"Ketika usiaku menginjak lima belas tahun, aku memiliki kebiasaan baru setiap bangun tidur."
Suara Sandra yang tenang mengisi auditorium yang senyap. Dari dua ratus kursi tribun, hampir sepenuhnya terisi audiens berjas biru muda yang mendengarkan penuh khidmat, menyisakan dua kursi kosong yang menatapnya balik. Sandra melipat tangannya di dada, matanya menerawang jauh menggali ingatan.
"Aku berbaring cukup lama. Menatap langit-langit kamarku yang retak, menunggu untuk runtuh. Entah kapan, mungkin esok, mungkin lusa, atau... saat aku terlelap. Setiap aku menatapnya, pertanyaan ini selalu muncul. Apakah aku akan tetap berada di sini untuk menunggunya runtuh?"
Sandra melangkah perlahan dengan percaya diri untuk lebih dekat dengan penonton. Ketukan sepatunya bergema di auditorium. Langkahnya berhenti di ujung panggung.
"Kalian pernah merasakannya?" suaranya naik satu oktaf. "Aku masih di sini? Rutinitas yang sama lagi? Kapan aku bisa meninggalkan tempat ini? Apakah suatu hari nanti aku bisa terbangun di tempat yang benar-benar kuinginkan?"
Sandra menelusuri penontonnya satu demi satu. Beberapa mata mengalihkan tatapannya, seolah tertangkap basah menyimpan rahasia. Beberapa tersenyum samar, beberapa mengangguk pelan, dan tiga empat orang menatap kosong namun dengan mata berkaca-kaca - diam-diam setuju.
"Angkat tangan kalian," suara Sandra tenang namun menantang, "Jika pertanyaan itu pernah terlintas atau bahkan menghantui setiap pagi kalian. Masih di sini lagi?"
Beberapa tangan serentak terangkat penuh keyakinan. Mereka yang mengakui pertanyaan itu. Disusul dengan mereka yang ragu dan malu-malu hingga akhirnya terbentuk deretan tangan terangkat di udara.
Sandra menatap dengan tenang seolah sudah mengetahui jawabannya sejak awal. Kamera menyorot wajah Sandra yang tersenyum tipis, puas penuh kemenangan.
"Lihat, kalian tidak sendiri."
-00-
Sandra berdiri tegak dan dengan senyum anggun membiarkan para mahasiswa yang berhasil mencegatnya mengeluarkan ponsel masing-masing, bergiliran di sisinya.
Satu, dua, tiga. Klik.