The Monkey Wrench

Silhouette
Chapter #4

FLASHDISK

Satya keluar dari lift di lantai 3 kantor utama media nasional ternama tempatnya bekerja. Saat melintas ruang kerja Samudra yang bersebelahan dengan ruang kerjanya, dia melihat beberapa orang polisi berada disana.

Rupanya polisi sedang memeriksa ruang kerja Samudra guna mendapatkan barang bukti lain yang bisa dijadikan petunjuk terkait motif pembunuhan PemRed media nasional Karya Bangsa itu.

Sekilas Satya sempat melihat Bayu dan Anton di dalam ruangan itu. Bayu tampak sedang mengajukan pertanyaan pada Soraya,perempuan tambun namun cekatan yang sudah lima tahun ini menjadi sekretaris Samudra.

Sayup-sayup Satya mendengar suara Soraya menjawab pertanyaan Bayu :

"Saya tidak tahu,pak. Saya hanya menggatur jadwal pak Sam saja," ucap Soraya dengan tangan gemetar memegang buku agenda kerja.

Satya berlalu menuju ruang kerjanya.Dia mengabaikan rasa ingin tahunya tentang apa yang ditanyakan polisi pada Soraya, mengingat pekerjaannya yang menumpuk.Dengan meninggalnya Samudra, otomatis semua pekerjaan Samudra beralih ke tangan Satya,sebagai wakil PemRed. Hal itu tentu saja membuatnya sangat sibuk hari ini.

"Tok...tok..tok..," suara ketukan pintu mendistraksi konsentrasi Satya yang tengah berkutat dengan file-file pekerjaannya.

"Masuk, " jawab Satya tanpa mengalihkan pandangan pada pekerjaan yang sedang ditekuninya.

"Selamat siang,pak Satya. Maaf saya mengganggu," tutur Vita resepsionis kantor media Karya Bangsa,yang biasa bertugas di lantai 1.

"Ya...?" jawab Satya sedikit heran, mengapa Vita ke ruangannya. Biasanya, bila ada sesuatu yang perlu disampaikan atau ada tamu yang hendak bertemu dengannya, Vita cukup menghubungimya melalui interkom kantor.

"Sekali lagi maaf,pak. Saya kelupaan memberikan ini saat bapak datang tadi pagi," ucap Vita sambil menyodorkan bungkusan bersampul kertas kado,seukuran kotak sepatu.

"Jumat sore lalu,pak Samudra menitipkan ini ke saya,untuk diberikan ke pak Satya," lanjut Vita.


Sejak hari Rabu minggu lalu, Satya memang bertugas ke luar kota. Kamis pagi,dia sempat mengirimkan pesan ke ponsel Samudra.Dalam pesan itu,dia mengundang Samudra beserta kedua anaknya untuk makan malam di rumahnya pada hari Sabtu untuk merayakan pesta kecil-kecilan ulang tahun pernikahannya dengan Regina,istrinya.

Pesan itu sudah dibaca oleh Samudra,namun tidak dijawab. Mereka berdua belum sailing berkabar atau bertemu lagi sampai Satya menerima kabar kematian Samudra pada Sabtu dini hari.

Pada hari Sabtunya Satya memang tidak ke kantor,karena dia dimintai keterangan di kantor polisi. Dia juga ikut membantu mengurus jenazah Samudra setelah diotopsi,dan menyiapkan pemakaman Samudra yang dilaksanakan pada Minggu siang.


Pada bagian atas kado itu tertempel kartu ucapan,berbunyi :

" Happy Anniversary Regina dan Satya. Dari Samudra dan keluarga,"

Satya merasa terharu. Dia sama sekali tak menyangka, Samudra bahkan sudah menyiapkan hadiah ulang tahun perkawinannya.

======

"Ih....cantik sekali,.." ujar Regina saat mengeluarkan isi bungkusan kado dari Samudra yang dibawa Satya dari kantor.

Sebuah jam meja dari kayu berukir cantik,dengan tulisan "Happy Anniversary 15th. Regina & Satya"

Satya tersenyum sambil mengamati jam meja itu. Desainnya memang sangat unik dan estetik.

Lihat selengkapnya