The Mysterious Woman Behind Me

Ryu Sekigahara
Chapter #1

Bab 1 Desa Clowfitch

Pagi itu belum menyentuh tepi langit dengan cahayanya. Gelap masih membentang luas dari ujung timur hingga barat, membungkus seluruh desa Clowfitch dengan kesunyian yang hanya bisa dipecahkan oleh kokok ayam jantan yang bersahutan dari satu pekarangan ke pekarangan lainnya. Udara dingin merayap perlahan-lahan di antara dedaunan basah, menyisip masuk ke celah-celah dinding kayu rumah-rumah penduduk yang berdiri sederhana di sepanjang jalan tanah desa itu. Embun menetes pelan dari ujung-ujung daun pisang yang tumbuh rimbun di halaman-halaman rumah, jatuh ke atas tanah yang lembap dan menimbulkan bunyi halus yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia.


Desa Clowfitch bukanlah desa yang besar. Letaknya tersembunyi di balik perbukitan hijau yang menjulang tinggi di sebelah utara dan hamparan sawah yang membentang luas di sebelah selatan. Jika seseorang berdiri di atas bukit tertinggi dan memandang ke bawah, dia akan melihat desa itu tampak seperti sebuah lukisan tua yang indah dan tenang. Rumah-rumah kayu dengan atap jerami dan atap seng yang sudah berkarat tersebar di antara pepohonan besar yang rindang. Jalan-jalan tanah yang sempit berkelok-kelok di antara rumah-rumah itu, menghubungkan satu keluarga dengan keluarga lainnya dalam sebuah ikatan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun lamanya.


Di ujung barat desa, tepat di mana jalan tanah itu berbelok tajam menuju arah sawah, berdiri sebuah rumah kayu yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Rumah itu milik Regard, seorang petani yang namanya sudah dikenal oleh setiap penduduk di desa Clowfitch dan bahkan di desa-desa tetangga. Rumah itu memiliki teras depan yang luas dengan lantai papan kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Di teras itu ada sebuah kursi goyang tua yang biasa diduduki Regard setiap sore setelah pulang dari sawah, sambil memandangi matahari yang tenggelam di balik perbukitan. Di samping kursi goyang itu ada sebuah meja kecil yang di atasnya selalu ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.


Regard adalah seorang pria berusia lima puluh tiga tahun dengan tubuh yang masih tegap dan kuat meskipun rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis. Kulitnya berwarna cokelat gelap, dibakar oleh matahari selama puluhan tahun bekerja di sawah. Tangannya besar dan kasar, penuh dengan kapalan yang menjadi bukti betapa kerasnya dia bekerja sepanjang hidupnya. Matanya kecil namun tajam, selalu memancarkan kehangatan ketika menatap orang-orang yang dia sayangi, terutama anak perempuan satu-satunya, Lucy.


Tidak ada seorang pun di desa Clowfitch yang meragukan kemampuan Regard dalam mengelola sawah. Dia adalah petani padi terbaik yang pernah dimiliki desa itu. Sawahnya selalu menghasilkan padi yang melimpah setiap kali musim panen tiba, sementara sawah-sawah milik petani lainnya terkadang gagal panen karena serangan hama atau kekeringan. Regard memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tanah, tentang air, tentang angin, dan tentang semua hal yang berhubungan dengan pertanian. Pengetahuan itu tidak dia dapatkan dari buku atau dari sekolah pertanian mana pun. Dia mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari kakeknya, dan begitu seterusnya hingga ke generasi-generasi yang sudah tidak bisa lagi ditelusuri jejaknya.


***


Karena keahliannya itulah, warga desa Clowfitch secara bulat memilih Regard sebagai ketua tim petani desa. Jabatan itu bukanlah jabatan yang mewah atau menghasilkan banyak uang. Tidak ada gaji tetap yang diterima Regard setiap bulannya karena menjadi ketua tim petani. Tidak ada kantor besar dengan pendingin ruangan yang bisa dia gunakan untuk bekerja. Yang ada hanyalah tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa semua petani di desa Clowfitch bisa menghasilkan padi yang cukup untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing.


Regard menjalankan tanggung jawab itu dengan penuh dedikasi. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, dia sudah berada di sawahnya sendiri, memeriksa kondisi tanaman padinya, memastikan bahwa aliran air irigasi berjalan dengan lancar, dan mengamati tanda-tanda cuaca yang bisa mempengaruhi pertumbuhan padi. Setelah itu, dia akan berkeliling ke sawah-sawah milik petani lainnya, memberikan saran dan bantuan kepada siapa pun yang membutuhkannya. Dia tidak pernah menolak ketika ada petani yang datang ke rumahnya di malam hari untuk meminta nasihat tentang tanaman mereka yang terserang penyakit atau tentang waktu yang tepat untuk menanam bibit baru.


"Tanah itu seperti manusia," kata Regard suatu kali kepada para petani yang berkumpul di rumahnya untuk rapat bulanan. "Kalau kita memperlakukan tanah dengan baik, tanah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Tapi kalau kita merusaknya, tanah akan marah dan tidak mau memberikan apa-apa."


Para petani mengangguk-angguk mendengar kata-kata Regard. Mereka percaya sepenuhnya kepada pria tua itu karena mereka sudah melihat sendiri buktinya selama bertahun-tahun. Sawah milik Regard selalu menjadi yang paling subur, paling hijau, dan paling banyak menghasilkan padi di antara semua sawah di desa Clowfitch.


***


Di rumah besar itu, Regard tinggal bersama istrinya yang bernama Marta. Marta adalah wanita yang pendiam namun sangat perhatian. Dia tidak banyak bicara, tidak seperti wanita-wanita lain di desa yang suka bergosip di pasar setiap pagi. Marta lebih suka menghabiskan waktunya di dapur, memasak makanan untuk keluarganya, atau di halaman belakang rumah, merawat tanaman-tanaman obat yang tumbuh subur di sana. Dia menanam jahe, kunyit, lengkuas, sereh, dan berbagai jenis tanaman herbal lainnya yang sering digunakan oleh penduduk desa untuk mengobati berbagai macam penyakit ringan.


Regard dan Marta memiliki seorang anak perempuan. Namanya Lucy.


Lucy lahir di rumah itu pada suatu malam yang hujannya sangat deras sehingga sungai kecil di belakang rumah nyaris meluap. Marta melahirkan Lucy dengan dibantu oleh dukun beranak desa yang bernama Bu Siti, seorang wanita tua yang sudah membantu kelahiran hampir semua anak di desa Clowfitch selama tiga puluh tahun terakhir. Ketika tangisan pertama Lucy memecah keheningan malam itu, Regard yang menunggu di teras dengan gelisah langsung berlari masuk ke dalam kamar. Dia melihat bayinya yang mungil dan merah, menangis keras dengan tangan-tangan kecilnya yang mengepal erat. Air mata Regard menetes jatuh ke atas pipinya yang kasar. Itu adalah pertama kalinya para tetangga melihat Regard menangis.


"Namanya Lucy," kata Regard kepada Marta yang berbaring kelelahan di atas tempat tidur. "Seperti ibuku."


Marta tersenyum lemah dan mengangguk. Dia memeluk bayinya yang masih menangis itu dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sejak saat itu, Lucy menjadi pusat dari segala sesuatu yang dilakukan Regard dan Marta. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kerja keras yang mereka lakukan, semuanya untuk Lucy.


***


Lucy tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pekerja keras, persis seperti kedua orang tuanya. Rambutnya panjang dan hitam berkilau, tergerai hingga ke punggungnya. Kulitnya berwarna sawo matang, halus dan bersih meskipun dia menghabiskan banyak waktunya di bawah terik matahari. Matanya bulat dan besar, berwarna cokelat gelap, selalu memancarkan kebaikan dan ketulusan. Senyumnya hangat, seperti sinar matahari pagi yang menyentuh permukaan embun di atas daun-daun padi.


Sejak kecil, Lucy sudah terbiasa membantu ayahnya di sawah. Ketika anak-anak perempuan lain di desa bermain boneka atau berlarian di halaman rumah mereka, Lucy sudah belajar cara menanam bibit padi, cara mencabut rumput liar yang tumbuh di antara tanaman padi, dan cara mengatur aliran air di saluran irigasi. Regard mengajari semua itu dengan sabar, tidak pernah membentak atau memarahi Lucy meskipun gadis kecil itu sering melakukan kesalahan.


"Tidak apa-apa," kata Regard sambil tersenyum ketika Lucy kecil tidak sengaja menginjak beberapa batang padi yang baru ditanam. "Yang penting kamu sudah berusaha. Besok kita coba lagi."


Lucy mengangguk dengan mata berkaca-kaca, merasa bersalah karena telah merusak tanaman ayahnya. Tapi Regard segera mengangkat tubuh kecil Lucy dan mendudukkannya di atas bahunya yang lebar. Dari atas bahu ayahnya, Lucy bisa melihat seluruh hamparan sawah yang membentang luas di bawahnya, hijau dan berkilauan di bawah sinar matahari.


"Lihat itu semua," kata Regard sambil menunjuk ke arah sawah-sawah yang membentang hingga ke kaki bukit. "Suatu hari nanti, kamu akan bisa merawat semua itu sendiri. Ayah yakin."


Lucy tersenyum lebar dan memeluk kepala ayahnya dengan tangan-tangan kecilnya. Dia merasa menjadi anak paling beruntung di seluruh dunia karena memiliki ayah seperti Regard.


***


Tahun demi tahun berlalu. Lucy tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang semakin cantik dan semakin cekatan dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah dan pekerjaan di sawah. Dia bisa memasak hampir semua masakan yang biasa dimasak oleh ibunya, mulai dari nasi goreng sederhana hingga rendang daging yang memerlukan waktu berjam-jam untuk memasaknya. Dia juga bisa menjahit bajunya sendiri, memperbaiki atap rumah yang bocor, dan bahkan membantu ayahnya memperbaiki cangkul yang patah.


Di desa Clowfitch, pendidikan formal bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan. Sekolah terdekat terletak di kota kecil yang berjarak sekitar sepuluh kilometer dari desa. Untuk sampai ke sana, seseorang harus berjalan kaki melewati jalan tanah yang berliku-liku di antara perbukitan dan hutan. Regard dan Marta menginginkan Lucy mendapatkan pendidikan yang baik, jadi setiap pagi mereka mengantar Lucy ke ujung desa di mana sebuah angkutan umum tua menunggu untuk membawa anak-anak desa ke sekolah di kota.


Lucy bukanlah siswa yang paling pintar di kelasnya, namun dia adalah siswa yang paling tekun. Dia selalu mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan sungguh-sungguh, tidak pernah menyontek, dan tidak pernah bolos sekolah meskipun terkadang dia harus berangkat dalam keadaan hujan deras yang membasahi seluruh tubuhnya. Guru-gurunya menyayanginya karena sikapnya yang sopan dan rendah hati. Teman-temannya menyukainya karena dia selalu bersedia membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan.


Namun di balik senyumnya yang hangat dan sikapnya yang ramah, Lucy adalah gadis yang pendiam. Dia tidak memiliki banyak teman dekat. Bukan karena dia tidak disukai oleh teman-temannya, melainkan karena dia lebih suka menghabiskan waktunya sendiri, duduk di bawah pohon mangga besar di halaman sekolah sambil membaca buku-buku cerita yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Dia suka membaca kisah-kisah tentang petualangan di negeri-negeri yang jauh, tentang putri-putri cantik yang diselamatkan oleh pangeran tampan, dan tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi di tempat-tempat yang tidak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya.


"Lucy, kamu tidak mau main dengan kami?" tanya salah seorang teman sekelasnya suatu hari.


Lucy menggeleng pelan dan tersenyum. "Terima kasih, tapi aku sedang membaca buku yang sangat seru. Kalian main saja duluan."


Temannya mengangkat bahu dan berlari pergi untuk bergabung dengan anak-anak lainnya yang sedang bermain di lapangan. Lucy kembali menundukkan kepalanya ke atas halaman buku yang terbuka di pangkuannya, tenggelam dalam dunia imajinasi yang terasa jauh lebih menarik daripada dunia nyata di sekelilingnya.


***


Ketika Lucy berusia dua puluh satu tahun, sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya terjadi. Sesuatu yang mengubah hidupnya selamanya.


Saat itu adalah musim panen. Sawah-sawah di seluruh desa Clowfitch berubah warna dari hijau menjadi kuning keemasan, menandakan bahwa padi sudah siap untuk dipanen. Seluruh penduduk desa sibuk bekerja di sawah mereka masing-masing, memotong batang-batang padi dengan sabit yang tajam, mengikatnya menjadi berkas-berkas besar, dan mengangkutnya ke rumah-rumah mereka untuk dikeringkan di bawah terik matahari.


Regard tentu saja menjadi yang paling sibuk. Selain harus memanen padinya sendiri, dia juga harus mengkoordinasikan pekerjaan seluruh tim petani desa untuk memastikan bahwa proses panen berjalan dengan lancar dan tidak ada padi yang terbuang sia-sia. Lucy membantu ayahnya setiap hari, berangkat ke sawah sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Tubuhnya lelah, punggungnya sakit, dan tangannya penuh dengan luka-luka kecil dari batang-batang padi yang tajam, namun dia tidak pernah mengeluh.


Pada suatu sore, ketika Lucy sedang mengikat berkas-berkas padi di tepi sawah, dia melihat seseorang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Seorang pemuda berdiri di pinggir jalan tanah yang membatasi sawah milik ayahnya, memandangi hamparan sawah yang membentang luas di hadapannya dengan tatapan yang tampak kagum dan takjub. Pemuda itu mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga ke siku, celana panjang berwarna khaki, dan sepatu kets yang sudah kotor terkena debu jalanan. Rambutnya hitam dan sedikit berantakan karena tertiup angin. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas dan mata yang berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.


Lucy memperhatikan pemuda itu dari kejauhan sambil terus mengikat berkas-berkas padi. Ada sesuatu tentang pemuda itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Mungkin karena pemuda itu jelas-jelas bukan orang desa. Pakaiannya terlalu rapi, sepatunya terlalu bersih meskipun sudah kotor terkena debu, dan caranya berdiri terlalu tegap, seperti orang yang terbiasa hidup di kota besar dan baru pertama kali melihat sawah.


"Lucy, kamu lihat apa?" tanya Regard yang berjalan mendekati anaknya sambil membawa seikat padi besar di bahunya.


Lucy tersentak dan segera mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. "Tidak, Ayah. Tidak ada apa-apa."


Regard mengikuti arah pandangan Lucy sebelumnya dan melihat pemuda asing itu berdiri di pinggir jalan. Regard menyipitkan matanya, memperhatikan pemuda itu dengan seksama.


"Siapa itu?" gumam Regard lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lucy. "Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya di desa ini."


***


Pemuda itu bernama Ray.


Ray datang ke desa Clowfitch bukan karena kebetulan. Dia datang karena sebuah keputusan yang sudah dia pikirkan selama berbulan-bulan lamanya. Ray berasal dari kota besar yang terletak ratusan kilometer dari desa Clowfitch. Dia tumbuh besar di sebuah apartemen kecil di lantai tujuh sebuah gedung tua yang terletak di pusat kota. Ayahnya adalah seorang pegawai kantoran yang bekerja dari pagi hingga larut malam setiap hari. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar yang selalu pulang ke rumah dengan wajah lelah dan suara yang serak karena terlalu banyak berbicara di kelas.


Ray tidak pernah mengenal kehidupan di desa. Dia tidak pernah melihat sawah, tidak pernah mendengar suara jangkrik di malam hari, tidak pernah merasakan embun pagi yang menetes dari daun-daun di atas kepalanya. Hidupnya selalu dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi yang menjulang, jalanan aspal yang dipenuhi kendaraan bermotor, dan suara-suara bising yang tidak pernah berhenti selama dua puluh empat jam penuh.


Setelah lulus dari universitas dengan gelar di bidang sastra, Ray bekerja di sebuah perusahaan penerbitan kecil di kota. Pekerjaannya adalah mengedit naskah-naskah buku yang akan diterbitkan. Pekerjaan itu tidak buruk, gajinya cukup untuk membiayai hidupnya sehari-hari, dan rekan-rekan kerjanya cukup menyenangkan. Namun ada sesuatu yang selalu mengganjal di hati Ray. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak lengkap, tidak utuh, seperti sebuah teka-teki yang masih kehilangan satu kepingannya yang paling penting.

Lihat selengkapnya