Pukul tiga pagi lewat sedikit, sementara dunia di luar sana masih tertidur lelap, mobil hitam yang dikendarai Pak Amir membelah kegelapan jalan tol trans jawa yang lengang.
Suasana di dalam kabin terasa hening, hanya diisi oleh dengung halus mesin dan deru angin malam yang berhembus di luar.
Sesekali mobil mereka akan berpapasan dengan satu atau dua kendaraan lain yang menuju arah yang sama.
Aldo yang duduk di kursi penumpang depan, memeluk ransel hitam berisi benda-benda berharga milik Hira.
Di sampingnya, Pak Amir fokus menatap jalanan lurus di depannya. Pria paruh baya itu sesekali melirik anak cowok di sebelahnya lewat sudut mata, menangkap bayangan tubuh Aldo yang menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dengan tatapan matanya yang kosong.
"Den Aldo kalau mau tidur, tidur saja dulu. Perjalanannya masih lumayan jauh," kata Pak Amir pelan, memecah keheningan yang terasa menyesakkan.
Aldo menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Gak apa-apa, Pak. Saya gak mengantuk."
Pak Amir menghela napas halus. Dia lalu mengulurkan tangan kiri, mengecilkan pendingin udara, dan mengambil sekotak tisu dari dasbor, lalu meletakkannya di antara kursi mereka.
"Bapak tahu, Den..." ucapan Pak Amir terhenti sejenak. Tangannya kembali memegang kemudi. "Rasa sakit karena kehilangan itu ndak pernah benar-benar hilang. Tapi menahannya sendirian itu cuma bikin dadanya makin sesak. Di sini cuma ada Bapak. Tumpahkan saja semuanya sekarang, supaya nanti pas ketemu Non Hira, Den Aldo sudah lega."
Kata-kata Pak Amir yang sederhana namun penuh kehangatan itu menghantam pertahanan Aldo yang sejak tadi dibangun rapat-rapat.
Lilitan di dadanya mendadak mengencang. Aldo menunduk makin dalam. Dia mempererat pelukannya pada ransel hitamnya.
Bayangan senyum Hira, suara tawa gadis itu yang riang, dan kenyataan bahwa gadis itu kini telah tiada bertubi-tubi menghantam pikirannya.
Satu tetes air mata jatuh, Aldo menengadah, berusaha untuk tidak menangis. Namun, sekuat apapun cowok itu mencoba menahannya, air matanya mengalir semakin deras, membasahi pipinya. Bahu Aldo mulai berguncang pelan.
Tidak ada raungan keras. Aldo hanya menangis dalam diam, menahan suaranya agar tidak pecah, namun napasnya berhembus patah-patah.
Rasa bersalah karena sempat melupakan Hira, rasa sakit karena kehilangan, dan kerinduan yang teramat sangat menyatu dalam tangisan yang paling senyap sekaligus paling menyiksa sepanjang hidupnya.
Pak Amir tidak menambahkan kata-kata lagi. Pria tua itu hanya membiarkan keheningan malam dan deru roda mobil menjadi saksi betapa hancurnya hati anak remaja di sebelahnya.
Langit Semarang perlahan berganti warna menjadi abu-abu kebiruan ketika mobil Pak Amir berbelok memasuki kawasan pemakaman keluarga yang terletak di perbukitan yang tenang.
Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di udara, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang segar. Mobil berhenti di pinggir jalan setapak berdinding batu.
"Sudah sampai, Den," bisik Pak Amir pelan.
Aldo mengangguk. Dia menyapu sisa air mata di wajahnya, mengambil napas panjang untuk menetralkan dadanya yang masih terasa berat, lalu keluar dari mobil membawa ransel di bahunya.
Udara pagi yang dingin berhembus pelan menyapa wajah Aldo. Langkahnya terasa sangat berat saat menyusuri jalan setapak berumput basah.
Petunjuk dari Pak Amir menuntunnya menuju sebuah area pemakaman yang tenang di bawah naungan pohon kamboja yang rindang.
Di sana, diantara makam-makam keluarga yang lain, sebuah gundukan tanah yang masih terlihat baru berdiri berdampingan dengan makam berumput hijau yang tertata sangat rapi dengan batu nisan marmer putih. Makam Mama Hira.
Aldo mengalihkan pandangan ke sebelah makam Mama Hira. Matanya terkunci pada ukiran nama di batu nisan yang masih tampak baru itu.
Saphira Adeline Dinata.
Dada Aldo berdebar hebat. Kakinya melemas. Tanpa sadar, dia berlutut di atas rumput basah persis di samping gundukan tanah itu.
Jemarinya yang gemetar perlahan terulur, menyentuh permukaannya yang dingin, mengusap huruf demi huruf dari nama gadis yang pernah menjadi pusat dunianya.
"Hira..." panggil Aldo lirih. “Aku di sini.”
Ada jeda cukup panjang sebelum dia kembali bersuara, mengumpulkan keberanian yang sempat tersisa di dalam dadanya.
“Ra…. Bisa-bisanya kamu pergi tanpa bilang padaku...." suara Aldo terdengar serak. Nafasnya tertahan karena rasa sesak yang melandanya.
"... Kamu sangat kejam, Ra. Apa kamu tidak tahu betapa sakitnya hatiku? Apa… sesulit itu menungguku datang?…. Padahal aku belum mengizinkanmu untuk pergi, tapi… kenapa?” Aldo terisak pelan.
“Kenapa kamu tetap memutuskan untuk pergi? Dan kenapa kamu memilih pergi saat aku tidak ada di sampingmu?” Aldo mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“... Saat mendengar berita kepergianmu, hal pertama yang aku ingat adalah pikiranku mendadak terasa kosong. Dan entah kenapa, otakku memaksa untuk menghapus namamu bersama kenangan-kenanganmu.... Sepertinya, duka karena kehilanganmu terlalu sulit untuk aku tanggung, Ra.”
“Jujur, aku... masih belum siap untuk berpisah denganmu, Ra. Kebersamaan kita terlalu singkat. Kenangan bersamamu juga tidak banyak, dan aku… sungguh menyesalinya, sampai sekarang….”
Aldo berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. Seumur hidupnya, belum pernah dia bicara panjang lebar seperti ini, rasanya tidak seperti dirinya.
"Semalam aku ke rumahmu. Sekarang tempat itu sepi banget tanpa kamu... Lalu, pertama kalinya aku masuk ke kamar kamu dan… coba tebak aku menemukan apa? Aku nemu tulisan kamu di post it." Aldo menarik napas sembari terus menyeka air matanya yang terus mengalir.
"... Membaca tulisan-tulisan itu, membuat aku menyadari bahwa begitu banyak hal yang tidak aku tahu tentang kamu. Aku bahkan baru tahu kalau kamu punya cita-cita kuliah ke Jerman, dan jadi guru TK….,” Aldo tersenyum tipis. “Itu sangat cocok denganmu. Kamu pasti akan jadi guru yang hebat dan jadi kesayangan murid-muridmu."
"Sayangnya, kamu harus pergi sebelum sempat mewujudkannya tapi... aku... aku akan memastikan untuk menjaga impianmu dan orang-orang yang kamu sayangi, Ra."
"Terakhir, aku minta maaf karena baru datang sekarang. Maaf karena aku sangat terlambat..." kata Aldo pelan. "Maaf karena kemarin-kemarin, aku sempat ngelupain kamu… Maaf karena aku belum sempat membalas semua kebaikan yang kamu kasih ke aku. Dan juga…,"
"Aku belum sempat menjawab perasaanmu," kata Aldo. Cowok itu melepas ranselnya, mengeluarkan selembar kertas berisi surat yang ditulisnya kemarin sore, meletakkannya di depan nisan seraya berkata, "Surat ini berisi hal-hal yang tidak sanggup aku utarakan padamu sebelumnya."
Ada jeda sejenak untuk Aldo menarik napas lagi sebelum akhirnya dia juga menarik keluar sebuket bunga baby's breath dari dalam ransel yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Namun, Aldo terkejut mendapati bunga yang dicintai Hira itu nyaris layu dan beberapa tangkainya patah karena Aldo terlalu kuat memeluk ransel itu selama di perjalanan.
Cowok itu lalu menggaruk kepalanya, merutuki kecerobohannya. Kenapa dia bisa lupa kalau di dalam tas itu ada bunga segar yang memang dia beli sewaktu di perjalanan dari rumahnya ke rumah Hira?
"Ra, maaf bunganya rusak," kata Aldo pelan sambil memilih tangkai-tangkai yang masih utuh dan terlihat bagus lalu menyatukannya kembali menjadi buket tipis. “Padahal tadi bunganya masih bagus.”