BAB 6 ; MENGHILANGNYA SAMG KAMERAMEN
Di sudut sebuah kafe di pusat kota, Edo duduk sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Mereka memintaku mengajukan pra peradilan," ucapnya.
"Tak masalah.Aku bisa mengaturnya," jawab seseorang di seberang sana.
"Bagaimana kamu bisa membuat mereka kalah dalam pra peradilan itu nantinya? Jelas-jelas kamu tak punya bukti keterlibatan Segara," sangkal Edo.
"Ada bukti sidik jari," sahut suara lelaki lawan bicara Edo.
"Ya,aku tahu.Tapi bukti itu bisa dibantah.Apalagi Segara juga sudah menjelaskan,dia memang memindahkan monkey wrench itu dari karpet ke meja," bantah Edo.
"Sudahlah.Yang penting kamu bersikap selayaknya pengacara yang baik saja.Sisanya biar aku yang atur," jawab lawan bicaranya.
"Kamu dibayar cukup besar untuk berakting sebagai 'pengacara yang baik'," imbuh lawan bicaranya ketus sebelum menutup percakapan seluler mereka.
=====
Jenar merapatkan resleting jacket nya,membetulkan letak masker yang sedari tadi dikenakannya. Setelah memasang helm,dia menyalakan mesin sepeda motornya dan mulai menelusuri jalanan dari sebuah warnet di sudut kota menuju rumah Markus,tempat dia tinggal sementara waktu selama rumahnya masih diberi garis polisi.Ini pertama kalinya dia berkendara sendirian di atas jam 9 malam.Biasanya ayahnya atau Segara yang mengantarkan bila dia ada kegiatan atau keperluan ke luar rumah di malam hari.
Perasaan Jenar bercampur aduk setelah melihat isi flashdisk pemberian Satya melalui Regina. Dari flashdisk itu dia baru mengetahui bahwa ayahnya dalam dua tiga bulan terakhir ini sedang melakukan investigasi dan menulis liputan tentang pembalakan liar di suatu daerah.
Hal itu berawal ketika Samudra sedang mengadakan liputan tentang hutan lindung di sebuah daerah terpencil. Dia tanpa sengaja menemukan sebuah 'jalan logging' baru disitu. Naluri jusnalisnya pun tergelitik. Dia kemudian melakukan investigasi dan menemukan adanya illegal logging di kawasan hutan lindung itu. Dari foto-foto dan video liputan Samudra yang ada dalam flashdisk itu, terpampang jelas pihak-pihak yang terlibat,termasuk seorang petinggi negara dan pensiunan Jendral.
"Operasi pembalakan liar itu rupanya yang menjadi motif latar belakang mereka membunuh ayah. Mereka tak ingin skandal itu tersebar ke publik," monolog Jenar dalam hati.
Menyuarakan kebenaran di negeri ini, memang besar sekali resikonya.Tak hanya diteror dan diintimidasi secara psikologis tapi juga secara fisik, seperti disiram air keras atau 'dihilangkan' tanpa jejak.
"Mereka membungkam ayah dengan cara membunuhnya,lalu menjadikan bang Gara sebagai kambing hitam," lanjut Jenar dalam hati,diantara hembusan angin dan suara mesin kendaraan yang menemaninya pulang malam itu.
"Tin...tin..tin....!!" suara klakson mengagetkan Jenar. Ternyata lampu lalu lintas yang semula berwarna merah sudah beralih ke hijau.
"Wooii...melamun Jangan di tengah jalan !" hardik pengendara mobil di belakangnya.
=====
"Lihat tuh si Jenar... sejak ditinggal ayah dan kakaknya, sekarang keluyuran sampai malam," ucap bu Susi pada suaminya,ketika melihat Jenar memasukkan sepeda motornya ke halaman rumah Markus. Saat itu kebetulan bu Susi dan pak Damar,suaminya sedang duduk-duduk di teras rumah mereka.