Segara dan Jenar masih berdiri terpaku di depan gundukan tanah merah bertabur bunga,tempat jasad ayah mereka dimakamkan. Jenar yang berkerudung hitam tampak begitu rapuh. Dia setengah bersandar ke tubuh kakaknya yang merangkul erat bahunya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," ujar Gatot setengah membujukk keduanya, melihat cuaca mulai mendung gelap.
Beberapa rekan sesama jurnalis dan kolega Samudra,serta teman-teman kuliah Segara dan Jenar yang ikut mengantarkan jenazah Samudra ke liang lahat sudah meninggalkan area pemakaman. Hanya tinggal Gatot, Satya, Hendra dan Markus beserta Martha - istrinya serta beberapa ibu tetangga Samudra yang masih menemani dua kakak beradik yatim piatu itu.
Baru saja mereka beranjak menuju tempat parkir pemakaman, sebuah mobil polisi muncul. Arta,Bayu dan seorang petugas polisi bernama Anton keluar dari mobil dan mendekat ke arah tempat mereka berdiri.
"Segara Radityawan,kamu kami tangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap saudara Samudra Pratama," ujar Arta dengan suara tenang dan tegas, namun terasa seperti suara petir di siang bolong di telinga Segara dan Jenar.
Segara terbelalak,begitu pula Jenar dan lainnya yang hadir disana.
Lelaki berpangkat Iptu itu kemudian menyodorkan surat penangkapan Segara,yang langsung diterima dan dibaca oleh Gatot,yang kebetulan sedang berdiri di samping Segara.
" Klik...!" suara borgol yang dipasang Bayu di kedua tangan Segara membuat anak sulung Samudra itu tersadar, bahwa yang sedang dihadapinya bukanlah mimpi !
"Apa-apaan ini ??!!" seru Segara kaget dan tak terima.
"Kamu berhak diam dan didampingi pengacara. Semua perkataanmu bisa memberatkanmu di pengadilan," ucap Bayu datar. Tangan lelaki yang juga berpangkat Iptu itu mantap memborgol Segara, namun matanya tak sanggup menatap wajah kakak Jenar itu. Ada perang batin dalam dirinya..
"Bapak-bapak tidak bisa menahan Segara begitu saja.Belum ada gelar perkara dalam kasus ini !" protes Satya berusaha membela Segara.
"Ya, bahkan hasil rekaman cctv yang polisi bawa pun kami belum melihat," sahut Hendra tak mau kalah.
"Jangan asal main tangkap,pak !" imbuh Markus emosi.
"Kami membawa surat penangkapan resmi !" tegas Arta sambil mengarahkan pandangan ke surat penangkapan yang sudah berada di tangan Gatot.
"Bawa dia sekarang !!" titahnya pada Bayu dan Anton.
"Tidak !! Tidak mungkin. Abangku bukan pembunuh....Tidak mungkin abangku membunuh ayah kami..!!" protes Jenar.
Namun ketiga polisi itu seolah tak mendengar. Mereka tetap menggelandang Segara dengan tangan terborgol, menuju mobil polisi.
"Om...om... Jangan biarkan mereka membawa bang Gara..!!" teriak Jenar menghiba pada Gatot.
"Pak Satya... tolong bang Gara...!!" pinta gadis itu diantara tangisnya.