Jam menunjukkan pukul 00.45 ketika Segara sampai di depan pagar sebuah rumah di komplek perumahan yang terletak tak jauh dari sebuah kampus universitas ternama.Hujan deras dibarengi kilat yang menyambar-nyambar mengiringi sepanjang perjalanannya pulang ke rumah. Dilihatnya lampu teras rumahnya menyala, namun lampu ruang tamu padam.
"Ayah dan Jenar pasti sudah tidur," batin lelaki muda yang dua hari lagi akan mengikuti wisuda Sarjana S1 Fakultas Teknik jurusan Teknik Mesin itu.
Dia pun mematikan mesin sepeda motornya,lalu merogoh saku celana jeans belelnya,mengambil kunci pintu pagar dan pintu rumah.Anak sulung dari dua bersaudara itu memang selalu membawa kunci sendiri, karena dia sering pulang larut malam.
Dia sedikit terkejut bercampur heran ketika menyadari ternyata pintu pagar tidak terkunci. Dia kenal betul kebiasaan ayahnya yang selalu mengunci pintu pagar dan pintu rumah serta mematikan lampu ruang tamu bila hendak pergi tidur.
Setelah memarkirkan sepeda motornya ke teras dan melepaskan helm, jacket serta sepatu ketsnya yang basah kuyub, putra sulung keluarga Samudra itu lagi-lagi merasa heran setelah menyadari ternyata pintu rumah juga tidak dalam keadaan terkunci,bahkan sedikit terbuka.
"Tidak biasanya ayah begini," batin Segara sambil masuk ke dalam rumah.
Rasa penat tergambar jelas di wajah lelaki muda berkulit bersih dan berpostur tinggi atletis itu. Sepanjang pagi hingga siang tadi, dia mengurus administrasi dan keperluan wisudanya. Sore hingga malam dia habiskan di pabrik furniture milik Gatot, sahabat ayahnya yang memiliki usaha pengolahan kayu untuk dijadikan furniture.
Gatot memang sering meminta Segara untuk membantu memperbaiki mesin-mesin di pabriknya bila ada yang mengalami kendala. Segara yang memang hobi mengutak-utik mesin,selalu bersemangat bila diminta memperbaiki atau memodifikasi mesin-mesin di pabrik Gatot.Selain dia bisa menyalurkan hobinya,dia juga bisa menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah. Ditambah lagi,dia juga mendapat upah dari Gatot yang bisa digunakannya sebagai uang saku.
"Mandi lalu tidur,enak nih " monolognya sambil menyalakan tombol lampu ruang tengah.
Sekilas dia melihat ayahnya duduk bersandar di sofa depan tv yang membelakangi tempatnya berdiri. Layar kaca itu tampak menayangkan pertandingan sepak bola.
"Mana sama mana,yah ?" tanyanya pada sang ayah.
Tak ada sahutan.
"Ayah pasti ketiduran," batinnya sambil berjalan mendekat ke sofa.
Begitu sampai di depan sofa tempat ayahnya duduk,matanya langsung terbeliak.
"Yah ..yah...apa yang terjadi ??!!!" serunya panik melihat kepala ayahnya terkulai di sandaran punggung sofa bersimbah darah. Diguncangkannya tubuh lelaki berusia 60an tahun itu. Tidak ada gerakan naik turun di dada lelaki yang sudah lama menduda itu. Tidak dirasakannya juga hembusan nafas ketika Segara mendekatkan telapak tangan ke depan hidung sang ayah.Begitu pula saat dia menyentuh pergelangan tangan ayahnya untuk memeriksa nadinya .
"Yah ..yah ..," serunya panik sambil mengguncang-guncang tubuh sang ayah.Darah mengalir dari kepala serta membasahi pelipis dan wajah lelaki yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia jurnalistik itu.