Halim menuruni tangga rumahnya dengan tergesa-gesa, dia nyaris tertidur ketika Bu Rina mengetuk pintu kamarnya untuk memberitahu kalau Aldo datang.
Sembari menunggu Halim datang, Aldo memandangi foto besar keluarga Hira yang terpajang di atas grand piano di mana Hira kecil diapit oleh Papa dan Mamanya sambil tersenyum manis.
Hal yang sama persis, dulu pernah dia lakukan ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke rumah ini. Aldo yang dulu pasti tidak akan pernah menyangka kalau kini dia akan menatap foto itu dengan penuh kerinduan.
Aldo mengedarkan pandangannya lagi ke sekeliling. Foto-foto yang dulu memenuhi ruangan ini telah menghilang. Tidak ada yang tersisa selain foto besar itu saja. Bahkan hampir semua sudut rumah Hira dipenuhi oleh kardus-kardus coklat besar yang tersusun rapi.
Aldo tahu kalau ada yang berbeda dari rumah ini. Seolah pemiliknya sedang bersiap untuk pergi. Selain itu, rumah ini terlalu dingin. Tidak ada kehangatan yang dulu pernah Aldo rasakan sewaktu datang berkunjung ke sini.
Wajah-wajah pelayan yang pernah Aldo lihat dulu, nyaris sudah tidak ada. Tidak banyak pelayan yang tersisa untuk mengurus rumah sebesar ini.
“Aldo?” panggil Halim.
Aldo yang sedang melamun langsung mendongak dan menatap sosok pria yang sangat disayangi oleh Hira itu.
Pria itu tampak jauh lebih kurus dibanding yang ada di ingatannya.
Halim menyuruh Aldo untuk duduk dan meminta tolong pada Bu Rina untuk menyediakan teh hangat.
Pria itu memperhatikan Aldo yang terlihat baik-baik saja meskipun wajahnya sembab dan sedikit pucat. Sebuah ransel tergeletak di sebelahnya.
“Syukurlah kamu terlihat sehat, Do,” kata Halim membuat Aldo tersentak. “Jadi, ada apa tiba-tiba datang selarut ini?” tanyanya setelah mereka saling duduk berhadapan.
“Saya… ingin bertanya alamat Hira dimakamkan, Om,” kata Aldo pelan.
“Oh, saya kira kenapa. Kamu kan bisa bertanya lewat pesan. Jadi tidak perlu ke sini,” kata Halim.
Aldo meremas tangannya, lalu menatap Halim yang sedang menyesap tehnya.
“Tidak. Saya datang ke sini selain ingin bertanya tentang alamat, saya juga ingin bertemu langsung dengan Om Halim dan meminta maaf,” kata Aldo, suaranya terdengar bergetar.
Halim mengerutkan keningnya. Dia meletakkan cangkir tehnya dan menatap Aldo balik. Mata cowok itu tampak dipenuhi penyesalan.
“Minta maaf untuk apa?”
“Maaf karena baru bisa datang sekarang, Om…. Maaf juga karena saya… selama sebulan ini telah melupakan Hira. Saya sungguh merasa bersalah karena sempat melupakan dia,” katanya dengan wajah muram.
Halim tertegun. Melihat Halim yang hanya diam, Aldo kembali melanjutkan ucapannya. “Saya tahu ini terdengar seperti alasan, tapi saya terkena amnesia disosiatif pada hari saya mendapat kabar kalau Hira meninggal. Setelah kejadian itu, saya benar-benar melupakan Hira, saya tidak mengenalnya dan saya baru mengingatnya hari ini.”
“Amnesia?”
Aldo mengangguk pelan.
Halim menutup mulutnya, “Astaga. Kenapa Ricky tidak ngomong apa-apa padaku?” Halim berdecak. “Lalu bagaimana kondisimu sekarang?”
“Saya baik-baik saja, Om. Makanya, saya datang ke sini untuk bertanya di mana Hira dimakamkan. Saya mau berziarah.”
Halim berdeham. Tidak pernah terpikirkan sama sekali bahwa rasa sakit karena kehilangan yang dialami oleh Aldo ternyata membuat ingatan anak itu tentang Hira sampai terhapus.
Meski sampai beberapa waktu lalu Halim memang sempat bertanya-tanya di manakah Aldo berada dan bagaimana kabarnya selama ini? Bukan untuk menyalahkannya karena tidak pernah muncul setelah Hira meninggal, tapi hanya ingin memastikan kalau Aldo tidak terguncang dan hancur sepertinya. Dia justru berharap kalau Aldo bisa terus melanjutkan hidupnya.
"Aldo..., tidak akan ada yang menyalahkanmu karena sudah melupakan Hira. Jadi, tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri. Hira pergi dengan hati yang ikhlas. Dia pasti tidak akan suka jika melihatmu seperti ini."
Kata-kata Halim membuat Aldo tersentak dan di waktu bersamaan, hati Aldo terasa ringan, seolah beban berat yang menghimpit dadanya terangkat. Cowok itu lega mengetahui Hira pergi dengan tenang.
“… Do…,” panggil Halim kembali, Aldo mendongak lalu menatap mata Halim yang terlihat teduh penuh wibawa, yang jika diperhatikan baik-baik sangat mirip dengan mata yang dimiliki oleh Hira.
“Saya tidak akan melarangmu untuk pergi. Tapi, pergilah saat kamu sudah benar-benar siap. Hira tidak akan kemana-mana. Dia akan selalu ada di sana, di samping Mamanya.”
Aldo tersenyum tipis, matanya memerah.
“Saya… sudah siap, Om. Sekarang saya sudah lebih tegar menerima kepergian Hira. Hanya saja, saya belum mengucapkan salam perpisahan padanya. Karena itu…,” Aldo terdiam untuk menarik napas. “Karena itu, tolong izinkan saya untuk berziarah ke makamnya.”
Halim menghela napas pasrah melihat keteguhan Aldo.
“Baiklah. Kalau kamu bersikeras. Tapi ada syaratnya, biarkan Pak Amir yang mengantarmu. Kamu pasti mengenal beliau. Saya tidak bisa membiarkan kamu pergi ke sana sendiri, selain jauh, tempatnya akan sulit kamu capai dengan transportasi umum.”
“Tapi, Om, saya tidak bisa merepotkan Pak Amir,” kata Aldo menolak dengan halus.
Dia memang sudah berencana untuk pergi dengan bis malam agar bisa sampai di Semarang pagi harinya.
“Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak pergi dengan Pak Amir, saya tidak akan mengizinkan kamu pergi,” kata Halim.
Aldo menghela napas, melihat Halim, Aldo jadi tahu dari siapa sifat keras kepala Hira menurun.
“Baiklah, Om,” jawabnya pasrah,
Halim tersenyum, pria itu lalu meminta Pak Amir untuk datang ke ruang tamu.
“Pak, besok pagi, tolong antar Aldo ke makam Hira. Berangkatlah lebih pagi supaya sampai di sana tidak terlalu siang,” kata Halim sambil memberikan instruksi pada Pak Amir yang mengangguk-angguk mengerti.