Aroma kopi menyeruak memenuhi ruangan dimana Segara sedang dimintai keterangan oleh Arta, ketua tim penyidik kepolisian yang menangani kasus kematian Samudra.
"Silahkan diminum dulu kopinya," ujar Arta santun pada Segara yang duduk di seberang meja kerjanya.
Saat itu, sementara jenazah Samudra diotopsi di rumah sakit, dan tim Inafis dibantu beberapa anggota tim penyidik kepolisian melakukan olah TKP, Segara dan Jenar dimintai keterangan di kantor polisi.Tak hanya mereka berdua, polisi juga meminta keterangan dari Gatot, Satya serta ketua RT dan beberapa tetangga di tempat keluarga Samudra tinggal. Mereka satu per satu dimintai keterangan dalam ruangan terpisa
Segara menghela nafas panjang sambil mengusap wajah dan menyugar rambut hitamnya. Dinginnya AC di ruangan itu tak mampu menahan keringat yang membasahi kening dan punggungnya. Kematian sang ayah membuatnya sangat terpukul.Bagi Segara, Samudra bukan hanya seorang ayah tapi juga seorang teman dan sahabat.Dia bisa mengobrol panjang lebar dan mendiskusikan apa saja dengan ayahnya.Apalagi,ayahnya sebagai seorang jurnalis senior yang cerdas,kritis dan berwawasan luas,selalu bisa mengimbangi segala topik pembicaraan yang dilemparkan Segara.
"Ada hal lain yang kamu ketahui, selain apa yang sudah kamu ceritakan tadi?" tanya Arta setelah Segara menyeruput secangkir kopi yang tak lagi hangat.
Segara menggeleng. Dia merasa sudah menceritakan semua yang dia alami dan ketahui secara detail kepada Arta.
"Apakah kamu sudah pernah melihat monkey wrench itu sebelumnya?" selidik Arta.
Lagi-lagi Segara menggelengkan kepalanya.
"Aku memang pernah melihat monkey wrench dengan design unik seperti itu di toko online. Aku menyukainya. Hanya saja harganya lumayan mahal. Aku tak punya cukup uang untuk membelinya," jawab Segara jujur.
Segara memang pernah memperlihatkan foto monkey wrench berdesign unik pada Samudra beberapa waktu lalu. Namun Segara tidak tahu,bahwa Samudra diam-diam membeli monkey wrench seperti itu. Dia bermaksud memberikan monkey wrench itu sebagai hadiah wisuda Segara nantinya.
"Ting..." sebuah pesan masuk ke ponsel Arta.
Pesan dari salah satu anggota tim penyidik yang berada di lapangan.Dalam pesan itu disertakan pula hasil tes labfor. Arta sebagai ketua tim penyidik tampak manggut-manggut membaca laporan anak buahnya yang antara lain menyebutkan bahwa hasil tes labfor mengkonfirmasi, hanya ada dua sidik jari yang menempel pada barang bukti monkey wrench. Satu sidik jari milik Samudra dan satu lagi milik Segara.
Sebelum pesan itu tadi masuk, Arta juga sudah mendapat informasi dari rekan-rekan tim penyidik lainnya tentang siapa sosok Samudra.Dia adalah seorang jurnalis senior yang berdedikasi tinggi. Dia menjabat sebagai PemRed di sebuah media nasional cukup ternama. Satya selaku wakil PemRed sekaligus rekan kerja yang sangat dekat dengan Samudra, saat dimintai keterangan oleh anggota tim penyidik, mengatakan di hari-hari terakhirnya, tidak tampak perubahan sikap pada diri Samudra. Dia tetap bersemangat,ramah dan ceria seperti hari-hari biasa.
Dari semua informasi yang sudah didapat, Arta meyakini tidak mungkin seorang Samudra melakukan upaya bunuh diri dengan menghantamkan monkey wrench itu ke kepalanya sendiri
Hal itu diperkuat dengan keterangan Segara dimana posisi barang bukti monkey wrench itu pertama kali ditemukan,sebelum kemudian dipindahkan Segara ke meja kaca depan sofa.
"Apakah kamu sempat berselisih paham atau bahkan bertengkar sebelumnya dengan ayahmu?" selidik Arta."Tidak," jawab Segara tegas.
"Kami memang kadang berbeda pandangan atau pendapat mengenai suatu hal.Tapi itu hanya adu argumen biasa saja,bukan pertengkaran," lanjut kakak Jenar itu.
Selama ini hubungan antara Segara dengan Samudra dan Jenar memang baik-baik saja, tidak ada konflik. Mereka bahkan sangat rukun.Saling membantu,saling berusaha memahami.
Masih jelas dalam ingatan Segara, dua hari sebelum malam pembunuhan itu terjadi, dia dan adiknya mengantarkan Samudra membeli kemeja batik yang akan dikenakan sang ayah di hari wisuda Segara nanti.Mereka sempat bercanda dan makan sop iga di rumah makan favorite mereka. Saat makan malam itu,ayahnya sempat menasehati,agar setelah wisuda nanti Segara mencari pekerjaan di tempat lain,bukan bekerja di pabrik furniture milik Gatot, sahabatnya. Segara berasumsi positif atas apa yang disarankan ayahnya.Dia memang berniat mengikuti pelatihan aeronautika*) setelah wisuda nanti,untuk mendapat sertifikasi teknisi kedirgantaraan. Sudah sejak lama dia bermimpi bisa bekerja di bidang kedirgantaraan,menangani mesin-mesin pesawat terbang.
Arta menatap lurus ke arah manik mata Segara, saat lelaki muda calon sarjana teknik mesin itu menjawab setiap pertanyaannya, Dia seolah ingin memastikan adanya kejujuran di setiap kalimat yang keluar dari mulut anak sulung Samudra itu.
=======
"Aku dan ayah makan malam sekitar jam 8.Kami hanya berdua saja di rumah waktu itu, karena abangku belum pulang sejak pagi," tutur Jenar di ruang sebelah, dengan wajah pucat dan kelopak mata sembab,ketika dimintai keterangan oleh polisi. Bercak bekas perekat lakban yang semalam menutup mulut dan sebagian hidungnya masih samar-samar terlihat.
"Setelah membereskan meja dan mencuci peralatan makan,aku masuk ke kamar,sementara ayah menonton TV di ruang tengah," lanjutnya.
"Apa yang kamu lakukan di kamar?" tanya Bayu. Dia adalah salah satu anggota tim penyidik yang diketuai oleh Arta.