Matahari bersinar cukup terik siang itu.Angin kencang menerbangkan debu,dedauan dan sampah plastik hingga bertebaran kemana-mana.Jenar tampak berada di pinggir jalan pertigaan tak jauh dari kampusnya. Susah payah dia berusaha menyalakan mesin sepeda motornya yang mogok. Keringat membasahi wajah dan punggung gadis berwajah lembut itu.Beberapa pengendara jalan sempat menoleh ke arahnya. Mereka merasa iba,namun tak sanggup membantu karena diburu waktu dan kesibukan masing-masing.
"Oalah...kempes pula ban belakangnya," gerutu Jenar saat melihat ban sepeda motornya.
Dengan frustrasi dia berjongkok di samping sepeda motornya.
"Ah,...andaikan ada bang Gara atau ayah," monolognya.
Selama ini,Jenar memang sangat bergantung pada ayah dan kakaknya.Mereka berdua adalah malaikat pelindungnya.Mereka selalu ada untuk membantunya ketika dia menghadapi kesulitan.
Sejenak Jenar menoleh ke kanan kiri,berharap ada salah seorang teman kuliahnya melintas dan dapat dimintai tolong.Namun nihil.Rasa haus dan lapar setelah sepagian mengikuti perkuliahan, membuatnya makin gelisah. Diraihnya ponsel dari dalam tasnya. Dia berusaha melihat daftar kontak, mencari siapa yang sekiranya bisa dimintai tolong. Jenar memang introvert.Dia tak punya banyak teman. Selama ini hidupnya hanya dihabiskan untuk kuliah,ke perpustakaan dan rumah.
"Mogok ?"tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat tempatnya berjongkok. Jenar merasa mengenali suara itu.
"Pak Bayu...," ujar Jenar terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di hadapannya.
Tanpa ba bi bu Bayu kemudian berusaha menyalakan mesin sepeda motor Jenar,lalu mengutak atik sepeda motor itu.
Tak lama kemudian mesin sepeda motor itu pun menyala.
"Kamu tahu tempat tambal ban di sekitar sini," tanya Bayu pada Jenar yang berdiri canggung di dekatnya.
"Ya,di ujung jalan sana," jawab Jenar sambil mengarahkan dagunya ke tempat yang dia maksud.
"Kamu pakai motorku kesana," ucap Bayu sambil menyerahkan kunci sepeda motornya ke tangan Jenar.
"Tapi,pak..." sahut Jenar.
Bayu diam. Tapi sorot matanya menunjukkan, dia tak ingin dibantah.
Akhirnya Jenar pun mengendarai sepeda motor Bayu perlahan, sementara Bayu menuntun sepeda motor Jenar menuju tempat tambal ban.
"Sudah makan ?" tanya Bayu ketika mereka menunggu antrian tambal ban.
Jenar menggeleng malu-malu.
"Kita ke seberang.Kamu mau nasi padang,kan?" tanya Bayu.
Jenar mengangguk tipis.Dia merasa canggung dan malu. Tapi rasa haus dan lapar mengalahkannya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Jenar di sela-sela makan siang mereka..