The Nerd Theory (Ketika Si Kutubuku Jatuh Cinta)

Windy Tyas Patriandika
Chapter #2

Chapter Pilot [Part 1]

GUYS, aku akan menceritakan sebuah kisah yang luar biasa tentang bagaimana aku jatuh cinta pertama kali. Namun, sebelum itu, perkenalkan dulu, nama aku adalah Windy Tyas Patriandika[1]. Dan, aku adalah seorang cowok nerd, atau kalau dalam bahasa Indonesia disebutnya kutubuku.

        Kembali ke tahun 1999, tahun di mana hidup aku terasa membanggakan sekali. Karena selain, berhasil mendapatkan nilai NEM[2] yang bagus, aku juga diterima di salah satu SMP Negeri favorit di kota Surabaya. Pada zaman itu, diterima di sekolah Negeri, apalagi yang favorit adalah sebuah prestasi yang membanggakan. Karena untuk bisa diterima di sana, kita harus mengalahkan ratusan, atau bahkan, ribuan orang dalam sebuah sistem seleksi penerimaan murid baru berdasarkan nilai NEM. Sehingga hal itu memunculkan persepsi di masyarakat bahwa murid-murid di sekolah Negeri, terutama yang favorit adalah murid-murid yang pintar, high IQ, dan memiliki prospek[3] yang cerah.

        Persepsi di masyarakat itulah yang lalu mempengaruhi aku, sehingga merubah cara aku dalam menjalani hidup. Pertama, aku yang tadinya pemalu, berubah menjadi norak sejak mengenakan seragam SMP. Demi agar bet SMP aku bisa selalu terlihat jelas oleh khalayak ramai, aku sudah tidak pernah lagi mengenakan jaket. Dan, yang kedua, aku berubah menjadi lebih ambisius dari sebelumnya. Jika dulu sewaktu SD, aku berambisi ingin selalu masuk rangking lima besar di kelas. Tetapi, sekarang, karena ingin membuktikan diri ke orang-orang, terutamanya ke teman-teman sekelas aku bahwa aku itu memang layak diterima di SMP Negeri favorit ini aku pun berambisi ingin menjadi alpa male[4] di kelas. Dan, demi untuk bisa mewujudkan ambisi tersebut, aku melakukan lumayan banyak hal. Dari mulai aktif berinteraksi dengan guru, sampai aktif maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. Dari mulai inisiatif membantu menghapus tulisan di papan tulis, sampai inisiatif membawakan kertas lembar jawaban ujian, atau buku LKS[5] teman-teman sekelas dari ruang kelas ke ruang guru, atau sebaliknya. Dari mulai keranjingan[6] mengingatkan guru kalau ada PR, sampai keranjingan menjawab, ‘Iya!’ setiap kali ada guru yang bertanya di depan kelas. Contohnya seperti, bertanya, ‘Anak-anak, soal essay yang ada di buku LKS, dari mulai halaman 10 sampai dengan halaman 109 dibuat PR, ya? Dan, besok pagi, sudah harus dikumpulin di atas meja kerja saya’, atau bertanya, ‘Anak-anak, pertemuan selanjutnya kita ujian, ya?’. Atau, yang menjadi favorit aku: bertanya begini, ‘Anak-anak, ini kan ada beberapa materi pelajaran yang belum sempat saya jelaskan kepada kalian. Jadi, gimana kalau sepulang sekolah nanti, kita adakan kelas tambahan? Gak akan lama kok, paling cuma sekitar sejam. Gimana? Apakah semuanya setuju?’, yang sontak aja langsung aku jawab dengan suara lantang dan mantap, ‘Iya, setuju! SETUJU BANGET MALAH! Bahkan, kalau bisa dilebihlamakan lagi aja, Bu![7] Biar kita semua bisa lebih optimal lagi dalam memahami materi pelajarannya! Dibikin menjadi lima jam, misalnya’[8]

Efeknya seperti yang udah diduga, baru sekolah beberapa minggu saja, guru-guru yang mengajar di kelas aku sudah hafal nama aku. Namun, yang mengherankannya adalah semakin lama, aku semakin merasa dikucilkan oleh teman-teman sekelas. Contohnya seperti, saat ada jeda waktu kosong selama satu setengah jam di antara jadwal pulang sekolah dengan jadwal masuk lab. Komputer. Waktu itu, tanpa sepengetahuan aku, seluruh teman-teman sekelas aku berkumpul di rumahnya Fira, yang letaknya itu tak jauh dari sekolah dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di sana, mereka having fun banget: nonton TV, ngobrol, haha-hihi, ghibah, baca majalah, main kartu[9], dan rujakan buah. Sedangkan, aku, yang menjadi satu-satunya orang di kelas yang tidak diajakin, menghabiskan jeda waktu kosong selama satu setengah jam itu dengan cara duduk lesehan di lantai, depan ruangan lab. Komputer sambil plonga-plongo, luntang-lantung tak jelas, dan juga merasa kelaparan. Rasanya sungguh sangat nelangsa sekali pada saat itu. Bahkan, saking nelangsanya, aku sampai curhat ke pak Widodo, OB[10] sekolah. Namun, sayangnya, dia tidak membantu sama sekali. Baru juga aku curhat sebentar, dia sudah memotongnya, berkata, ‘Kamu mah masih mending itu. Lha aku…’. Lalu, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja berubah malah jadi dia yang curhat kepada aku. Mana dia curhatnya itu berlebihan sekali. Pakai acara menangis sesegukan segala sambil bolak-balik mengusapkan ingusnya ke lengan baju seragam sekolah aku, hingga akhirnya aku berkata, ‘Pak, sudah, Pak. Sudah. BAJU SAYA SUDAH BAU, PAK!’

Lihat selengkapnya