bangkunya, tangisnya pecah seketika. Penyesalan dan rasa syok menyergapnya tanpa ampun.

Apalagi saat mengetahui Hira ternyata sudah dimakamkan tiga hari yang lalu di luar kota, tanpa memberi kesempatan sedikit pun baginya untuk sekadar mengucapkan kata perpisahan.

Farah dan Santi mengelus punggung Kesha, ikut menahan napas yang terasa berat.

Kesedihan menggelayut tebal di koridor kelas IPS. Bagi orang-orang yang mengenal Hira secara langsung, berita meninggalnya gadis itu benar-benar menimbulkan duka yang mendalam.

Tidak seorang pun yang akan menyangka kalau di balik keceriaannya, Hira memiliki sebuah penyakit mematikan di tubuhnya.

Sementara itu, atmosfer yang begitu kontras dengan kelas 2 IPS 4, terjadi di kelas 2 IPA 1. Kelas Aldo.

Bisik-bisik yang beredar di barisan belakang kelas mulai mengusik ketenangan. Tatapan mata teman-teman sekelas tertuju pada satu titik, meja Aldo.

Cowok itu duduk tenang, sibuk merapikan buku pelajarannya seolah berita duka di mading pagi tadi hanyalah angin lalu.

"Gila, kok Aldo keliatan gak ada raut sedih-sedihnya sama sekali."

"Yah, memangnya dia harus ngapain? Mereka kan cuma partner belajar. Hira juga udah lama berhenti sekolah, jadi udah gak ada hubungan apa-apa lagi."

"Yah, tapi minimal berempati lah, mereka kan belajar bareng gak sehari dua hari..."

"Ssssttt... biarin deh, itu urusan Aldo. Hak dia mau sedih atau gak."

"Tapi dingin banget gak sih? Kasihan Hira... kayak gak dianggap pernah ada sama Aldo. Dia kayak orang lupa ingatan."

Aldo memejamkan matanya, menghela napas panjang. Dia mendengar semuanya, bisik-bisikan itu.

Kalimat teman-temannya"kayak orang lupa ingatan" itu entah kenapa memberikan denyutan nyeri yang asing di pelipisnya. Nyeri yang cepat datang, lalu hilang begitu saja.

Sejujurnya dia tidak mengerti kenapa kalimat-kalimat itu ditujukan untuknya. Dia bukannya hilang ingatan, tapi dia memang merasa tidak memiliki ingatan apapun tentang siswi yang meninggal itu. Dia bahkan tidak mengenalnya.

Karena itulah, Aldo memilih untuk tidak menghiraukannya. Begitu bel pulang berbunyi, tanpa membuang waktu dia menggendong tasnya dan melangkah keluar kelas.

Langkahnya terhenti di depan mading, dia menoleh dan melihat berita dukacita yang masih tertempel di sana.

Tadi pagi, karena mading dipenuhi oleh orang-orang, dia tidak bisa melihat dengan jelas pengumumannya. Dia hanya tahu ada berita siswi yang meninggal dunia. Tanpa tahu siapa siswi tersebut.

Hira?

Aldo membisikkan nama itu dalam hati. Keningnya berkerut. Nama yang tercantum di kertas dukacita itu entah kenapa membuat dadanya terasa nyeri. Dia mulai merasa mual dan kepalanya berdenyut-denyut.

Merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, dia segera meninggalkan mading dan menuju ke parkiran.

Aldo berjalan dengan terburu-buru. Dia pikir dia harus segera pulang untuk istirahat, namun, tepat saat itu, di parkiran motor yang berada dekat gerbang utama sekolah, langkah Aldo harus terhenti karena ada tiga orang siswi berdiri menghadang jalurnya.

Aldo mengerutkan kening sembari menatap Kesha, Farah, dan Santi. Wajah Kesha memerah, matanya sembap dan menyiratkan kemarahan bercampur duka yang mendalam saat menatap lurus ke arah mata Aldo yang dingin tanpa ekspresi.

"Ada apa ini?" tanya Aldo datar, menatap Kesha yang dadanya naik-turun menahan emosi.

Kesha mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya yang basah menatap Aldo dengan tatapan tidak percaya. "Kamu... benar-benar nggak punya hati ya, Do?"

Aldo hanya diam, keningnya sedikit berkerut bingung.

Lihat selengkapnya