Di Taman Kanak-Kanak Sunny Horizon, sebagian besar anak sibuk dengan urusan yang, menurut standar orang dewasa, terlihat sangat penting: membangun menara balok setinggi mungkin sebelum roboh, atau mewarnai gambar kucing, meski warna bulunya entah kenapa selalu ungu.
Damian? Dia berbeda.
Dia tidak sekadar membangun menara atau mewarnai keluar garis. Dia membangun rencana.
Kalau anak-anak lain punya ember pasir, Damian punya peta kota lengkap dengan jalur strategi keluar-masuk.
Dia bukan pelari tercepat, bahkan saat lomba lari, dia sering kalah dari Lila yang kakinya mungil tapi kecepatannya seperti kelinci minum kopi. Dia juga bukan yang paling ribut, itu sudah jelas jadi wilayah kekuasaan Anton, anak yang bisa tertawa selama tiga menit penuh tanpa berhenti. Tapi Damian punya sesuatu yang jarang dimiliki anak lima tahun: kemampuan berpikir tiga langkah ke depan.
Suatu siang, bencana menimpa. Mobil mainan kesayangannya berwana merah mengilap, rodanya berputar mulus, dan diberi nama “Speedy” menghilang dari loker.
Beberapa menit kemudian, Damian melihat Riko, anak dengan reputasi “bos kecil” di playground berjalan keliling sambil memamerkan Speedy seperti piala dunia.
Riko bahkan meniru suara mobil, “Vroooom!” sambil menatap Damian dengan senyum kemenangan.